Alt Title

Pendidikan Bukan Sekadar Mencetak Tenaga Kerja

Pendidikan Bukan Sekadar Mencetak Tenaga Kerja



Pendidikan sejatinya bukan hanya tentang pekerjaan

Pendidikan seharusnya membentuk cara berpikir manusia, membangun kepribadian, melatih adab, dan memperluas wawasan ilmu

_________________________


Penulis Gesti Ghassani

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Ketika Jurusan Dinilai dari “Laku atau Tidak”
 
“Jangan ambil jurusan itu, nanti kerja apa?”


Kalimat semacam ini tentu akrab di telinga pelajar yang sedang menentukan pilihan kuliah. Hari ini, jurusan pendidikan sering kali dipilih bukan berdasarkan minat terhadap ilmu atau keinginan memberi manfaat bagi masyarakat, tetapi berdasarkan satu pertanyaan utama: apakah menghasilkan uang atau tidak?


Bahkan ketika ada mahasiswa memilih jurusan Pendidikan Anak Usia Dini misalnya, respons yang muncul tak jarang bernada sinis: “Itu mah nggak ada duitnya.” Jurusan-jurusan yang dianggap tidak memiliki prospek penghasilan besar mulai dipandang sebelah mata. Sebaliknya, jurusan yang dekat dengan kebutuhan industri dianggap lebih menjanjikan dan lebih layak dipilih.


Fenomena ini menunjukkan bagaimana pendidikan hari ini makin dipandang sekadar alat mencetak tenaga kerja, bukan sarana membentuk manusia berilmu, beradab, dan bermanfaat bagi umat. Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri kembali membuka mata kita tentang arah pendidikan hari ini.


Pemerintah beranggapan bahwa jurusan kuliah harus mengikuti kebutuhan pasar kerja dan dunia industri agar mendukung pertumbuhan ekonomi. Artinya, jurusan yang dianggap “tidak menghasilkan” atau tidak terlalu dibutuhkan industri mulai dipertanyakan keberadaannya.


Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menyampaikan bahwa perguruan tinggi perlu lebih adaptif terhadap kebutuhan industri dan perkembangan dunia kerja agar lulusan lebih mudah terserap pasar kerja. (Kompas.com, 25 April 2026)


Cara pandang seperti ini perlahan membentuk pola pikir masyarakat bahwa nilai sebuah ilmu ditentukan oleh manfaat ekonominya. Akibatnya, banyak orang akhirnya kuliah bukan karena cinta ilmu, tetapi karena takut tidak mendapat pekerjaan. Jurusan dipilih berdasarkan “gajinya besar atau tidak”, bukan berdasarkan kebutuhan umat atau potensi kontribusi bagi masyarakat.


Padahal pendidikan sejatinya bukan hanya tentang pekerjaan. Pendidikan seharusnya membentuk cara berpikir manusia, membangun kepribadian, melatih adab, dan memperluas wawasan ilmu. Pendidikan bukan sekadar tempat mencetak operator industri.


Pendidikan dalam Cengkeraman Kapitalisme


Di sinilah terlihat jelas bahwa pendidikan dalam sistem hari ini bukan lagi tentang membangun manusia, tetapi tentang memenuhi kebutuhan ekonomi kapitalistik. Pendidikan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar kerja. Kampus didorong mencetak lulusan yang sesuai kebutuhan industri. Maka ilmu-ilmu yang tidak dianggap mendukung pasar mulai dipandang sebelah mata.


Padahal ilmu tidak seharusnya diukur dari seberapa besar gaji lulusannya atau seberapa dibutuhkan oleh perusahaan.


Dalam sistem kapitalisme, manusia dipandang berdasarkan nilai manfaat ekonominya. Selama seseorang mampu menghasilkan keuntungan materi, ia dianggap sukses dan berguna. Sebaliknya, ketika ilmunya tidak menghasilkan keuntungan ekonomi besar, keberadaannya mulai dipertanyakan.


Cara pandang ini akhirnya membuat pendidikan kehilangan ruhnya. Kampus lebih sibuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan industri daripada membangun kualitas manusia secara utuh. Ketika pasar berubah, jurusan berubah. Ketika industri tidak membutuhkan, ilmu disingkirkan. Sangat pragmatis dan dangkal.


