Maulid Nabi saw. Bukan Sekadar Nostalgia Sejarah
OpiniCinta harus dibuktikan dengan ittiba
Ketika kita mengaku mencintai Rasulullah saw., pertanyaannya bukan hanya “sudah berapa banyak shalawat yang kita baca?”, tetapi juga “sudah sejauh mana kita mengikuti Islam yang beliau bawa?”
______________________
Penulis Ekke Ummu Khoirunnisa
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Rabiul Awal adalah bulan istimewa bagi kaum muslim. Pada bulan inilah Rasulullah Muhammad saw. lahir sebagai manusia pilihan Allah yang membawa risalah Islam untuk seluruh umat manusia.
Setiap tahun, umat Islam menyambut Maulid Nabi saw. dengan penuh kegembiraan. Selawat diperbanyak, tabligh akbar digelar, majelis ilmu diselenggarakan, bahkan berbagai kegiatan kebersamaan dilakukan. Pada tahun 1448 H ini, misalnya, Kementerian Agama menginisiasi Gema selawat Kebangsaan dengan target partisipasi 1.781.945 umat Islam dari berbagai penjuru Indonesia. Peringatan tersebut diarahkan untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah saw. dan meneladani akhlak beliau. (nasional.sindonews.com, 27-08-2026)
Semua itu merupakan ekspresi kecintaan kepada Rasulullah saw. Namun, ada pertanyaan yang jauh lebih mendasar, apakah kecintaan umat kepada Rasulullah saw. telah mendorongnya untuk mengikuti seluruh risalah dan perjuangan beliau?
Sebab, mencintai Rasulullah saw. bukan hanya dengan memperbanyak selawat dan mengenang kelahiran beliau. Cinta kepada Rasulullah semestinya melahirkan ittiba, yaitu mengikuti apa yang beliau bawa dan perjuangkan.
Allah Swt. berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali 'Imran: 31)
Ayat ini memberikan standar yang jelas. Cinta bukan sekadar pengakuan. Cinta harus dibuktikan dengan ittiba. Maka, ketika kita mengaku mencintai Rasulullah saw., pertanyaannya bukan hanya “sudah berapa banyak selawat yang kita baca?” tetapi juga “sudah sejauh mana kita mengikuti Islam yang beliau bawa?”
Rasulullah saw. tidak hanya mengajarkan ibadah individual. Beliau membawa Islam sebagai risalah yang mengatur kehidupan manusia, mulai dari akidah, ibadah, akhlak, makanan dan pakaian, keluarga, pendidikan, ekonomi, hubungan sosial, hingga urusan pemerintahan dan kemasyarakatan.
Karena itu, keteladanan kepada Rasulullah saw. tidak semestinya berhenti pada akhlak pribadi, tetapi juga perlu dipahami melalui perjalanan dakwah dan perjuangan beliau dalam menegakkan risalah Islam. Ketika Rasulullah saw. diutus, masyarakat Arab berada dalam berbagai bentuk penyimpangan akidah, pemikiran, sosial, dan politik.
Persoalan utama yang beliau hadapi bukan sekadar persoalan moral individu. Rasulullah saw. menyeru manusia kepada لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ "Tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah". Kalimat tauhid tersebut bukan sekadar ucapan, tetapi merupakan pernyataan pembebasan manusia dari penghambaan kepada selain Allah.
Allah Swt. berfirman:
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ
Artinya : “Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul kepada setiap umat dengan seruan: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36)
Dakwah Rasulullah saw. kemudian mengubah pemikiran, perasaan, dan perilaku masyarakat hingga lahir masyarakat Islam di Madinah. Dengan demikian, perubahan yang dibawa Rasulullah adalah perubahan yang berangkat dari akidah Islam dan berujung pada diterapkannya Islam dalam kehidupan.
Dalam perspektif pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, persoalan umat tidak cukup dipandang sebagai persoalan individu semata. Dalam Nizham al-Islam, beliau membahas bahwa sebuah masyarakat dibentuk oleh manusia, pemikiran, perasaan, dan aturan yang mengatur interaksi di antara mereka. Karena itu, perubahan masyarakat tidak cukup hanya dengan memperbaiki individu, tetapi juga harus menyentuh pemikiran dan aturan yang berlaku.
Inilah yang menjadikan pembahasan Maulid tidak berhenti pada “mari menjadi orang yang lebih baik", tetapi harus dilanjutkan menjadi "bagaimana Islam menjadi dasar kehidupan sehingga manusia dapat hidup sesuai dengan aturan Allah?”
Allah Swt. berfirman:
إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ
Artinya : “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah.” (QS. Yusuf: 40)
Maka, problem mendasar masyarakat modern dipandang berkaitan dengan kepemimpinan pemikiran (qiyadah fikriyah) yang mendasari kehidupan. Beliau mengkritik kapitalisme-sekularisme karena memisahkan agama dari pengaturan kehidupan dan menempatkan manusia sebagai pembuat aturan.
Islam bukan agama yang hanya mengatur masjid dan ibadah ritual. Islam adalah risalah yang Allah turunkan untuk mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh. Karena itu, jika Maulid dijadikan momentum mencintai Rasulullah saw., maka kecintaan itu harus mendorong umat untuk:
- Mempelajari akidah dan syariat Islam;
- Membangun kepribadian Islam;
- Menjalankan seluruh hukum Allah;
- Memahami persoalan umat dengan perspektif Islam;
- Melakukan amar makruf nahi mungkar;
- Membangun kesadaran umat; dan
- Memperjuangkan kehidupan yang menjadikan Islam sebagai pedoman secara menyeluruh.
