Nasib Perempuan dalam Belenggu Kapitalisme
OpiniAturan Islam datang dengan segala kesempurnaannya
untuk menjamin agar kaum perempuan bisa melaksanakan tugas utamanya dengan optimal
_______________________________
Penulis Dewi Jafar Sidik
Tim Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Telah terjadi peristiwa memilukan Senin, (27-04-2026) kecelakaan yang melibatkan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek menghantam bagian belakang rangkaian KRL yang tengah berhenti di sekitar Stasiun Bekasi Timur.
Hingga Selasa (28-04-2026) malam, setidaknya 15 penumpang dinyatakan meninggal dunia dan 88 lainnya luka-luka. Korban disebut mayoritas berasal dari gerbong khusus perempuan yang berada di titik benturan paling parah. (kompas.id, 29-04-2026)
Kasus memilukan lainnya, kasus dugaan kekerasan di tempat penitipan anak (daycare) di Yogyakarta. Menurut kesaksian orang tua korban, anak-anaknya diikat kaki dan tangannya, serta tidak dipakaikan baju hanya pakai popok saja. Korban kasus tersebut setidaknya menimpa 53 anak. (bbc.com, 27-04-2026)
Kedua peristiwa tersebut mengisyaratkan rumitnya permasalahan kehidupan kaum perempuan hari ini. Betapa tidak, korban yang meninggal dunia dan luka-luka pada kecelakaan kereta api tersebut mayoritas perempuan. Ada yang berprofesi sebagai guru, tenaga kesehatan, karyawan, buruh dan mahasiswa.
Adapun kasus kekerasan di daycare juga korbannya didominasi anak dari para ibu pekerja. Tuntutan ekonomi membuat mereka terpaksa meninggalkan anak, dan pilihannya adalah menitipkan anak di daycare berbiaya murah. Perkara perizinan, kelayakan fasilitas, jaminan keamanan, dan sebagainya, tampaknya luput dari penilaian mereka.
Perempuan Bekerja, Terpaksa atau Sekadar Gaya?
Kedua jenis kasus di atas, memang tidak terkait langsung. Akan tetapi, semuanya membuktikan bahwa nasib kaum perempuan saat ini jauh dari kata sejahtera. Kemiskinan keluarga, sulitnya lapangan kerja bagi para suami, gelombang besar PHK, melonjaknya harga-harga barang pokok, termasuk tingginya biaya pendidikan dan kesehatan, membuat kehidupan mereka penuh dengan kesulitan.
Dari peristiwa kecelakaan KRL, beragam cerita mencuat. Salah satunya banyak ditemukan cooler bag ASI di tempat kejadian. Hal ini menggambarkan perjuangan yang luar biasa dari ibu pekerja. Nyaris setiap hari KRL ini dipenuhi penumpang perempuan. Tidak sedikit di antara mereka rela berjibaku berebut kereta demi bekerja untuk membantu perekonomian keluarga. Di antara mereka ada yang harus rela meninggalkan keluarga tercinta di rumah dengan risiko perjalanan dan nasib yang penuh ketidakpastian.
Saat ini, suatu keniscayaan keterlibatan kaum perempuan di dunia kerja. Bahkan dari tahun ke tahun disinyalir jumlah mereka terus meningkat. Keterlibatan kaum perempuan meningkat di dunia kerja sering kali berhubungan dengan beberapa faktor. Misalnya, akses pendidikan tinggi dan keterampilan profesional yang diisyaratkan lebih baik, meningkatnya kebutuhan untuk tercapainya kemandirian ekonomi, serta adanya dorongan perwujudan diri yang semuanya berkaitan dengan gesernya pandangan masyarakat mengenai peran gender.
Namun, realitanya di luar soal perubahan pemikiran masyarakat dan soal posisi perempuan. Justru yang menjadi pendorong utama perempuan bekerja saat ini adalah faktor ekonomi. Demikian tampak dari struktur ketenagakerjaan yang digeluti perempuan pekerja. Sebagian besar pekerja perempuan di Indonesia ternyata bekerja di bawah pihak lain yang pada biasanya minim perlindungan hukum dan jaminan sosial.
Oleh karenanya, wajar jika permasalahan yang mereka hadapi tidaklah mudah. Mereka diapit antara dua perkara, yakni antara harus mengambil tanggung jawab untuk menyelesaikan problem ekonomi keluarga, dan adanya tuntutan agar tetap bisa berperan optimal melaksanakan tugas sebagai istri dan ibu pengasuh anak-anaknya.
Padahal, membayangkan dunia kerja tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Di tengah ketatnya persaingan dan minimnya jaminan keamanan, kaum perempuan juga harus siap menanggung risiko berupa kekerasan, upah rendah, praktik diskriminasi, dan lain-lain. Semua ini tentu memerlukan energi ekstra, pikiran, dan mental emosional mereka.
Perempuan dalam Sistem Kapitalis Sekuler
Kondisi tersebut memang niscaya terjadi karena mereka hidup dalam sistem yang destruktif dan tidak sesuai fitrah. Inilah sistem kapitalisme sekuler yang tegak di atas landasan sekularisme dan liberalisme yang meminggirkan peran agama dari kehidupan. Sistem ini telah nyata berpotensi mendatangkan berbagai kerusakan, termasuk kemiskinan struktural dengan segala problem turunannya.
