Alt Title

Bungkamnya Penguasa terhadap Suara Rakyat

Bungkamnya Penguasa terhadap Suara Rakyat




Pemerintahan Islam bukanlah negara autokrasi

tetapi merupakan negara manusiawi yang pemimpinnya memberlakukan sistem aturan Islam 

______________________________


Penulis Siti Rahmawati 

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Gelombang protes raksasa bertajuk gerakan "No Kings" (Bukan Raja) meledak di seluruh penjuru Amerika Serikat (AS) pada Sabtu menjadi salah satu aksi massa terbesar yang pernah terjadi di tanah Paman Sam. 


Para demonstran membawa bermacam atribut simbolik, mulai dari patung tiup raksasa bergambar Donald Trump yang menodai konstitusi, hingga replika kepala pejabat tinggi yang dituntut untuk segera dicopot.


Lautan manusia dari Washington hingga California data dari BBC menyebutkan lebih dari 3.000 titik aksi telah dikoordinasikan di 50 negara bagian. Diperkirakan massa mencapai 5 hingga 7 juta orang, dari kawasan National Mall hingga tangga Lincoln Memorial berubah menjadi lautan manusia. (Kompas.com, 28-3-2026)


Terjadinya demo "No Kings" di AS secara sosiopolitis merupakan gerakan yang menandai titik jenuh publik terhadap gaya kepemimpinan Donald Trump yang melampaui batas konstitusional, dinilai otoriter, dan didikte oleh elite miliarder. 


Ada 6 tuntutan utama gerakan "No Kings" dalam berbagai sektor di antaranya stop kebijakan "ala Raja" yaitu menolak segala tindakan presiden yang mengabaikan kongres dan konstitusi. Hentikan perang Iran yaitu mendesak AS menarik diri dari konflik berdarah di Iran.


Reformasi imigrasi yaitu menolak razia agresif dan penahanan massal oleh pihak ICE. Tarik Aparat Federal yaitu mendesak militerisasi di kota-kota besar segera dihentikan. Lindungi hak sipil yaitu menuntut jaminan hak pilih dan kebijakan lingkungan yang pro-rakyat. Atasi biaya hidup yaitu mendesak pemerintah fokus pada inflasi yang mencekik ekonomi warga.


Gelombang protes ini juga berpengaruh pada melonjaknya harga minyak, biaya hidup, dan kebijakan yang lainnya. Meski aksi demonstran jutaan orang turun ke jalan, warga mendapat respons yang dingin dari Gedung Putih, pihak Gedung Putih tampak berusaha mengecilkan arti demonstran ini sehingga tingkat kepuasan publik Trump pun merosot ke level terendah.


Bahkan seorang juru bicara mengatakan aksi besar ini hanya sebagai " Sesi Terapi Gangguan Trump" yang hanya dipedulikan oleh media massa. Oleh karena itu, massa akan datang kembali dengan aksi mogok nasional pada 1 Mei mendatang.


Makna narasi "No Kings" dipahami sebagai penolakan terhadap kekuasaan absolut dan tindakan represif penguasa yang membatasi kebebasan berpendapat dan mengabaikan suara rakyat. Padahal AS adalah negara adidaya yang paling demokratis di dunia. Namun, nyatanya Trump memilih menjadi seorang diktator tanpa ada kompromi khususnya keterlibatan dalam konflik di Iran yang menentang kebijakan perang dan kebijakan imigrasi keras.


Dalam sistem kapitalis saat ini aksi kritis terhadap penguasa sebagai bentuk kebebasan berpendapat. Demokrasi selalu digaungkan suara rakyat dan menjamin hak pendapat di depan umum. Namun, sayang realitanya jauh dari kenyataan, aspirasi yang bertujuan untuk mengoreksi atau muhasabah para penguasa malah menghasilkan pemimpin otoriter yang justru dibenci rakyatnya sendiri setelah berkuasa. Begitulah kapitalisme mencetak penguasa yang rusak dari lahir. Aksi "No Kings" sebagai bukti ketidakstabilan pemerintah Trump yang memicu perlawanan besar dari akar AS sendiri.


Bahkan tidak aneh, banyak para aktivis dan massa yang memberikan aspirasinya untuk kemajuan pemerintahan dibungkam suaranya. Ada yang diintimidasi, dipenjara bahkan sampai kehilangan nyawa. Sungguh miris suara rakyat hanya berlaku jika penguasa ada kepentingan dalam pemerintahannya untuk tetap langgeng berkuasa tanpa adanya kompromi.


Lalu bagaimana pandangan dalam Islam ketika terjadi aksi massa? Sesuai dengan hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda, "Agama adalah nasihat untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslim dan orang-orang awam." (HR. Bukhari dan Muslim)


Seorang pemimpin dalam Islam harus siap untuk di muhasabah oleh rakyat, baik secara langsung atau dengan mekanisme lain melalui lembaga seperti majelis umat di ibukota atau majelis wilayah di daerah. Majelis umat dan majelis wilayah berisi para wakil rakyat yang dipilih untuk menjadi representasi rakyat dalam hal muhasabah dan pendapat.


Dengan demikian, para penguasa tidak represif dan antikritik, menerima koreksi dan juga sanksi tegas jika terbukti melakukan kezaliman pada rakyat karena penguasa bukanlah orang-orang yang kebal hukum. Muhasabah merupakan bagian penting dari amar makruf nahi mungkar.


"Siapa saja yang menyaksikan kemungkaran, hendaknya mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu hendaknya dengan lisannya. Jika tidak mampu hendaknya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)


Para penguasa tetaplah manusia yang tidak maksum. Penguasa bukanlah titisan Tuhan sehingga ia bisa saja berbuat salah. Ini menunjukkan pemerintahan Islam bukanlah negara autokrasi, tetapi merupakan negara manusiawi yang pemimpinnya memberlakukan sistem aturan Islam secara menyeluruh yang berasal dari Allah taala. 


Penguasa dan rakyatnya saling menjaga amanah dari Allah, bertanggung jawab pada kehidupannya agar senantiasa berada pada rida Allah semata, bukan pada kekuatan atau kekuasaan yang sesaat.


Oleh karena itu, para penguasa menyadari bahwa tujuan muhasabah adalah menjaga kekuasaan agar tetap sesuai tuntunan syariat, tidak berbelok atau melenceng sedikit pun. Dengan terjaganya kekuasaan sesuai syariat, akan terwujud negara yang baik dan dilimpahi rahmat serta ampunan Allah taala. Wallahualam bissawab.