Penyesatan Opini BoP: Penjajahan Gaya Baru di P4lestina
OpiniBahaya terbesar dari BoP bukan hanya terletak pada isinya
tetapi pada pemanfaatan penguasa negeri-negeri muslim untuk melegitimasi rencana jahat AS dan Isra*l mewujudkan New G4za
_________________
Penulis Fatimah Al Fihri
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kondisi di P4lestina hari ini bukan sekadar angka statistik dalam berita. Melainkan potret nyata dari kezaliman yang sengaja dinormalisasikan. Di G4za kehancuran tetap menjadi pemandangan sehari-hari. Ratusan ribu warga hidup berdesakan di tenda pengungsian yang kerap terendam banjir saat hujan melanda. (cnnindonesia.com, 25-02-2026)
Kelaparan merajalela hingga warga terpaksa berbuka puasa di atas reruntuhan rumah mereka akibat agresi Isra*l yang menghancurkan infrastruktur. (cnnindonesia.com, 25-02-2026)
Pendidikan pun terhenti sepenuhnya meninggalkan generasi muda P4lestina dalam masa depan yang penuh ketidakpastian. Sementara di Tepi Barat, teror tidak kalah mencekam. Tindak kekerasan, pembunuhan, hingga penggusuran lahan terus terjadi secara sistematis.
Fakta di lapangan menunjukkan bahwa pemukim ilegal Israel bahkan berani membakar tenda dan kendaraan milik warga P4lestina. Sering kali di bawah pengawasan atau bantuan tentara IDF. (cnnindonesia.com, 27-02-2026)
Bahkan laporan terbaru mencatat jatuhnya korban jiwa dari kalangan remaja Palestina yang tewas ditembak oleh pasukan Israel di Tepi Barat. (Antara News, 2026)
Di tengah duka yang mendalam ini, muncul sebuah narasi solusi yang dikemas rapi melalui inisiatif Board of Peace (BoP) buatan Donald Trump. Salah satu langkah konkretnya adalah pengumuman susunan National Committee for the Administration of G4za (NCAG) oleh Ali Shaath. (Merdeka, 2026)
Komite yang beranggotakan 15 teknokrat ini diproyeksikan untuk mengawasi pelucutan senjata, mempertahankan satu hukum, serta mengintegrasikan atau membubarkan semua kelompok bersenjata setelah melalui proses verifikasi yang ketat. (cnnindonesia.com, 20-02-2026)
Namun, benarkah ini demi kepentingan P4lestina? Atau ini hanya upaya penyesatan opini untuk memuluskan agenda penjajahan model baru?
Skeptisisme terhadap BoP
Warga P4lestina di lapangan secara terbuka menyatakan skeptisisme mereka terhadap BoP (cnnindonesia.com, 23-02-2026)
Ketidakpercayaan ini memiliki akar sejarah yang kuat. Amerika Serikat (AS) terutama di bawah kendali Trump secara konsisten menunjukkan keberpihakan mutlak kepada Isra*l melalui kebijakan politik dan militer, termasuk penggunaan hak veto di PBB untuk membela kepentingan entitas Zion*s.
Krisis berkepanjangan di G4za dan Tepi Barat adalah akibat langsung dari tindakan Isra*l yang telah ratusan kali melanggar perjanjian damai. Tawaran perdamaian melalui BoP sebenarnya hanya instrumen legitimasi bagi AS dan Isra*l untuk melanjutkan pembersihan etnis (ethnic cleansing), genosida, dan perampasan tanah P4lestina.
Melalui narasi rekonstruksi dan keamanan, BoP berupaya menjinakkan perlawanan rakyat P4lestina. Pembentukan NCAG jika ditelaah lebih dalam, bukan representasi aspirasi rakyat, melainkan bagian dari skema BoP untuk memastikan G4za berada di bawah kendali administratif yang bisa disetir oleh kepentingan asing.
BoP dan Jebakan bagi Negeri-Negeri Muslim
Bahaya terbesar dari BoP bukan hanya terletak pada isinya, tetapi pada pemanfaatan penguasa negeri-negeri muslim untuk melegitimasi rencana jahat AS dan Isra*l mewujudkan New G4za. Dengan melibatkan negara-negara muslim dalam dukungan terhadap BoP, AS seolah ingin memberikan kesan bahwa solusi ini memiliki mandat dari dunia Islam. Padahal Isra*l sendiri menunjukkan sikap oportunis dengan enggan membayar iuran BoP, yang membuktikan bahwa proyek ini hanyalah alat politik belaka.
Keterlibatan penguasa negeri-negeri muslim dalam proyek ini adalah bentuk pengkhianatan nyata. Mereka memilih bersekutu dengan skema buatan AS di mana Isra*l menjadi anggota aktif di dalamnya. Pembentukan NCAG yang menggantikan kontrol kelompok perlawanan lokal adalah upaya penyesatan opini agar umat menganggap bahwa masalah Palestina bisa selesai dengan manajemen teknokratis, padahal akar masalahnya adalah penjajahan fisik dan ideologis.
Haram Bergantung pada Penjajah
Umat Islam harus menyadari bahwa bagi Isra*l, perdamaian hanya janji yang akan terus dilanggar. Kaum muslim dilarang untuk percaya apalagi mendukung perdamaian dengan entitas yang sangat memusuhi Islam. Allah Swt. telah memperingatkan dalam Al-Qur'an mengenai kerasnya permusuhan mereka: "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik..." (QS. Al-Ma'idah: 82)
AS dan Isra*l adalah representasi kekuatan kafir yang bersekutu untuk menguasai dunia melalui penjajahan politik, ekonomi, maupun militer. Dalam pandangan Islam, haram hukumnya bagi umat untuk bergantung atau mendukung solusi yang ditawarkan oleh pihak-pihak yang terus-menerus melakukan kerusakan di muka bumi (QS. Al-Ma'idah: 64). Merujuk pada pemikiran dalam mafahim siyasi, kerja sama politik dengan negara penjajah hanya akan berakhir pada penghancuran kedaulatan umat itu sendiri.
Menuju Solusi Hakiki: Persatuan Umat dan Khil4fah
Kejahatan luar biasa di P4lestina tidak bisa diselesaikan dengan label Board of Peace. Umat harus menyadari bahwa Allah Swt. telah memberikan batasan yang tegas agar tidak memberikan jalan bagi kaum kafir untuk menguasai dan menghancurkan kaum mukmin (QS. An-Nisa: 141).
Solusi bagi P4lestina bukan diplomasi meja bundar yang dipimpin oleh sang penjajah. Melainkan mobilisasi kekuatan Islam global. Umat harus bersatu untuk melawan dominasi penjajahan AS dan Isra*l. Hal ini akan terwujud dengan tegaknya kembali Khil4fah Rasyidah, sebuah institusi politik yang akan menyatukan kekuatan militer dan ekonomi kaum muslimin di bawah satu kepemimpinan.
Sebagaimana dijelaskan dalam Ajhizah Daulah, fungsi jihad dan perlindungan terhadap tanah kaum muslim adalah kewajiban negara yang mandiri, bukan komite teknokrat yang tunduk pada kepentingan Barat. Pembebasan P4lestina bukan dimulai dari meja perundingan Trump, melainkan dari kesadaran umat untuk memutus rantai ketergantungan pada solusi kafir penjajah dan membangun kekuatan di bawah naungan syariat Islam secara kafah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