Pasalnya, sistem ini sangat mengagungkan kebebasan, terutama kebebasan memiliki dan kebebasan berbuat. Alhasil, kemenangan milik mereka yang kuat dan yang lemah lama-kelamaan akan tersingkirkan. Dalam aspek ekonomi, para pemilik modal akan dengan mudah menambah harta kepemilikannya. Akibatnya, kesenjangan sosial pun akan terus terbuka dan melebar serta melahirkan berbagai bentuk ketidakadilan.
Sistem kapitalis sekuler memosisikan perempuan sebagai faktor produksi yang rentan mengalami kapitalisasi dan eksploitasi. Saat kemiskinan meluas dan pertumbuhan ekonomi statis, kaum perempuan dipaksa untuk bertanggung jawab menjadi penggerak ekonomi negara dengan dalih pemberdayaan dan kesetaraan.
Sementara posisi negara yang diharapkan bisa memberi jalan keluar dan penjagaan. Justru negara dalam sistem kapitalisme sekuler bertindak sebagai regulator sekaligus fasilitator yang hanya mengabdi pada kepentingan para kapitalis. Ini terlihat dari berbagai regulasi yang dibuat kerap menyusahkan rakyat banyak dan justru menjadi sumber penderitaan bagi kaum perempuan, termasuk perempuan pekerja.
Islam Jalan Pembebasan bagi Perempuan
Berbeda dengan kapitalisme, dalam Islam posisi perempuan sangat mulia dan strategis, yakni sebagai desain peradaban, pencetak generasi cemerlang. Hal ini selaras dengan tujuan penciptaan manusia, yakni untuk menghamba pada Sang Pencipta sekaligus menjadi khalifah di bumi ciptaan-Nya.
Rasulullah bersabda:
"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepimpinannya..." (HR. Bukhari Muslim)
Oleh sebab itu, aturan Islam datang dengan segala kesempurnaannya untuk menjamin agar kaum perempuan bisa melaksanakan tugas utamanya dengan optimal. Aturan Islam menjamin kesejahteraan kaum perempuan, baik secara fisik, finansial, dan mental serta menjadikan negara sebagai pelayan dan penjaga utama.
Kaum perempuan dalam Islam ditetapkan ada di bawah perlindungan suami dan walinya. Harkat dan martabat mereka harus dijaga, sekaligus hak nafkahnya juga wajib dijamin secara layak. Mereka tidak diberi kewajiban menanggung beban ekonomi keluarga, sekalipun dibolehkan bagi mereka untuk bekerja sepanjang tidak melalaikan tugas utamanya dan tidak melanggar ketentuan hukum syarak.
Konsekuensinya, negara wajib untuk memastikan agar para bapak dan para suami mereka bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan memudahkan bagi mereka meraih standar kehidupan yang layak bagi keluarganya. Negara juga wajib untuk memberi bekal sekaligus menciptakan kondisi yang kondusif untuk mencegah semua perkara yang akan melencengkan perempuan dari tugas utamanya. Termasuk memberikan sanksi kepada para wali dan bapak yang abai terhadap kewajibannya, dan menyantuni bagi mereka yang uzur dan lemah untuk bisa menunaikan tugasnya.
Semua ini pasti adanya, jika seluruh aturan Islam diterapkan secara kafah, mulai dari sistem ekonomi, politik, keuangan, hukum, pergaulan, persanksian, dan pendidikan, serta sistem lainnya. Dengan penerapan Islam kafah, negara akan memiliki kemandirian dan kemampuan, termasuk dalam hal perekonomian untuk menyejahterakan rakyatnya dengan tingkat yang tidak bisa diraih oleh sistem manapun. Negara dalam hal ini sungguh berfungsi sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (penjaga).
Sejarah telah membuktikan, saat umat Islam bersatu hidup di bawah naungan sistem Islam, yang menerapkan Islam secara kafah, mereka mampu tampil sebagai umat terbaik. Pada masa itu peran strategis kaum perempuan berjalan sangat optimal. Terbukti dengan tegaknya peradaban Islam selama belasan abad sebagai maha karya generasi emas yang dipastikan lahir dari rahim dan didikan kaum perempuan yang luar biasa hebatnya.
Penutup
Semua ini jelas sangat bertentangan dengan kehidupan kita sekarang. Di bawah sistem kapitalis sekular nasib kaum perempuan dan umat secara keseluruhan jauh dari kemuliaan. Karena itu kita tidak mungkin berharap dapat meraih kemuliaan dan kesejahteraan jika sistem ini terus dipertahankan.
Dengan demikian, kunci satu-satunya untuk meraih kembali kemuliaan kaum perempuan dan umat secara keseluruhan dan membebaskan mereka dari keterpurukan hanyalah dengan mengembalikan sistem pemerintahan Islam. Tentu saja, semua ini butuh perjuangan dan pengorbanan yang sungguh-sungguh untuk membangun kesadaran umat tentang kewajiban dan pentingnya penerapan Islam secara kafah, melalui aktivitas dakwah pemikiran tanpa jalan kekerasan. Wallahualam bissawab.


