SWI Mabar: Stand Up Speak Up
ReportasePemuda adalah cerminan masa depan
Jika pemudanya baik, maka masa depan akan cerah
______________________________
Penulis Siska Juliana
Tim Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE - Akhir-akhir ini saat melihat berita di sosial media sering kali kita disuguhkan konten yang mengaduk emosi dan perasaan. Bagaimana tidak, kabar buruk berseliweran menyapa setiap harinya. Misalkan tentang maraknya L6BT, kerusakan lingkungan yang makin parah, kasus korupsi, dan lain-lain. Sebagai remaja tentu merasa marah, tetapi bingung marah ke siapa dan harus melakukan apa.
Untuk menjawab rasa penasaran itu, Komunitas Smart With Islam mengadakan kajian yang bertajuk "SWI Mabar: Stand Up, Speak Up" pada Ahad 21 Juni 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh puluhan pelajar dan mahasiswa area Kota Bandung.
Acara ini bertujuan untuk membentuk sikap kritis pada remaja mengenai kerusakan yang terjadi. Jangan sampai generasi muda apatis terhadap isu yang berkembang sebab masa depan umat ada di tangan mereka. Para peserta antusias mengikuti acara ini dari awal hingga akhir. Adanya sesi diskusi dan silah ukhuwah bersama peserta menambah pemahaman para remaja muslimah yang menghadiri acara ini.
Melalui sesi diskusi, pemateri menumbuhkan kesadaran peserta tentang kerusakan yang terjadi saat ini. Mengajak mereka agar peduli pada kerusakan yang ada serta menyadarkan mereka bahwa generasi muda adalah agen perubahan. Kemudian memahamkan mereka bahwa Islam adalah solusi dari setiap permasalahan
Pemateri memaparkan bahwa sikap cuek remaja saat ini dipengaruhi oleh sistem sekuler liberal yang mengagungkan kebebasan. Remaja seharusnya bisa bersikap kritis dan peduli terhadap berbagai permasalahan yang terjadi saat ini. Jangan sampai cuek atau bahkan bersifat individualis. Pemuda muslim adalah harapan bagi kebangkitan Islam.
“Pemuda adalah cerminan masa depan. Jika pemudanya baik, maka masa depan akan cerah.” (Imam Al Ghazali)
Pemateri menjelaskan tips agar sikap kritis remaja menjadi baik dan benar, yaitu:
Pertama, bukan untuk menjatuhkan apalagi melecehkan.
Kedua, kritisi cara berpikirnya, bukan orangnya.
Ketiga, sodorkan bukti.
Keempat, kritisi dengan solusi, tentunya solusi dari Islam.
Kelima, ikut ngaji Islam kafah biar bisa menumbuhkan sikap kritis, penyampaiannya lebih etis, tidak pakai anarkis, dan solusi yang ditawarkan juga ideologis. Wallahualam bissawab.


