Alt Title

Mahalnya Biaya Pendidikan di Era Kapitalisme

Mahalnya Biaya Pendidikan di Era Kapitalisme



Ciri paling utama dari sistem pendidikan Islam adalah tauhid

Semua ilmu dikembalikan kepada Allah

___________________________________


Penulis Siti Rahmawati 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Adanya pengakuan terkait transaksi jual beli seragam di sekolah negeri, Kepala Dinas Pendidikan Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga (Disdikbudpora) untuk segera menertibkan seluruh satuan pendidikan agar tidak terlibat dalam bisnis penjualan baju seragam maupun bahan ajar kepada peserta didik maupun orang tua siswa. (Kompas.com, 25-6-2026)


Bagi sebagian orang paham bahwa menjelang tahun ajaran baru, rasa cemas itu datang lagi. Bukan cuma soal beli buku dan seragam, tapi juga soal pertanyaan besar yang sama setiap tahun: anak mau disekolahkan di mana. 


Semua orang tua sebetulnya ingin hal yang sederhana. Ingin anaknya belajar di tempat yang gurunya peduli, fasilitasnya cukup, lingkungannya aman, dan ilmunya bisa mengantar anak ke masa depan yang lebih baik. Namun, untuk mendapatkan itu sekarang rasanya makin sulit diraih.


Biaya pendidikan terus merangkak naik. Sekolah-sekolah swasta yang dianggap "bagus" memasang harga yang membuat banyak kepala pusing. Uang pangkal belasan juta, SPP jutaan per bulan, belum lagi biaya buku, kegiatan, dan seragam yang tidak pernah berhenti. Alasannya bisa dimengerti. Sekolah butuh membayar guru yang kompeten, membangun laboratorium, menyediakan fasilitas sekolah yang memadai. Tapi kenyataannya, harga itu menjadi tembok tinggi bagi keluarga kelas menengah. 


Di sisi lain ada sekolah negeri. Secara aturan ia gratis. Tidak ada SPP, tetapi "gratis" itu tidak sepenuhnya gratis. Masih ada biaya seragam, buku, iuran, les tambahan dan yang paling menyulitkan adalah pintunya. 


Sejak sistem zonasi diberlakukan, rumah menjadi penentu. Jarak 500 meter bisa jadi pembeda antara diterima atau ditolak. Anak yang nilainya tinggi bisa kalah dengan anak yang rumahnya lebih dekat. Anak dari luar kota yang dulunya bisa masuk lewat jalur prestasi, sekarang harus berhenti karena beda zona.


Niat awalnya baik untuk meratakan. Namun, yang terjadi justru kepanikan baru. Harga rumah dan kontrakan di sekitar sekolah favorit melambung. Orang tua rela pindah alamat demi selembar bangku. Sekolah yang dulunya bisa diakses siapa saja karena prestasi, kini hanya bisa diakses mereka yang tinggal di zona itu.


Di sinilah orang tua merasa terjepit. Mau ke sekolah negeri, jalannya tertutup zonasi. Mau ke sekolah swasta bagus, biayanya tidak sanggup. Mau ke swasta yang lebih murah, muncul rasa takut. Takut anaknya tidak dapat kualitas yang sama, takut tidak mendapatkan pendidikan yang baik. 


Akhirnya banyak yang memilih jalan memaksakan diri. Menabung dari jauh-jauh hari, mengambil cicilan, memotong pengeluaran lain, hanya supaya anak bisa sekolah di tempat yang dianggap layak. Ada juga yang akhirnya pasrah, menerima sekolah yang ada dan berharap semuanya akan baik-baik saja.


Masalah ini terus bergulir setiap tahun, selama kualitas sekolah negeri di setiap daerah belum setara, maka orang tua tidak akan pernah berhenti mencari. Mereka akan tetap mengejar sekolah yang "terbaik" dengan segala cara. Zonasi tidak akan terasa adil jika isinya masih timpang. Biaya tidak akan terasa mahal jika semua sekolah memberikan rasa aman yang sama bagi masa depan anak.


Jadi tahun ajaran baru ini bukan hanya soal penerimaan murid baru. Ini soal harapan orang tua yang sedang diuji. Diuji antara ingin memberikan yang terbaik dengan kenyataan biaya yang makin tinggi dan pilihan yang makin sempit.


Akibat mahalnya biaya pendidikan, maka sedikit penduduk Indonesia yang mengenyam bangku sekolah. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) 2025 tingkat pendidikan di Indonesia didominasi tamatan SD (sekitar 22-24%) dan SMA/SMK (sekitar 31-36%). Secara keseluruhan, rata-rata lama sekolah penduduk usia produktif baru mencapai 9,22 tahun. Persentase penduduk yang menamatkan pendidikan tinggi masih berada di kisaran 11%. 


