G4za Tercekik Blokade, Urgensi Perisai Umat Menguat
OpiniFenomena ini membuktikan bahwa
sekat nasionalisme telah berhasil mengoyak persatuan umat Islam ke dalam bingkai nasionalisme yang sempit________________________
Penulis Nurhy Niha
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA. com, OPINI - Perhatian dunia belakangan teralihkan sepenuhnya pada eskalasi konflik antara Iran, Isra*l, dan Amerika Serikat. Sementara itu, nasib P4lestina justru kian terpuruk di titik nadir.
Hujan bom tiada henti, dikepung blokade, dan diluluhlantakkan kehidupannya. Di sana, perdamaian hanyalah angan-angan, yang nyata hanyalah siklus kepedihan yang terus berulang selama puluhan tahun. Ketika Dewan Keamanan PBB dan hukum internasional tampak tak berdaya, warga G4za dipaksa bertahan sendirian di antara reruntuhan yang sunyi dan mematikan.
Kejahatan entitas Zion*s kembali menyeruak ke permukaan saat mereka nekat menyita kapal-kapal pembawa bantuan kemanusiaan di perairan internasional. Dilansir dari cnn.com (01-05-2026), pemerintah Jerman dan Italia mengecam keras aksi angkatan laut Isra*l yang mencegat lebih dari 20 kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional dekat Pulau Kreta. Armada yang membawa sekitar 175 aktivis ini merupakan bagian dari total 58 kapal yang berlayar dari Sisilia untuk menembus blokade ketat Isra*l di Jalur G4za.
Pelanggaran Hukum Laut Internasional
Pembajakan di perairan internasional ini menorehkan catatan kelam sekaligus menjadi bukti telanjang betapa pongahnya entitas Zion*s. Mereka secara terang-terangan memosisikan diri kebal hukum dan tak tersentuh oleh aturan global mana pun. Tindakan sewenang-wenang ini terus berjalan tanpa rasa takut sedikit pun karena minimnya sanksi tegas dari dunia internasional.
Dengan dalih yang selalu sama, mereka menuding misi kemanusiaan tersebut berafiliasi dengan Hamas sebuah skenario klasik untuk menjustifikasi pelanggaran hukum secara terbuka di mata dunia. Blokade yang mengurung 2,4 juta penduduk sejak 2007 ini kian memperparah krisis kemanusiaan di sana. Penderitaan ini kian memuncak akibat agresi tanpa henti yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir pasca Oktober 2023. Gempuran tersebut telah merenggut paksa lebih dari 72.000 nyawa dan meninggalkan luka fisik maupun trauma mendalam bagi lebih dari 172.000 warga G4za.
Kekejaman ini tidak hanya menyasar para relawan di laut. Data OHCHR mengonfirmasi kenyataan pahit bahwa hampir 300 jurnalis gugur sejak Oktober 2023 akibat agresi brutal ini. Angka-angka ini bukan sekadar data statistik di atas kertas, melainkan saksi bisu atas upaya penghancuran sistematis terhadap sebuah peradaban manusia.
Upaya Kriminalisasi Bantuan
Labelisasi teror terhadap misi kemanusiaan ini merupakan narasi yang sengaja diproduksi secara sistematis. Tujuannya jelas, menciptakan pembenaran palsu agar mesin perang mereka bisa terus bergerak tanpa intervensi. Lewat narasi manipulatif ini, Zion*s mencoba mengaburkan batasan antara pejuang, warga sipil, hingga aktivis kemanusiaan guna menciptakan zona di mana darah manusia menjadi halal untuk ditumpahkan. Justifikasi semu ini terus digunakan sebagai tameng untuk mencuci tangan dari praktik genosida yang disaksikan secara langsung oleh masyarakat global melalui layar ponsel mereka.
Ironi yang paling menyayat hati adalah kenyataan bahwa tidak ada satu pun angkatan laut dari negeri-negeri muslim yang bergerak memberikan perlindungan nyata bagi kapal-kapal bantuan tersebut. Fenomena ini membuktikan bahwa sekat nasionalisme telah berhasil mengoyak persatuan umat Islam ke dalam bingkai nasionalisme yang sempit. Akibatnya, loyalitas penguasa muslim lebih condong pada kepentingan diplomasi Barat, sementara eksistensi penjajah justru awet karena sikap diamnya kekuatan militer di negara-negara tetangga.
Tragedi ini berawal dari hilangnya institusi politik yang berpijak pada akidah Islam. Tanpa adanya kepemimpinan politik tunggal yang berdaulat, yakni Khil4fah Islam, segenap kekayaan alam dan kekuatan militer umat Islam akan terus tersandera oleh kepentingan global yang mendukung pendudukan. Selama negeri-negeri muslim masih mengekor pada sistem Kapitalisme-Barat, P4lestina akan tetap menjadi wilayah yang mudah diinjak-injak tanpa pembelaan yang berarti.
Mengembalikan Perisai Hakiki
G4za bukan sekadar wilayah di peta, melainkan bagian penting dari tanah ribath kaum muslim yang secara syariat wajib dilindungi. Bagi kaum muslim, P4lestina khususnya wilayah Syam adalah tanah ribat yang utama. Status ini disandarkan pada beberapa hadis Nabi Muhammad saw., salah satunya:
"Akan selalu ada sekelompok dari umatku yang teguh di atas kebenaran, mereka tampak unggul atas musuh-musuh mereka... sampai datangnya ketetapan Allah." Para sahabat bertanya, "Di mana mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Di Baitul Maqdis dan wilayah sekitarnya." (HR. Ahmad)
Umat Islam di P4lestina yang bertahan di tanah kelahiran mereka di tengah konflik dan blokade dianggap sedang melakukan ibadah ribat (berjaga-jaga membela kesucian Masjidil Aqsa).
Membiarkan blokade ini berlanjut tanpa tindakan nyata adalah sebuah kemungkaran besar yang menuntut perubahan. Sebagaimana pesan Rasulullah:
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya (kekuasaan)...” (HR. Muslim)
Menolong G4za hari ini tidak cukup dengan diplomasi atau kecaman tertulis yang diabaikan. Secara historis, hanya kepemimpinan yang tegak di bawah payung Khilaf4h Islamiah yang memiliki otoritas dan kewajiban melindungi jiwa kaum muslim. Perisai umat inilah yang kelak memasang badan di garda paling depan, menjadi pelindung nyata bagi jiwa-jiwa yang selama ini dibiarkan tergilas tirani. Seperti penegasan Rasulullah: "Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan perisai." (HR. Bukhari dan Muslim)
Perjuangan mewujudkan kembali kepemimpinan Islam bukan pilihan, tetapi kewajiban ideologis. Tanpa persatuan, umat Islam akan terus terombang-ambing dalam arus kepentingan asing. Visi inilah yang menjadi solusi mendasar untuk mencabut akar penjajahan hingga ke pangkalnya dan memulihkan kembali kehormatan bumi Palestina.
Kemarahan umat atas pembantaian dan pembajakan di G4za harus ditransformasikan menjadi energi dakwah yang terorganisir. Langkah strategis ini menuntut kita untuk kembali pada metode perjuangan Rasulullah, terutama dalam mengonstruksi pemikiran dan kesadaran politik di tengah-tengah umat.
Hanya melalui tegaknya kembali perisai umat inilah, penderitaan panjang di G4za dapat diakhiri secara tuntas dan kemuliaan umat Islam dapat kembali kita rasakan. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


