AKI Tertinggi, Gagalnya Negara Kapitalis Memberikan Layanan Kesehatan
OpiniUrusan kesehatan adalah tugas negara
untuk memberikan pelayanan
_____________________
Penulis Ermawati
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Muslim
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Mengapa jumlah ibu melahirkan banyak yang meninggal terutama di daerah-daerah pelosok? Padahal dokter kandungan di negara ini sudah surplus. Apa yang menjadi kendala hingga angka kematiannya begitu tinggi se-Asia Tengara. Sedangkan AKI menunjukkan indikator kualitas pelayanan kesehatan suatu negara.
Pengurus Pusat Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) menyebut, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia memperihatinkan. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum POGI Prof. Dr. dr. Budi Wiweko dalam peringatan Hari Kartini di Rumah POGI, Pegangsaan, Menteng.
Prof Budi menjelaskan bahwa berdasarkan data yang dia peroleh, tercatat AKI mencapai 189 kasus per 100.000 kelahiran. Menurut dia, angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan AKI tertinggi di Asia Tenggara. ”Di sisi lain, setiap tahun, lebih dari 36.000 kasus baru kanker serviks terdiagnosis, dengan lebih dari 21 ribu kematian. Itu setara satu perempuan meninggal setiap 25 menit,” ungkap Prof Budi. (Koranindopos, 21-4-26)
Sungguh ironis, seorang ibu di Papua yang akan melahirkan ditolak beberapa rumah sakit karena berbagai kendala yang berbeda. Apapun alasannya itu tetap saja salah, karena seharusnya rumah sakit mengutamakan nyawa seseorang di atas segalanya. Apalagi seorang ibu yang akan melahirkan, tentunya membutuhkan pertolongan cepat. Sebab, kalau tidak nyawa ibu dan anak menjadi taruhannya.
Kejadian ini tidak terjadi di kota besar. Namun, laporan pada angka menunjukkan pertanyaan besar apa yang menyebabkan banyaknya kematian ibu melahirkan di saat dokter kandungan meningkat. Papua tempat yang terpencil, terbelakang, dan tertinggal. Tempat yang jauh dari kota sehingga jumlah petugas kesehatan dan fasilitas kesehatan di daerah sana masih minim.
Hal ini menunjukkan pemerataan jaminan kesehatan yang diberikan negara masih belum menyeluruh sampai ke desa terpelosok. Sungguh sangat disayangkan jika hal seperti ini terus terjadi. Padahal jaminan kesehatan adalah hak setiap rakyat yang wajib diberikan oleh negara.
Kurangnya perhatian negara terhadap kesehatan masyarakat dan fasilitas kesehatan yang ada di desa-desa terpencil, membuat angka kematian ibu melahirkan makin meningkat. Oleh karena itu, sangat penting peran negara dalam menangani kesehatan ibu hamil. Selain itu, negara memberikan dukungan dan perhatian seperti mewajibkan ibu hamil untuk rutin melakukan pemeriksaan. Mulai dari awal kehamilan sampai melahirkan. Sehingga ibu hamil dapat melahirkan dalam kondisi sehat.
Namun, sayangnya kesehatan yang begitu penting di negara ini justru dijadikan alat untuk mencari cuan. Alhasil, membuat rakyat kecil tak mampu untuk berobat karena biaya kesehatan yang begitu mahal. Menjadi salah satu alasan masyarakat jadi takut ke rumah sakit. Bukan takut untuk dirawat, melainkan takut karena harus membayar biaya terlalu mahal.
Seharusnya urusan kesehatan adalah tugas negara untuk memberikan pelayanan. Memberikan fasilitas kesehatan yang baik, melindungi, dan menjaga masyarakat agar tetap sehat. Selain itu, AKI meningkat juga karena kurangnya tenaga kesehatan di daerah pelosok. Pendapatan gaji di desa dan di kota jauh berbeda menjadi salah satu alasannya.
Inilah cara pandang sistem kapitalis yang telah diadopsi di negara ini. Akhirnya, merusak cara pandang umat yang menilai segalanya dengan materi. Padahal tingginya angka AKI adalah peringatan bagi negara. Sebab, negara belum optimal dan fokus dalam melayani dan menyediakan fasilitas kesehatan.
Selain itu, masalah penempatan tenaga kesehatan saja belum terselesaikan hingga hari ini. Masih banyak tenaga kesehatan yang menolak bila ditempatkan di daerah pelosok. Padahal negara berperan lebih besar sebagai regulator mekanisme pelayanan. Sementara itu, penyediaan tenaga kerja kesehatan bergantung pada permintaan pasar.
Sejatinya benar bahwa berkerja untuk menghasilkan uang. Namun, sistem kapitalis telah merusak cara berpikir mereka menjadi dangkal dan rapuh. Hanya memikirkan kepentingan dunia saja. Padahal pengabdiannya sebagai tenaga kesehatan sungguh luar biasa tak ternilai oleh materi sekali pun. Sebab, di mata Allah jasanya begitu besar bila menolong orang yang sedang kesusahan apalagi dengan ikhlas. Allah pasti akan membalasnya di dunia atau kelak nanti di akhirat.
IsIam memandang kesehatan sebagai jaminan hak yang harus dipenuhi oleh negara. Negara harus dapat melayani semua jaminan kesehatan yang dibutuhkan rakyat. Sebab, kesehatan merupakan hak dasar yang harus dipenuhi oleh negara kepada setiap rakyatnya. Sebagaimana sabda Nabi, "Seorang Imam (kepala negara) adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Negara menyediakan fasilitas kesehatan hingga ke pelosok desa dan tenaga kesehatan yang ahli pada bidangnya. Pada saat rakyat membutuhkannya, mereka siap membantu. Selain itu, negara juga tidak lupa memberikan apresiasi serta gaji yang besar sesuai dengan kinerja dan keahliannya atas pengabdian kepada rakyat.
Oleh karena itu, semua bukan sekedar kesalahan pada tenaga kesehatan semata. Akan tetapi, karena sistem saat ini yang gagal dalam memberikan perlindungan bagi rakyat. Padahal Allah Swt. telah mengingatkan:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
"Apakah sistem hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Sistem hukum siapakah yang lebih baik daripada sistem hukum Allah bagi kaum yang meyakini?" (TQS. al-Maidah [5]: 50)
Oleh karena itu, sudah saatnya umat sadar dan bangkit untuk beralih ke sistem IsIam yang telah terjamin kebenarannya. Umat harus bersatu untuk menegakkan kembali kehidupan IsIam yang telah lama ditinggalkan. Mendakwahkan IsIam hingga ke seluruh penjuru dunia sebab hanya IsIam agama yang Allah ridai.
Dengan begitu kehidupan yang damai dan sejahtera akan terwujud. Hidup di bawah naungan sistem IsIam dengan Allah sebaik-baik pengatur kehidupan. Wallahualam bissawab. [Eva/MKC]


