Alt Title

Muharram Saatnya Umat Bangkit Memperjuangkan Islam Kaffah

Muharram Saatnya Umat Bangkit Memperjuangkan Islam Kaffah



Pergantian tahun Hijriah ini bukan sekadar momentum seremonial atau pawai obor

Muharram adalah alarm bagi kesadaran kita tentang segera menawarkan solusi dari berbagai problematika umat saat ini yaitu dengan Islam

______________________________


Penulis Restu Wulandari

Pendidik dan Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Muharam salah satu bulan yang mulia, sebagaimana sabda Baginda Nabi saw. : "Zaman berputar seperti hari Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu terdiri dari 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, tiga bulan berurutan, Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram. Adapun Rajab yang juga merupakan bulannya kaum Mudhr, berada di antara Jumadil Akhir dan Sya'ban," (HR. Bukhari Muslim).


Setiap kali hilal bulan Muharram menyingsing, ingatan umat secara otomatis terbawa pada peristiwa agung 14 abad silam yaitu hijrahnya Rasulullah dan para sahabat dari Makkah ke Madinah. Tahun ini, 1 Muharram 1448 Hijriah hadir di tengah-tengah umat. Namun, mari sejenak merenung di sela-sela pergantian tahun ini. Apakah kondisi umat Islam saat ini sudah mencerminkan predikat khairu ummah (umat terbaik) sebagaimana yang Allah puji dalam Al-Qur'an? Jawaban jujur harus diakui, masih sangat jauh panggang dari api. Detikhikmah, 15 Juni 2026.


Realitas Domestik dan Global: Nestapa Tiada Henti


Jika meneropong kondisi dalam negeri, sepanjang tahun rakyat terus dibelit oleh berbagai persoalan sistemik yang tidak kunjung usai. Kemiskinan struktural membuat jurang kaya-miskin kian menganga. Di ranah sosial-moral, potretnya jauh lebih menyedihkan: mewabahnya pinjol dan judi online (judol) yang merusak sendi keluarga, prostitusi anak, kasus bullying di lembaga pendidikan, eksploitasi seksual, hingga lingkaran kekerasan yang kian merajalela di tengah masyarakat. (Kompas.com, 20-6- 2026)


Jika mengalihkan pandangan ke panggung internasional, luka menganga di tubuh umat ini terasa kian perih. Genosida di Palestina terus berlangsung tanpa titik terang. Saudara-saudara di Gaza tidak hanya dihujani bom, tetapi sengaja dibuat mati kelaparan. Ironisnya, di sekeliling mereka, para penguasa negeri-negeri Muslim yang memiliki tentara dan senjata modern justru bergeming. Mereka tidak bergerak mengirimkan pasukan untuk menyelamatkan nyawa kaum muslim. (id.wikipedia.org Genosida G4za)


Semua fenomena ini bukan problem parsial yang berdiri sendiri. Persoalan di dalam negeri yaitu seluruh kenestapaan sosial, ekonomi, dan moral yang kita saksikan hari ini adalah buah pahit dari penerapan sistem sekularisme-kapitalisme. Hal ini terjadi ketika agama dipisahkan dari kehidupan (sekularisme) dan aturan Allah dicampakkan.


Standar manfaat materi dan kepuasan menggantikan standar halal-haram. Akibatnya, kebijakan publik tidak lagi berorientasi mengurus rakyat, melainkan melayani pemilik modal (kapitalis) sehingga kerusakan merata di seluruh lini kehidupan. Di sisi lain, yaitu tingkat global, lemahnya umat Islam di panggung internasional termasuk ketidakmampuan total dalam membela P4lestina.


Ini semua berakar pada satu hal yaitu tiadanya institusi Khil4fah Islamiah yang menyatukan dan melindungi umat di seluruh dunia. Sejak runtuhnya institusi ini dalam catatan sejarah, umat Islam dikerat-kerat oleh paham nasionalisme (ikatan bangsa/nation state). Akibatnya, satu negeri muslim merasa tidak wajib menolong negeri muslim lainnya secara militer, dan para penguasanya justru tunduk pada dikte kekuatan geopolitik global dan sibuk dengan negaranya masing-masing. 


Muharram: Momentum Hijrah Hakiki Menuju Islam Kafah


Sains sejarah mengajarkan kepada kita bahwa perubahan peradaban tidak terjadi karena kebetulan. Muharram harus menjadi momentum refleksi kolektif. Semua kenestapaan yang menimpa umat hari ini bukan takdir mati yang harus diterima dengan kepasrahan yang keliru. Ini adalah konsekuensi logis akibat jauhnya umat dari aturan Allah Swt..


Allah Swt. telah memperingatkan dalam Al-Qur'an surah Thaha ayat 124: "Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit..." 


Oleh karena itu, makna hijrah secara bahasa artinya meninggalkan sesuatu menuju sesuatu yang lain. Sedangkan makna hijrah secara syar'i dalam makna umum mengacu pada sabda Rasulullah saw. : "Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang Allah Swt. larang." (HR. Al Bukhari)


Secara khusus para ulama menjelaskan bahwa hijrah adalah meninggalkan negeri yang didominasi oleh kekufuran menuju negeri yang memungkinkan Islam ditegakkan; dalam kitab syarh umdah al-ahkaam (1/10) dinyatakan hijrah adalah perpindahan dari negeri kufur menuju negeri Isam.


Perspektif lain, hijrah hakiki di era modern ini adalah berjuang memigrasikan masyarakat dari sistem kufur sekularisme-kapitalisme menuju penerapan sistem Islam secara utuh (kafah) dalam naungan Daulah Khil4fah. Rasulullah ﷺ telah mencontohkan bahwa perubahan hakiki menuju penerapan Islam tidak instan.


Beliau dan para sahabat membangun gerakan yang terorganisir, melakukan pembinaan pemikiran (tatsqif), berinteraksi dengan masyarakat (tafa'ul), hingga akhirnya mendapatkan dukungan politik (nusrah) untuk menegakkan institusi Islam di Madinah.


Perubahan besar ini tidak bisa dilakukan sendirian atau sekadar melalui kesalehan individu. Berdasarkan manhaj (metode) nubuwah, umat Islam wajib bergerak secara kolektif: Pertama, menyadari urgensi institusi global. Umat harus paham bahwa syariat Islam seperti sistem ekonomi bebas riba, sistem peradilan yang adil, hingga perlindungan militer atas wilayah yang tertindas seperti Palestina, hanya bisa tegak sempurna jika ada institusi politik formal (Khil4fah).


Kedua, berjuang bersama jemaah dakwah. Umat Islam wajib melibatkan diri dan berjuang bersama jemaah dakwah Islam ideologis yaitu gerakan yang secara konsisten mengambil metode dakwah Rasulullah ﷺ — tanpa kekerasan, fokus pada perubahan pemikiran dan politik — untuk mengedukasi masyarakat dan menyadarkan umat akan pentingnya kembali kepada syariat Allah secara totalitas.


Khatimah 


Pergantian tahun Hijriah ini bukan sekadar momentum seremonial atau pawai obor. Muharram adalah alarm bagi kesadaran kita tentang segera menawarkan solusi dari berbagai problematika umat saat ini yaitu dengan Islam. Sudah saatnya umat ini bangkit, mencampakkan sistem yang merusak, dan menyatukan visi untuk memperjuangkan kehidupan yang berkah di bawah naungan Islam kafah sehingga predikat khairu ummah terwujud. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]