Alt Title

Fomo Bundir atau Beban Hidup yang Makin Berat

Fomo Bundir atau Beban Hidup yang Makin Berat



Bunuh diri yang makin marak ini bukanlah fenomena biasa dan bukan sekedar fomo

Ia salah satu tanda kerusakan sosial yang harus dihindari dengan pendekatan yang menyeluruh


____________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Bulan Mei lalu, kawasan jembatan Cirahong dirundung duka. Satu bulan kemudian kabar tentang percobaan bunuh diri di jembatan Cirahong kembali mencuat.


Dikutip dari newstasikmalaya.com (2-6-2026) Seorang pria yang berprofesi pedagang cilok di alun-alun Manonjaya melakukan percobaan bunuh diri di area jembatan cirahong. Pria tersebut diduga depresi karena beban hidup yang berat. Sebelumnya, menurut keterangan istrinya, suaminya beberapa hari ke belakang sering pulang telat dan mabuk-mabukan selepas mabuk mengamuk dan mengacak-acak perabot rumah bahkan memecahkan jendela rumah.


Pihak kepolisian sektor (Polsek) Manonjaya polres Tasikmalaya kota memastikan bahwa motif utama dibalik percobaan bunuh diri tersebut dilatarbelakangi oleh tekanan ekonomi yang memicu konflik rumah tangga. Aksi percobaan bunuh diri yang berhasil digagalkan ini sempat memicu kepanikan warga sekitar.


Tidak hanya kabar kejadian aksi bunuh diri di Tasikmalaya beberapa pekan terakhir di berbagai tempat telah memenuhi beranda media sosial. Apakah aksi bunuh diri telah menjadi fomo di masyarakat? atau bukan sekedar fomo saja, tetapi benar-benar karena beban hidup yang berat?


Memang benar, beban hidup tinggi di kehidupan sekuler kapitalisme saat ini menyebabkan masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup. Kehidupan sekuler kapitalisme membentuk iman umat rapuh, sehingga mudah putus asa, depresi dan kehilangan pemikiran jernih sehingga tidak memiliki kemampuan dalam problem solving, dalam menyelesaikan masalah cenderung bersifat instan, nekad, bahkan di luar nalar dan tidak memiliki standar halal haram.


Sistem politik ekonomi kapitalisme tidak pernah membawa pada kesejahteraan masyarakat. Yang ada hanya kesejahteraan bagi segelintir orang. Ekonomi kapitalisme selalu memiliki retorika indah "UMKM sebagai pahlawan ekonomi Nasional", "Pelaku kreatif ekonomi masa depan", dan "Wujud kemandirian masyarakat". Sejatinya, semua itu adalah pertanda negara berlepas tangan dalam menyediakan lapangan pekerjaan dan menyejahterakan rakyatnya.


Mekanisme Sistem Islam


Sistem Islam memiliki mekanisme kuat dalam meriayah umat demi kemaslahatannya. Pertama, sistem pendidikan Islam membentuk umat memiliki syakhsiyah Islam, menjadikan akidah Islam sebagai dasar arah pandang kehidupan, standar halal haram sebagai ukuran dalam tindakan.


Kedua, sistem politik ekonomi Islam menjamin kebutuhan dasar umat terpenuhi. Dengan memberi kemudahan kepada warganya terutama para lelaki untuk mendapat pekerjaan serta gaji yang layak, pengelolaan SDA milik umum untuk kepentingan rakyat, dan pengelolaan Baitulmal.


Ketiga, sistem sosial dan sistem hukum Islam bersifat komprehensif dalam mencegah perbuatan-perbuatan yang melanggar syara seperti pencegahan bunuh diri dilakukan melalui pendekatan akidah, hukum yang tegas, dukungan sosial, dan penyediaan jaminan kesejahteraan oleh negara.


Dalam Islam, bunuh diri diharamkan secara mutlak dan termasuk dosa besar yang sangat berat. Allah Swt. berfirman: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh Allah Maha Penyayang kepadamu." (TQS. An-Nisa: 29)


Bunuh diri yang semakin marak ini bukanlah fenomena biasa dan bukan sekedar fomo. Ia salah satu tanda kerusakan sosial yang harus dihindari dengan pendekatan yang menyeluruh. Sistem Islam menawarkan solusi dari akar masalah. Menjadiakan aqidah sebagai dasar arah pandang kehidupan, menjamin umat terpenuhi kebutuhan dasarnya, serta pencegahan terhadap perbuatan-perbuatan yang melanggar syariat.


Hanya dengan kembalinya umat pada hukum-hukum Allah Swt. secara kafah, kita dapat merasakan kesejahteraan tanpa beban hidup yang berat, serta umat yang memiliki aqidah yang kuat. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


Rizni Nurdinilah