Muharam: Momentum Historis Kebangkitan Perjuangan Islam
Surat PembacaMomentum 1 Muharam 1448 H tiba
tetapi kondisi umat Islam masih jauh dari predikat khairu ummah
______________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Miris! Berbagai masalah dalam negeri terus membelit rakyat sepanjang tahun. Kemiskinan struktural, judol, prostitusi anak, bullying, eksploitasi seksual, dan kekerasan yang kian merajalela. Semua itu merupakan akumulasi dari krisis yang bersifat ganda yaitu krisis struktural dan krisis moral.
Maksudnya adalah masalah bangsa sekarang bukan hanya satu jenis. Akan tetapi, dia jenis krisis yang menumpuk, saling menguatkan, dan terjadi secara bersamaan. Akibatnya, terjadi efek berlipat ganda dan lebih sulit diselesaikan. Ibarat penyakit, ada penyakit di badan ditambah penyakit di pikiran. Kalau dua-duanya ada, sembuhnya akan lama.
Krisis struktural ini krisis pada sistem atau tatanan negara/masyarakat. Kerusakannya ada diaturan main, kebijakan, dan struktur ekonomi-politik. Akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan layak tidak merata. Si kaya makin tambah kaya, si miskin susah naik kelas.
Di samping itu, kebijakan tidak berpihak dengan regulasi yang lemah atau tidak ditegakkan. Contohnya, judol gampang diakses karena pengawasan digital yang lemah. Selain itu, hukum tidak pasti, tumpul ke atas, tajam ke bawah. Adapun pelaku yang berkuasa/bermodal bisa lolos, semetara rakyat kecil langsung dijerat hukuman.
Orang miskin terpaksa cari jalan pintas main judol. Anak dari keluarga broken home rentan dieksploitasi karena tidaj adanya jaring pengaman sosial. Jadi, krisis struktural ini menciptakan lahan buat kejahatan terus tumbuh subur.
Krisis moral adalah krisis pada hati dan nilai manusia. Kerusakannya ada di nurani, etika, dan standar benar-salah. Contohnya, Yang haram jadi biasa aja. Judol dianggap hiburan, prostitusi anak dianggap bisnis, bullying dianggap candaan. Hilangnya rasa malu dan empati, orang tega menindas yang lemah demi keuntungan. Pedagang judol tidak memikirkan rumah tangga yang hancur. Standar halal-haram diganti standar untung-rugi, viral atau tidak viral.
Ketika sistem sudah rusak dan nurani sudah mati, maka orang tidak hanya terpaksa berbuat kejahatan karena miskin. Akan tetapi, ada juga yang sengaja berbuat jahat karena memang tidak merasa bersalah. Bahkan, masalah juga terjadi ditingkat internasional. Genosida Palestina terus berlangsung. Umat Islam di Gaza dibuat mati kelaparan sementara penguasa negeri Muslim tidak bergerak mengirim pasukan.
Momentum 1 Muharam 1448 H tiba, tetapi kondisi umat Islam masih jauh dari predikat khairu ummah. Seluruh kenestapaan dalam negeri adalah buah dari penerapan sistem sekularisme-kapitalisme. Standar manfaat materi menggantikan halal-haram, sehingga kerusakan merata di seluruh lini kehidupan.
Lemahnya umat Islam di panggung internasional, termasuk tidak mampunya membela P4lestina dikarenakan tidak adanya institusi Khil4fah yang menyatukan dan melindungi umat. Umat Islam terpecah oleh nasionalisme dan tunduk pada kekuatan kafir.
Muharam adalah momentum refleksi bahwa semua kenestapaan ini akibat jauhnya umat dari aturan Allah, bukan takdir yang harus diterima. Rasulullah saw. mengajarkan bahwa perubahan hakiki membutuhkan perjuangan panjang dan terorganisir sebagaimana yang beliau dan para sahabat lakukan. Umat Islam wajib berjuang bersama jamaah dakwah Islam ideologis. Mengambil metode dakwah Rasulullah saw. untuk menegakkan kembali Khil4fah.
Tahun baru hijriah dimulai dengan hijrah. Perpindahan dari kelemahan menuju kekuatan. Dari kebatilan menuju kebenaran. Dari Islam yang terpinggirkan menuju Islam yang tegak secara kafah.
Hijrah hakiki adalah berjuang untuk hijrah dari sistem kufur sekularisme-kapitalisme menuju sistem Islam dalam naungan Daulah Khilafah. Bulan yang mulia ini menjadi pengingat bagi kita. Pahala dilipatgandakan, namun hisab pun menjadi lebih ketat. Allah Subhanahu wa Taala tidak akan menanyakan, “Apakah engkau telah mengubah seluruh dunia?” Melainkan, “Apakah engkau telah menjadi pejuang sesuai dengan kapasitas dan tanggung jawabmu?”
Langkah awal yang paling berat sesungguhnya telah kalian tempuh. Menyadari realitas, merasakan kemarahan terhadap kebatilan, serta menolak untuk menjadi sekadar penonton. Sikap tersebut merupakan gerbang pertama menuju peran sebagai pejuang.
Dengan demikian, pertanyaan selanjutnya adalah diposisi kalian saat ini, medan perjuangan paling nyata yang dapat dipegang adalah yang mana? Apakah melalui dunia pendidikan, pekerjaan, ataukah dalam lingkup keluarga? Hendaknya perubahan dimulai dari titik tersebut. Perbaikan diri tidak perlu menunggu selesainya tragedi di belahan dunia lain untuk dimulai.
Di bulan yang mulia ini, Islam tidak butuh penontonnya, Islam membutuhkan pejuangnya. Allah Swt. berfirman, "Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka terbunuh atau mati, sungguh, Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik (surga). Dan sesungguhnya Allah adalah pemberi rezeki yang terbaik." (QS. Al-Hajj: 58)
Marilah kita mulai langkah pertama perjuangan Islam saat ini juga! Wallahualam bissawab. [Eva/MKC]
Desti Sundari


