Alt Title

Generasi Muda Darurat Mental Health

Generasi Muda Darurat Mental Health




Dalam kehidupan Islam

masyarakat mendapatkan pendidikan yang berbasis akidah Islam yang mencetak orang-orang bermental kuat

______________________________


Penulis Siti Rahmawati 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Negara Indonesia dalam bayang-bayang generasi cemas, anak makin rentan depresi. Hasil CKG menunjukkan hampir 10 persen atau sekitar 700 ribu anak di Indonesia memiliki gejala gangguan kesehatan jiwa berupa kecemasan dan depresi. (www.tirto.id, 12-3-2026)


Indonesia Emas 2045 bisa menjadi "Indonesia cemas", jika generasi muda sebagai generasi masa depan bangsa menghadapi gangguan kecemasan dan depresi. Kondisi ini bukan merupakan wacana palsu, tetapi sebuah peringatan serius mengenai kondisi kesehatan jiwa anak di Indonesia.


Menurut data CKG (cek kesehatan gratis) periode 2025-2026 menyasar sekitar 7 juta anak. Hasilnya menunjukkan bahwa 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak mengalami gejala cemas (anxiety disorder), sementara 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi (depression disorder).


Dari data-data tahun sebelumnya Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menyoroti kesehatan jiwa sebanyak 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan mental. Dari jumlah tersebut sebanyak 62,19 persen mengalami kekerasan fisik, emosional, atau seksual dalam 12 bulan terakhir. 


Selain itu, data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 mengungkapkan satu dari dua puluh remaja atau 5,5 persen memenuhi kriteria gangguan mental yang harus mendapat perhatian serius karena dapat berujung pada kematian akibat bunuh diri, bahkan kasus bunuh diri pada anak Indonesia termasuk tertinggi di Asia Tenggara. 


Fenomena ini merujuk pada tren peningkatan anak yang mencoba bunuh diri dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023. Mengapa hal ini terjadi pada generasi muda?


Ada beberapa faktor yang memicu persoalan kesehatan mental pada anak, yaitu dari faktor internal berkaitan dengan kondisi pribadi anak dan pola pengasuhan keluarga, sementara faktor eksternal berasal dari lingkungan sosial dan pengaruh media sosial.


Karakteristik unik terjadi pada gen Z dan alpha yang membuat mereka lebih rentan terhadap psikologis dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka terlahir dalam paparan teknologi digital, dibanjiri informasi dan berinteraksi intensif di dunia maya. Alhasil, mereka lebih rentan mengalami emotional burnout (kelelahan emosional).


Tekanan sosial dari lingkungan digital seperti perbandingan diri dan validasi sosial turut memperburuk kondisi mental anak. Hingga sulit untuk beradaptasi dengan gaya hidup yang serba instan, berperilaku mengikuti hawa nafsunya dan bebas bersikap tanpa aturan. 


Faktor ekonomi, pendidikan, dan budaya menjadi salah satu sebab gangguan mental seperti kenaikan bahan pokok, sulitnya pekerjaan, biaya hidup sehari-hari, biaya pendidikan, pengangguran dan sebagainya. 


Ditambah minimnya pelayanan kesehatan mental yang memprihatinkan, akses bantuan puskesmas bagi masyarakat pun masih sulit, biaya rumah sakit yang mahal, serta minimnya SDM terlatih dan kompeten dalam pelayanan kesehatan mental. Kalaupun ada pelayanan kesehatan mental, kualitas kurang maksimal dalam masa pengobatan.


Ada faktor yang paling penting yaitu diterapkannya sistem sekuler kapitalisme. Di mana sistem ini dijadikan pengatur dalam urusan kehidupan yang memisahkan aturan agama, baik halal haram ataupun rida Sang Pencipta. Alhasil, lahir manusia bermental rapuh termasuk kaum muslim tidak memahami tujuan hidupnya.


Maka jelas sistem ini gagal mengatur generasi muda sehingga masalah gangguan kesehatan ini akan sulit diatasi secara tuntas. Seharusnya setiap manusia mempunyai visi misi hidup, memahami apa yang akan terjadi di luar dirinya. Di sinilah kaum muslim harus mementingkan pendidikan dan pembinaan yang sesuai dengan hukum syarak agar setiap muslim memiliki kepribadian Islam dan menjadikan Islam sebagai solusi bagi setiap persoalan.


Setiap individu menyadari bahwa kesehatan mental lahir dari kesadaran spiritual dan pemahaman bahwa hidup di dunia adalah ujian untuk menggapai rida Allah semata. Dengan akidah yang kuat, seorang muslim menyadari bahwa semua ketetapan dari Allah adalah yang terbaik.


Dalam konteks kebahagiaan, aturan Islam menjadi solusi permasalahan kehidupan, menjadikan aturan Allah sebagai panduan hidup yang menghilangkan kebingungan kecemasan dalam mengambil keputusan.


Untuk mencegah gangguan jiwa (nafsiyah), Islam menganjurkan interaksi yang erat dengan Allah Swt.. Zikir, doa, dan ibadah wajib berfungsi sebagai mekanisme penenang hati (thuma'ninah). Ini membantu membersihkan jiwa dari penyakit hati seperti dengki, kesedihan berlebihan, dan keraguan yang menjadi akar dari berbagai masalah mental.


Dalam bingkai masyarakat Islam, kesehatan mental didukung oleh lingkungan yang sehat dan amar makruf nahi mungkar. Negara berperan sebagai pelindung moral yang mencegah penyebaran pemikiran merusak dan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat. Terpenuhinya kebutuhan fisik dan keamanan psikologis masyarakat akan sangat mengurangi tingkat stres atau depresi massal akibat kemiskinan dan persaingan hidup yang tidak sehat.


Kehidupan Islam, masyarakat mendapatkan pendidikan yang berbasis akidah Islam yang mencetak orang-orang bermental kuat, maka tujuan pendidikan dalam sistem Islam akan membentuk kepribadian islam sekaligus memiliki kemampuan menyelesaikan masalah kehidupan.


Peradaban Islam memperhatikan kesehatan mental, seperti era Abbasiyah pada 705 M banyak yang mengkaji persoalan ini dengan mendirikan rumah sakit yang dilengkapi bangsal khusus kejiwaan di Baghdad. Dan negara serius menyelesaikan secara tuntas sampai ke akar masalahnya. Wallahualam bissawab.