Rendahnya jumlah penduduk yang sekolah pendidikan menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan sangat sulit terutama pendidikan tinggi.


Peran pemerintah dalam permasalahan pendidikan seakan tidak mau tahu, biaya pendidikan dan sistem penerimaan murid yang berubah-ubah tidak memberi dampak yang baik bagi masyarakat, serta kurikulum yang terus diganti sesuai dengan kepentingan pemerintah bukan sesuai dengan kebutuhan pendidikan masyarakat.


Masalah ini akan terus berlanjut, akibat diterapkannya kapitalisasi pendidikan yang menjadikan pendidikan sebagai komoditas ekonomi sehingga menjadi mahal, sulit dijangkau oleh seluruh masyarakat. Dunia pendidikan dalam sistem kapitalisme diposisikan sebagai bisnis yang bertujuan untuk meraih keuntungan, hal ini sesuatu yang lumrah karena kapitalisme memposisikan pendidikan bukan sebagai kebutuhan dasar manusia. Alhasil, negara tidak mampu memberikan biaya pendidikan "gratis", berkualitas dan merata ke seluruh masyarakat.


Biaya pendidikan yang harusnya bisa dipenuhi dengan SDA, malah habis dikuasai oleh penguasa dan pengusaha asing dan aseng yang tidak memperdulikan kepentingan dan kesejahteraan rakyatnya.


Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar urusan transfer ilmu dari guru ke murid. Ia adalah perjalanan panjang untuk membentuk manusia seutuhnya. Tujuannya bukan hanya melahirkan orang pintar, tapi melahirkan manusia yang bertakwa, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama. 


Sejak awal Islam datang, Rasulullah sudah meletakkan fondasi ini. Wahyu pertama yang turun adalah "Iqra" yang artinya bacalah. Dari satu kata itu lahir semangat untuk belajar, meneliti, dan memahami dunia. Sejak saat itu umat Islam tidak pernah memisahkan antara ilmu agama dan ilmu dunia. Keduanya berjalan beriringan. Belajar matematika, kedokteran, astronomi dianggap ibadah jika niatnya karena Allah. Begitu juga menghafal Al-Qur’an, memahami fikih, dan mempelajari sejarah para nabi dianggap sebagai bekal untuk hidup di dunia dan akhirat.


Ciri paling utama dari sistem pendidikan Islam adalah tauhid. Semua ilmu dikembalikan kepada Allah. Anak diajarkan bahwa setiap yang dipelajari punya tujuan. Belajar bukan untuk nilai, bukan untuk ijazah, bukan untuk gengsi. Belajar adalah cara mengenal Allah melalui tanda-tanda-Nya di alam semesta. 


Karena itu, guru dalam Islam punya kedudukan yang sangat mulia. Guru bukan hanya pengajar, tapi juga pendidik dan teladan. Hubungan guru dan murid dibangun di atas adab, rasa hormat, dan kasih sayang, bukan hanya hubungan transaksional di kelas.


Kurikulum dalam pandangan Islam bersifat menyeluruh. Metodenya pun sangat manusiawi. Islam menekankan pembelajaran bertahap sesuai usia dan kemampuan. Semua dilakukan lewat teladan dan pembiasaan. Rumah sebagai madrasah pertama menjadi benteng kuat bagi pendidikan anak, dan kondisi lingkungan masyarakat tercipta oleh negara yang memberikan ruang nyaman serta pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat.


Dalam Islam pendidikan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi bagi setiap individu. Hal ini tertuang dalam Muqaddimah Dustur pasal 73 karya Syekh Taqiyuddin an Nabhani " Negara wajib menyelenggarakan pendidikan berdasarkan apa yang dibutuhkan manusia di dalam kancah kehidupan bagi setiap individu, baik laki-laki maupun perempuan dalam dua jenjang, yakni pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Negara wajib menyelenggarakan pendidikan bagi seluruh warga negara secara cuma-cuma. Mereka diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melanjutkan pendidikan tinggi secara cuma-cuma."


Jaminan biaya pendidikan yang gratis secara cuma-cuma didapatkan dari kas Baitulmal yang mengoptimalkan dari pos-pos pemasukannya terutama dari sumber daya alam yang dikelola oleh negara dan dikembalikan untuk kemaslahatan masyarakat.


Pemenuhan pendidikan dalam Islam harus terpenuhi karena bukan untuk menjadikan individu itu cerdas atau berilmu saja, tetapi juga mempunyai adab, akhlak dan ilmu yang bisa mendekatkan ibadah hambanya pada Sang Pencipta sehingga setiap individu menjadi umat terbaik yang rahmatan lil'alamiin yang membawa kemaslahatan seluruh penjuru dunia. Wallahualam bissawab.