Kalau tujuan pendidikan hanya untuk kerja, sebenarnya muncul pertanyaan lain: lalu mengapa harus pendidikan panjang bertahun-tahun? Mengapa tidak langsung pelatihan kerja saja?


Bukankah perusahaan juga sering mengeluhkan lulusan kampus yang tetap harus dilatih ulang?


Ini menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya memang lebih luas daripada sekadar kebutuhan industri. Pendidikan seharusnya membentuk manusia yang matang secara intelektual dan kepribadian, bukan hanya manusia yang siap bekerja.


Lebih ironis lagi, negara seakan lepas tangan terhadap tanggung jawab mencetak SDM untuk melayani rakyat. Negara hanya mengikuti arah pasar. Ketika industri membutuhkan bidang tertentu, kampus diarahkan ke sana. Ketika tidak dibutuhkan, jurusannya bisa dihapus.


Padahal seharusnya negaralah yang menentukan kebutuhan SDM berdasarkan kebutuhan rakyat, bukan berdasarkan permintaan industri.


Akibat sistem ini, banyak bidang ilmu penting perlahan kehilangan perhatian. Ilmu-ilmu yang sebenarnya sangat dibutuhkan masyarakat, seperti pendidikan, pertanian, sosial, bahkan ilmu agama, sering kali dianggap kurang menjanjikan secara ekonomi. Padahal peradaban tidak hanya dibangun oleh orang-orang yang bekerja di industri besar, tetapi juga oleh guru, pendidik, ulama, peneliti, dan para penjaga moral masyarakat.


Allah Swt. telah mengingatkan bahwa manusia tidak boleh menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan utama. Allah Swt. berfirman:


“Padahal kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali Imran: 185)


Ketika pendidikan hanya diukur dari keuntungan materi, maka manusia akan kehilangan orientasi hakiki dalam menuntut ilmu.


Pendidikan dalam Pandangan Islam


Islam memandang pendidikan sebagai sarana membangun manusia bertakwa, berilmu, dan beradab. Dalam Islam, manusia telah dimuliakan sejak ia menjadi manusia. Allah Swt. memuliakan manusia dengan akal, bukan dengan jabatan, nilai pasar, ataupun besarnya kontribusi terhadap industri.


Allah Swt. berfirman: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam.” (QS. Al-Isra: 70)


Karena itu pendidikan dalam Islam tidak dibangun di atas standar untung-rugi ekonomi, tetapi untuk membentuk manusia yang memahami tujuan hidupnya dan mampu memberikan manfaat terbaik bagi masyarakat.


Ilmu dalam Islam memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Bahkan wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca.


Allah Swt. berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)


Ayat ini menunjukkan bahwa Islam memandang ilmu sebagai kebutuhan dasar manusia dan fondasi peradaban.


Rasulullah saw. juga bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)


Karena itu tujuan pendidikan dalam Islam bukan sekadar mencetak pekerja, tetapi membentuk manusia yang mengenal Rabb-nya, memahami syariat-Nya, dan mampu berkontribusi bagi umat.


Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab penuh terhadap pendidikan. Negara menentukan visi pendidikan berdasarkan akidah Islam, bukan berdasarkan tekanan pasar. Negara mencetak para ahli sesuai kebutuhan umat: dokter, guru, ulama, ilmuwan, ahli pertanian, teknolog, dan lainnya. Semua bidang ilmu dihargai selama membawa manfaat dan mendukung kemaslahatan masyarakat.


Negara juga wajib menjamin akses pendidikan yang layak bagi seluruh rakyat. Pendidikan tidak boleh dikendalikan kepentingan industri atau pemilik modal. Sebab ketika pendidikan tunduk pada pasar, maka ilmu akan mudah diperjualbelikan dan kehilangan orientasi pembentukan manusia.


Karena itu pendidikan dalam Islam tidak akan tunduk pada kepentingan industri kapitalistik. Pendidikan diarahkan untuk membangun manusia berkualitas secara utuh: kuat akidahnya, luas ilmunya, baik adabnya, dan bermanfaat bagi umat.


Sebab manusia bukan mesin ekonomi. Manusia adalah makhluk mulia yang diberi akal oleh Allah Swt.. Pendidikan seharusnya menjaga kemuliaan itu, bukan justru merendahkannya menjadi sekadar alat produksi pasar. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]