Alt Title

Makan Siang Gratis, Benarkah Lepas dari Middle Income Trap?

Makan Siang Gratis, Benarkah Lepas dari Middle Income Trap?



Program makan siang gratis sangat jauh dari realisasi cita-cita sejati dan ada motivasi 

agar negeri ini lepas dari status middle income trap dengan hasil yang semu


_______________________________


Penulis Sunarti

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Sosial


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Wakil Presiden terpilih Gibran Rakabuming Raka, mengaku mengirimkan Tim Prabowo-Gibran ke India untuk belajar mengenai program makan siang gratis. Itu semua, karena India dianggap berhasil dalam hal percontohan makan Siang Gratis dengan jumlah penduduk terbanyak. Dengan mencontoh India, Gibran berharap bisa menyiapkan skema terbaik untuk diterapkan di Indonesia. Selain itu, ingin belajar distribusi program makan siang gratis hingga efektivitas program tersebut, Selasa (2/4/2024). detik.com


Menko Bidang Perencanaan Airlangga, Hartarto menegaskan, kualitas SDM untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat penting untuk membawa Indonesia lepas dari Middle Income Trap (Perangkap Pendapatan Menengah). 


Ia mendorong Prabowo Subianto-Gibran yang akan menjalankan program makan siang gratis untuk anak sebagai bentuk investasi SDM. Airlangga Hartarto berharap melalui program ini, tidak ada lagi masyarakat Indonesia yang kekurangan gizi dan stunting. SDM yang unggul itu penting untuk membawa Indonesia lepas dari Middle Income Trap (Perangkap Pendapatan Menengah), Minggu, 7/4/2024. Kompas.com


Sejatinya, kualitas SDM dipengaruhi oleh banyak hal tidak hanya dari konsumsi makana. Bahkan, terselenggaranya program ini masih menjadi pertanyaan mengingat besarnya peluang korupsi atas program negara hari ini yang justru akan semakin menjauhkan terwujudnya target yang dimaksud. Posisi Indonesia di middle income trap bukan semata karena kualitas SDM yang rendah. Ada banyak faktor lain yang berperan, termasuk sistem ekonomi yang digunakan. Sementara, kualitas SDM tidak hanya sehat secara fisik namun juga mental.


Ide peningkatan kualitas generasi dengan cara merubah isi perut tidak akan mampu merubah pola berfikir. Walaupun kebutuhan jasmani penting untuk dipenuhi. Namun, tanpa diimbangi penanaman Aqidah Islam yang kuat. Mustahil mewujudkan generasi yang berkualitas karena, isi kepala akan menentukan standar dan hasil dari proses berpikir.


Kita harus menyadari bahwa bangkitnya manusia tergantung pada pemikirannya tentang kehidupan, alam semesta, manusia, serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum dan sesudahnya. Sebab, pemikiran yang membentuk dan memperkuat persepsi dan pemahaman terhadap sesuatu.


Oleh sebab itu, kebijakan yang hanya memikirkan isi perut belum tentu akan mengarahkan kualitas generasi ke arah standar hidup hakiki serta standar halal haram bagi kehidupannya. Program makan siang gratis sangat jauh dari realisasi cita-cita sejati dan ada motivasi agar negeri ini lepas dari status middle income trap dengan hasil yang semu.


Generasi saat ini sedang dilanda berbagai krisis seperti: sektor pendidikan, hedonisme pemikiran, kesejahteraan ekonomi dan liberalisasi media. Untuk meningkatkan kualitas generasi tidak cukup dengan mengisi perutnya. Tetapi, harus menjamin dan menjaga pemikirannya agar tumbuh menjadi generasi peradaban yang sahih pemikirannya.


Maka dari itu, untuk menanggulangi berbagai faktor penyebab krisis ini membutuhkan solusi yang bersifat sistemik. Sehingga, tidak cukup dengan realisasi program makan siang gratis. Perubahan yang akan diemban generasi berkualitas harus mengarah pada perubahan hakiki.


Firman Allah Swt. “Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, sebelum mereka merubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum,maka tidak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (TQS.Ar-Rad : 11).


Profil generasi muda muslim berkualitas adalah mereka yang menghendaki menjadi umat terbaik menurut standar Allah Swt, yakni terikat dengan aturan Islam. Mereka adalah orang-orang yang berkepribadian Islam yang memiliki pola pikir dan sikap Islami. Visi misi kehidupan mereka untuk membela Islam, menjadikan dakwah sebagai poros hidup, beretos kerja prima, pemberani, berkarakter pemimpin, serta mampu berikhtiar terbaik dan tawakal tertinggi dengan kemuliaan Islam dan kaum muslim.


Untuk menjadikan pemuda muslim produktif tangguh dan menjadi umat terbaik tidak cukup hanya dengan upaya individu atau keluarga. Harus ada lingkungan masyarakat yang sehat dan negara tidak disetir oleh kezaliman dan kepentingan para kapitalis melalui ideologi sekulernya.


Negara harus memenuhi kebutuhan asasi kolektif secara gratis dan berkualitas yaitu kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Sumber daya manusia yang cerdas, mulia dan unggul akan lahir serta menjadi penopang tegaknya negara dan peradaban mulia yaitu peradaban Islam. Wallahualam bissawab. [Dara]