Alt Title

Kesehatan Mental Gen Z: Dari Depresi Menuju Perubahan Hakiki

Kesehatan Mental Gen Z: Dari Depresi Menuju Perubahan Hakiki


Penerapan Islam dalam kehidupan justru akan menjadi solusi atas setiap krisis yang terjadi

karena Islam bukan hanya agama melainkan sistem hidup

____________________


Penulis Aryndiah

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Kesehatan Mental Menghantui gen Z
Gangguan kesehatan mental terus menghantui gen Z. Meski demikian, gen Z justru menunjukkan sikap yang lebih terbuka mengenai isu kesehatan mental.


Bagi mereka, kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesejahteraan. Oleh karena itu, ketika mereka mengalami gangguan kesehatan mental seperti depresi, sebagian dari mereka akan pergi ke layanan profesional untuk konsultasi, terapi, hingga penggunaan obat sebagai respon atas masalah mental yang dialaminya.


Meskipun gen Z memiliki kesadaran tinggi tentang kesehatan mental, faktanya keadaan tersebut adalah bentuk respons dari tekanan yang mereka alami dari berbagai sisi. Menurut survei yang melibatkan 1.158 responden dari kalangan gen Z, sebanyak 60% gen Z khawatir akan masa depannya, akibat ketidakpastian pada kondisi global saat ini.


Kekhawatiran ini menjadi salah satu pemicu utama gangguan mental diikuti dengan faktor lainnya seperti tekanan ekonomi sebesar 57 persen, ekspektasi sosial sebesar 42 persen, dan perasaan tak berdaya terhadap sesuatu di luar kendali sebanyak 36 persen. (data.goodstats.id, 08-04-2026)


Temuan yang sama juga diungkapkan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin melalui hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025-2026. Data tersebut menunjukkan sekitar 700 ribu anak atau 10 persen anak di Indonesia mengalami gejala gangguan kesehatan mental berupa kecemasan dan depresi.

 

Pada tahun-tahun sebelumnya juga menunjukkan kekhawatiran yang sama, seperti Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 yang menemukan sekitar 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan mental. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62,19 persen mengalami kekerasan fisik, emosional, atau seksual dalam waktu 12 bulan.


Hal serupa juga diungkapkan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada 2022 bahwa sekitar 34,9 persen atau satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam waktu 12 bulan.


Berdasarkan data tersebut, Menkes menegaskan bahwa persoalan kesehatan mental pada generasi muda perlu mendapat penanganan serius, karena depresi dapat berujung pada kematian akibat bunuh diri. Hal ini merujuk pada data Global School-Based Student Health Survey yang menunjukkan peningkatan anak yang mencoba bunuh diri pada 2015 sebesar 3,9 persen menjadi 10,7 persen pada 2023. Bahkan kasus bunuh diri anak di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara. (tirto.id, 12-03-2026)


Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi sekitar 14,3 persen atau satu dari tujuh anak berusia 10-19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental, yang menyumbang sekitar 15 persen dari beban penyakit global pada kelompok usia ini. Menurut WHO, banyak faktor pemicu gangguan kesehatan mental, seperti kekhawatiran terhadap masa depan, tekanan ekonomi, ekspektasi sosial, pola pengasuhan keluarga, lingkungan sosial, dan penggunaan media sosial. Alhasil, pemicu tersebut melahirkan generasi skeptis yang akan memberikan dampak luas seperti penurunan prestasi belajar, gangguan interaksi sosial, perubahan perilaku, hingga memicu pada tindakan berbahaya. (kompas.id, 18-06-2026)


Berdasarkan data di atas, sayangnya gen Z justru dicap sebagai generasi rapuh dan mudah mengeluh oleh generasi sebelumnya akibat tekanan kehidupan yang dialaminya. Padahal, hidup di kondisi tidak ideal seperti saat ini memang sulit dan banyak ketidakpastian. 


Namun, di balik cap yang mereka terima, justru situasi ini akan memunculkan gelombang resistensi yang diprediksi akan menjadi titik balik bagi gen Z di seluruh dunia. Di Indonesia, gelombang ini sudah mulai muncul pada diri gen Z, seperti peristiwa unjuk rasa yang terjadi beberapa waktu lalu, sebagai bentuk penolakan mereka terhadap kebijakan bodoh pemerintah dalam mengelola negara yang menyebabkan rakyat semakin menderita.


