Alt Title

Skeptisisme Gen Z: Bukan Lemah, Melainkan Awal Titik Balik Perlawanan

Skeptisisme Gen Z: Bukan Lemah, Melainkan Awal Titik Balik Perlawanan



Tekanan kehidupan yang bertubi-tubi membuat Gen Z tidak menyerah total

tetapi muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik dan peluang perubahan menuju masyarakat yang lebih ideal dan peradaban yang lebih adil


______________________


Penulis Yulianti Eris Sarifah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Muslimah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Belakangan ini, label "generasi stroberi" atau generasi yang lembek begitu lekat disematkan pada Generasi Z. Dianggap gampang rapuh, hobi mengeluh di media sosial, hingga dituduh minim daya juang oleh generasi di atasnya. 


Namun, benarkah kecemasan massal yang melanda anak-anak muda hari ini murni karena mental mereka yang lemah, ataukah ada sistem yang jauh lebih besar yang sedang gagal melindungi masa depan mereka?


Faktanya, kondisi psikis anak muda hari ini memang sedang berada di titik yang mengkhawatirkan. Dilansir dari data GoodStats (08-04-2026), sebanyak 60 persen Gen Z di Indonesia mengaku merasa cemas akan masa depan mereka, terutama terkait ketidakpastian finansial dan karier. 


Angka ini sejalan dengan ulasan Kompas.id (18-06-2026) yang menyebutkan bahwa remaja saat ini berada di ambang krisis kesehatan mental yang nyata. Tekanan konstan dari media sosial, tuntutan sosial yang tak masuk akal, hingga bayang-bayang depresi makin hari kian mengintai mereka.


Laporan dari Tirto.id (12-03-2026) juga menegaskan bahwa Indonesia kini tengah dibayangi oleh eksistensi "generasi cemas", di mana anak-anak muda makin rentan mengalami gangguan mental akut akibat beban hidup yang kian kompleks.


Fenomena ini nyatanya bukan sekadar masalah lokal, melainkan sebuah gejala global. Seperti yang dirilis oleh Kompas.id (27-02-2026), saat ini ada ratusan juta Gen Z di seluruh dunia yang menganggur dan terjebak dalam ketidakpastian masa depan. Realitas ekonomi yang sulit ini memaksa mereka bersikap lebih skeptis terhadap narasi kesuksesan yang selama ini didengungkan.


Di tengah kondisi yang serbasalah itu, ruang gerak mereka pun kerap dipersempit oleh penilaian sepihak. Menurut laporan dari Mojok.co (30-04-2026), Gen Z sering kali dicap serbasalah oleh generasi milenial maupun generasi di atasnya—alih-alih dipahami, mereka justru dihujani stigma negatif seolah-olah depresi yang mereka alami adalah kesalahan pribadi.


Jika dianalisis secara mendalam, krisis multidimensi yang melanda dunia hari ini merupakan pemicu utama dari kecemasan massal tersebut. Potensi besar Gen Z sebagai pemuda perlahan dilemahkan oleh peradaban sekuleristik-kapitalistik yang merusak jati diri mereka. Industri hiburan, budaya konsumerisme, dan tekanan ekonomi memaksa mereka menjadi roda penggerak sistem yang materialistis.


Di sisi lain, terjadi pengabaian nyata atau minimnya riayah (pengurusan) negara terhadap pembinaan generasi muda. Alih-alih dirangkul, diberikan kepastian lapangan kerja, dan difasilitasi kesehatan mentalnya, mereka justru sering ditinggalkan sendirian menghadapi kerasnya persaingan hidup.


Namun, di sinilah letak menariknya. Tekanan yang bertubi-tubi ini tidak lantas membuat Gen Z menyerah total. Dari rahim depresi dan kecemasan tersebut, kini muncul gelombang resistensi yang diprediksi mampu menjadi titik balik bagi generasi ini.


Sebagaimana disoroti dalam analisis Kompas.id (25-05-2026) mengenai gelombang resistensi Gen Z, sikap kritis dan skeptisisme mereka mulai mewujud menjadi gerakan nyata. Rasa tidak puas terhadap sistem yang ada mengubah kecemasan mereka menjadi peluang perubahan untuk bangkit menuju kondisi masyarakat yang lebih ideal. Mereka mulai mempertanyakan struktur sosial yang timpang dan mencari alternatif tata kehidupan yang lebih adil.


Di tengah kebuntuan solusi sekuler, Islam hadir membawa konstruksi yang fundamental atas krisis yang melanda peradaban hari ini. Sebagai aturan hidup yang komprehensif, penerapan Islam secara kafah terbukti mendatangkan rahmatan lil 'alamin, yang mampu membawa ketenangan jiwa sekaligus keselamatan hidup bagi seluruh umat manusia. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan Allah Swt. di dalam firman-Nya:


"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam." (QS Al-Anbiya: 107)


Islam tidak memandang pemuda sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai pilar peradaban. Sejarah mencatat bagaimana karakter generasi muda di masa kejayaan Islam sangat kuat; mereka memiliki kepribadian Islam yang matang sekaligus cakap dalam berbagai bidang keilmuan mutakhir.


Kuncinya terletak pada kehadiran negara yang berfungsi sebagai pelindung (junnah) dan pelayan (khadim) bagi rakyatnya, guna memastikan pemenuhan kebutuhan dasar dan ketenteraman jiwa setiap individu. Mengenai fungsi pemimpin atau negara sebagai pengurus rakyat ini, Rasulullah saw. bersabda:


"Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari)


Dalam konsep politik Islam, negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan hidup, akses pendidikan berkualitas yang gratis, serta lapangan kerja secara adil dan merata, sehingga faktor pemicu kecemasan sistemik dapat dihilangkan. Oleh karena itu, sudah saatnya menyadarkan pemuda hari ini untuk tidak terjebak dalam lingkaran kesehatan mental tanpa ujung, melainkan mulai mengemban mabda (ideologi) Islam.


Dengan menumbuhkan kepedulian yang tinggi terhadap kondisi umat dan bergerak melakukan perubahan hakiki. Maka masa depan emas yang dicita-citakan bukan lagi sebatas angan-angan kosong belaka. [EA/MKC]