Film Pesta Babi Lahir dari Kapitalisme
Surat PembacaFilm dokumenter Pesta Babi dapat dimaknai sebagai
potret bagaimana sistem kapitalisme melahirkan kerakusan oligarki yang terus mengeksploitasi kekayaan alam
_________________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Di film pesta babi menceritakan bagaimana satu orang bisa menguasai tanah Papua, bagaimana excavator yang jumlahnya tidak sedikit bisa masuk ke wilayah mereka, bagaimana TNI diturunkan untuk melindungi para oligarki dan baku hantam dengan penduduk.
Mirisnya mereka tidak didengar. Setidaknya ada 5 suku yang berdiam di wilayah tersebut dan sebagai bentuk protes mereka mendirikan beberapa ratus palang salib yang di cat merah guna sebagai batas wilayah.
Pesta Babi dan Kapitalisme
Film dokumenter Pesta Babi dapat dimaknai sebagai potret bagaimana sistem kapitalisme melahirkan kerakusan oligarki yang terus mengeksploitasi kekayaan alam tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. Papua yang dikenal kaya akan sumber daya justru menjadi wilayah yang rentan dirusak demi kepentingan investasi dan keuntungan segelintir elite.
Alam dieksploitasi, hutan dibuka, dan tanah adat perlahan kehilangan keseimbangannya akibat tangan manusia yang lebih mengutamakan materi dibanding kelestarian. Kerusakan tanah Papua bukan sekadar bencana alam biasa, tetapi juga akibat sistem yang memberi ruang luas bagi kekuatan modal untuk menguasai alam. Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, suara masyarakat adat dan keberlangsungan lingkungan sering diabaikan. (Inikata.com, 23-05-2026)
Film ini seolah mengingatkan bahwa kerakusan manusia dan oligarki dapat meninggalkan luka panjang bagi bumi Papua, sementara rakyat kecil harus menanggung dampaknya secara langsung. Film dokumenter Pesta Babi dapat dimaknai sebagai potret bagaimana sistem kapitalisme melahirkan kerakusan oligarki yang terus mengeksploitasi kekayaan alam tanpa memikirkan dampak jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.
Papua yang dikenal kaya akan sumber daya justru menjadi wilayah yang rentan dirusak demi kepentingan investasi dan keuntungan segelintir elite. Alam dieksploitasi, hutan dibuka, dan tanah adat perlahan kehilangan keseimbangannya akibat tangan manusia yang lebih mengutamakan materi dibanding kelestarian.
Kerusakan tanah Papua bukan sekadar bencana alam biasa, tetapi juga akibat sistem yang memberi ruang luas bagi kekuatan modal untuk menguasai alam. Ketika keuntungan menjadi tujuan utama, suara masyarakat adat dan keberlangsungan lingkungan sering diabaikan. Film ini seolah mengingatkan bahwa kerakusan manusia dan oligarki dapat meninggalkan luka panjang bagi bumi Papua, sementara rakyat kecil harus menanggung dampaknya secara langsung.
Pandangan Islam tentang Film Pesta Babi
Dalam pandangan Islam, kerusakan alam yang terjadi di tanah Papua merupakan bentuk akibat dari ulah manusia yang mengeksploitasi bumi tanpa rasa tanggung jawab. Film Pesta Babi dapat menjadi pengingat bahwa kerakusan manusia terhadap kekayaan alam sering kali melahirkan penderitaan, merusak lingkungan, serta menghilangkan keseimbangan yang telah Allah ciptakan.
Padahal Islam mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang wajib menjaga alam, bukan merusaknya demi keuntungan segelintir pihak.
Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. Ar-Rum: 41)
Islam memberikan solusi dengan mewajibkan pengelolaan sumber daya alam secara adil dan bertanggung jawab untuk kemaslahatan seluruh rakyat, bukan dikuasai oligarki atau korporasi rakus. Dalam Islam, hutan, tambang, dan kekayaan alam yang menyangkut hajat hidup orang banyak harus dijaga serta dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Dengan penerapan nilai-nilai Islam, alam tidak hanya dipandang sebagai sumber keuntungan, tetapi sebagai amanah dari Allah yang wajib dijaga untuk generasi mendatang. Dalam Khil4fah Islamiah, alam dan seluruh kekayaan bumi akan dijaga karena dipandang sebagai amanah dari Allah Swt. yang wajib dikelola demi kemaslahatan umat, bukan untuk kepentingan segelintir oligarki.
Islam melarang segala bentuk eksploitasi berlebihan yang merusak lingkungan, hutan, sungai, maupun tanah adat demi keuntungan materi semata. Negara berkewajiban memastikan pengelolaan sumber daya alam dilakukan secara adil, bertanggung jawab, dan tetap menjaga keseimbangan ekosistem.
Allah Swt berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Melalui penerapan syariat Islam secara menyeluruh, negara akan melindungi alam dari kerakusan manusia serta memastikan hasil kekayaan alam kembali untuk kesejahteraan rakyat. Dengan demikian, tanah Papua dan seluruh wilayah kaum muslimin tidak menjadi korban eksploitasi, melainkan tetap lestari dan membawa keberkahan bagi generasi mendatang. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]
Oleh : Dian Lestari Pane (Aktivis Dakwah)