Meneladani Rasulullah saw. bukan hanya pada apa yang beliau lakukan, tetapi juga memahami bagaimana beliau melakukan perjuangan dakwahnya.
Dalam kerangka pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, perjalanan dakwah Rasulullah saw. dipahami melalui tiga tahapan utama:
1. Tasqif/pembinaan
Rasulullah saw. membina para sahabat dengan pemikiran dan tsaqafah Islam. Beliau membentuk generasi yang memiliki akidah yang kokoh; pemikiran Islam; kepribadian Islam; kesadaran terhadap kondisi umat; dan kesiapan mengemban risalah Islam.
Tahap ini menunjukkan bahwa perubahan tidak lahir secara instan. Perubahan besar dimulai dari perubahan pemikiran manusia.
Allah Swt. berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka.” (QS. Ar-Ra'd: 11)
2. Tafa'ul ma'al Ummah/ Berinteraksi dengan Umat
Setelah terbentuk kader dakwah, perjuangan tidak berhenti di lingkungan pembinaan. Dakwah berinteraksi dengan masyarakat. Umat diajak memahami apa masalah yang sebenarnya sedang mereka hadapi; mengapa umat mengalami keterpurukan? apa solusi Islam terhadap persoalan tersebut?
Rasulullah saw. berdakwah secara terbuka, menyeru Quraisy, menjelaskan kebatilan pemikiran mereka, dan menawarkan Islam sebagai jalan perubahan.
Allah Swt. berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
Artinya : “Hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Ali 'Imran: 104)
Pada tahap ini, dakwah bukan sekadar menyampaikan nasihat individual, tetapi membangun kesadaran umat terhadap persoalan kehidupan dengan sudut pandang Islam.
3. Istilamul Hukmi/Penerimaan kekuasaan
Dalam konstruksi pemikiran Syeikh Taqiyudin an-Nabhani, tahap berikutnya adalah istilamul hukmi, yaitu penerimaan kekuasaan untuk menerapkan Islam dalam kehidupan. Hal ini dipandang sebagai bagian dari proses yang beliau konstruksikan berdasarkan perjalanan Rasulullah saw. dari fase Makkah menuju Madinah. Setelah Rasulullah mendapatkan dukungan dari penduduk Madinah melalui Bai'at Aqabah, beliau kemudian berhijrah dan membangun masyarakat serta pemerintahan Islam di Madinah.
Dalam kerangka ini, kekuasaan dipandang bukan sebagai tujuan material, tetapi sebagai sarana untuk memungkinkan hukum-hukum Islam diterapkan dalam kehidupan masyarakat.
Kita juga perlu mempelajari bagaimana beliau:
membangun akidah, membina generasi, mendakwahkan Islam, menghadapi pemikiran jahiliyah, membangun kesadaran umat, hingga Islam diterapkan dalam kehidupan.
Inilah yang membuat Maulid tidak berhenti sebagai nostalgia sejarah. Maulid harus menjadi momentum untuk membaca kembali perjalanan Rasulullah saw. dan mengambil pelajaran dari perjuangan beliau.
Rasulullah saw. datang membawa rahmat. Rahmat itu tidak hanya berupa perasaan kasih sayang, tetapi hadir melalui risalah Islam yang memberikan petunjuk bagi manusia.
Maka tugas umat setelah Rasulullah saw. adalah menjaga risalah tersebut, mempelajarinya, mengamalkannya, dan menyampaikannya kepada manusia.
Allah Swt. berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Artinya : “Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali 'Imran: 110)
Mari kita jadikan Maulid sebagai momentum untuk bermuhasabah.
Bukan hanya "apakah kita sudah memperbanyak selawat?" tetapi juga "apakah kita sudah mengikuti Rasulullah saw.?”
Bukan hanya “apakah kita mengetahui sejarah beliau?” tetapi "apakah kita memahami risalah yang beliau bawa?”
Bukan hanya "apakah kita mencintai akhlak beliau?” tetapi “apakah kita bersedia mengemban risalah Islam sebagaimana beliau mengembannya?”
Juga bukan hanya “apakah kita ingin perubahan?” tetapi “apakah perubahan itu kita perjuangkan dengan ilmu, dakwah, kesabaran, dan metode yang sesuai dengan tuntunan syariat?”
Maulid adalah momentum untuk menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah saw. dengan ittiba kepada risalahnya. Karena mencintai Rasulullah berarti mencintai apa yang beliau bawa. Mengikuti Rasulullah berarti mengikuti petunjuk yang beliau ajarkan.
Meneladani Rasulullah berarti mempelajari perjalanan hidup dan perjuangan beliau. Mengemban risalah Rasulullah berarti berusaha menjadi bagian dari umat yang menyeru kepada Islam dan kebaikan. Mari jadikan Maulid bukan hanya sebagai perayaan, tetapi sebagai momentum kebangkitan kesadaran umat.
Dari cinta menjadi ittiba'. Dari ittiba' menjadi dakwah. Dari dakwah lahir perubahan. Islam pun tidak hanya menjadi keyakinan di dalam hati dan ritual pribadi, tetapi benar-benar menjadi petunjuk kehidupan yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Wallahualam bissawab.[BY/MKC]


