Alt Title

Pelayanan Jemaah Haji, Menanti Solusi

Pelayanan Jemaah Haji, Menanti Solusi

Jelas ini merupakan petunjuk terutama bagi pihak penyelenggara haji agar betul-betul memperlakukan jemaah haji dengan baik. Yaitu dengan memudahkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan saat melakukan ibadah haji

Sebagaimana para penguasa dulu ketika masa kekhilafahan Islam. Mereka para penguasa berupaya keras supaya para jamaah haji bisa melaksanan haji tanpa ada hambatan dan kesulitan apa pun

_____________________________


Penulis Verawati S.Pd.

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Ibadah haji adalah termasuk ibadah yang paling sulit. Selain butuh biaya yang tidak sedikit, diperlukan kesehatan dan kekuatan fisik. Sebab ibadah haji memakan waktu yang cukup lama dengan berbagai ritual yang banyak di luar ruangan. Tak hanya itu, peserta haji pun jumlahnya ratusan ribu orang. Dengan kondisi seperti ini membutuhkan pelayanan haji yang sangat baik. Seperti tempat tinggal, makanan, minuman, kemanan, dan fasilitas penunjang lainnya agar proses ibadah haji berjalan lancar.


Namun, fakta di lapangan tidaklah begitu. Ada saja kesulitan yang dialami oleh para jemaah haji, termasuk jemaah haji Indonesia dan mungkin jemaah dari negara lainnya. Untuk tahun ini, kesulitan yang dirasakan para jemaah adalah masalah makan terutama dan juga tempat beristirahat saat melakukan wukuf di Arafah. Banyak para jemaah haji yang tidak mendapatkan jatah makan dan juga masalah lainnya.


Dilansir oleh media CNNIndonesia[dot]com (04/07/2023), pihak DPR akan memanggil Kemenag untuk mengevaluasi total penyelenggaraan ibadah haji tahun 2023. Menurut Ace Hasan Syadzil yang menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi VIII DPR sekaligus Tim Pengawas Haji mengatakan setidaknya ada lima masalah yang terjadi pada tahun ini. Yaitu, pendistribusian makanan saat ada di Mina yang amburadul, tenda dan toilet yang kurang, transportasi selama proses Armizna, fasilitas untuk lansia dan terakhir yaitu, kinerja mashariq (pihak pelayan haji dari Arab) yang tidak memenuhi komitmen. Terutama saat di Arafah, Mina dan Muzdalifah.


Ke depan kita semua berharap bahwa pelayanan ibadah haji lebih baik lagi. Menanti kesungguhan dari berbagai pihak terutama dari pihak penyelenggara yaitu Arab Saudi. Berharap pelayanan yang tidak optimal tahun ini, menjadi pelajaran agar ke depannya lebih baik lagi.


Sebab bagaimanapun para jemaah haji adalah tamu Allah Swt. Ini merupakan predikat tertinggi yang diberikan langsung oleh Allah Swt. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw., "Orang yang berperang di jalan Allah, orang yang berhaji serta berumroh, adalah tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh karena itu, jika mereka meminta kepada Allah pasti akan Allah beri.” (HR. Ibnu Majah)


Jelas ini merupakan petunjuk terutama bagi pihak penyelenggara haji agar betul-betul memperlakukan jemaah haji dengan baik. Yaitu dengan memudahkan berbagai fasilitas yang dibutuhkan saat melakukan ibadah haji. Sebagaimana para penguasa dulu ketika masa kekhilafahan Islam. Mereka para penguasa berupaya keras supaya para jamaah haji bisa melaksanan haji tanpa ada hambatan dan kesulitan apapun.


Salah satunya dicontohkan oleh Harun ar-Rasyid. Beliau adalah Khalifah pada masa Dinasti Abbasiyah yang sangat memperhatikan penyelenggaraan ibadah haji. Di antara yang beliau lakukan adalah membangun jalan sepanjang 900 mil dari Kufah hingga Makkah yang disebut dengan Dari Zubaydah (Jalan Zubaydah). Jalan ini merupakan rute paling awal yang dibuat khusus untuk para peziarah yang dibangun pada tahun 780 M. Selain itu, dibuat tempat-tempat peristirahatan atau pemberhentian pada jarak tertentu sebanyak 54 tempat. Di tempat istirahat ini tersedia air, tempat berteduh dan mesjid. Hal ini dibuat untuk memudahkan para pejalan kaki untuk bisa menempuh haji dengan mudah. 


Semua dilakukan semata-mata untuk melayani para jemaah sebagai tamu Allah Swt.. Ketika lalai dalam pengurusan ini tentu akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Sebab penguasa adalah pelayan umat. Dengan begitu, para penguasa Islam tidak layak menjadikan penyelenggaraan ibadah haji untuk tujuan komersial. Walhasil, Semua menanti solusi untuk para jemaah haji. Wallahualam bissawab. [MDh]