Sekuler Kapitalistik Pemicu Kesehatan Mental


Rasa cemas dan depresi yang dialami gen Z sejatinya adalah akibat dari krisis multidimensi yang mereka hadapi. Tidak hanya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia mengalami hal yang sama. Kondisi ini telah melemahkan potensi dan merusak jati dirinya. Generasi yang seharusnya menjadi pelopor kegemilangan peradaban nyatanya harus menelan pil pahit kehidupan.


Banyak dari mereka yang harus mengubur dalam-dalam impian atau cita-citanya, akibat kerasnya kehidupan, biaya pendidikan yang semakin tidak terjangkau, harga kebutuhan pokok semakin mahal, dan sulitnya lapangan pekerjaan, serta ancaman PHK yang terus menghantui masyarakat. Wajar hal tersebut, menjadi pemicu kecemasan dan depresi pada generasi, jangankan mewujudkan cita-citanya, untuk membayangkannya saja mereka tidak berani.


Belum lagi pengaruh media sosial. Gen Z adalah generasi yang melek teknologi, hampir seluruh waktunya mereka gunakan untuk berselancar di media sosial. Di tengah situasi saat ini, banyak sekali informasi yang bertebaran di media sosial, seperti krisis ekonomi, PHK, perubahan iklim, kriminalitas, konflik dan peperangan, atau skandal selebritas. Jika generasi terus membaca informasi seperti itu, mereka akan mengalami doomscrolling yang akan memunculkan rasa cemas, sulit tidur, dan khawatir akan masa depannya.


Belum lagi, ketika mereka mengonsumsi informasi kesuksesan orang lain sebayanya, di saat dirinya menghadapi kesulitan hidup, yang demikian juga akan memunculkan rasa social comparison pada dirinya. Social comparison memang tidak selalu buruk, karena bisa juga dijadikan sebagai motivasi. Namun, jika dilakukan terus-menerus dan hanya berfokus pada kekurangan diri, dampaknya bisa menurunkan rasa percaya diri, merasa tidak berguna, meningkatkan stres, hingga risiko gangguan kesehatan mental.


Apa yang dialami generasi saat ini adalah buah dari penerapan sistem kehidupan sekuler kapitalistik. Sistem ini menjadikan orientasi kehidupan pada materi semata, orientasi ini membentuk persepsi bahwa kehidupan membutuhkan materi yang sangat banyak untuk mencapai kebahagiaan.


Kebahagiaan semu inilah yang menyebabkan banyak generasi mengalami masalah gangguan kesehatan mental. Banyak generasi beranggapan bahwa materi adalah segalanya, sehingga mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkannya. Namun, ketika kebahagiaan tidak tercapai, akan muncul rasa cemas pada dirinya, yang dapat berujung pada depresi.


Padahal untuk memperoleh materi saat ini sangatlah sulit, ketidakstabilan global mengakibatkan mencari pekerjaan semakin susah, ancaman PHK yang terus menghantui, namun harga kebutuhan pokok kian mahal. Di sisi lain, mereka menyaksikan segelintir orang memiliki materi yang sangat melimpah dan menampakkan hidup mewahnya.


Inilah yang membuat mereka cemas hingga berujung depresi, karena menjadikan standar kesuksesan segelintir orang untuk menjalani kehidupannya. Padahal jika didalami, mengapa ada segelintir orang yang sangat kaya di saat banyak masyarakat mengalami kesulitan? Nyata kehidupan kapitalistik membuat distribusi kekayaan hanya pada segelintir orang.


Parahnya, kondisi seperti ini tidak dianggap serius oleh pemerintah. Pemerintah hanya fokus membuat kebijakan-kebijakan bodoh yang menyengsarakan rakyat, tapi menguntungkan kepentingan golongannya dan para kapital. Negara yang seharusnya menjadi garda terdepan untuk melindungi dan mencegah generasi terpuruk, justru menjadi penyebab penderitaan rakyat.


Alih-alih merangkul generasi agar mereka menggunakan potensinya untuk kemajuan negara, pemerintah justru membiarkan stigma buruk melekat pada diri generasi. Padahal apa yang dialami generasi adalah buah dari kebijakan yang diterapkan pemerintah.


Hidup pada kondisi di mana negara tidak mengurusi rakyat adalah salah satu bentuk depresi terbesar. Karena, rakyat dibiarkan berjuang sendiri untuk hidup, sementara mereka terus melakukan kerusakan dan memelihara kerusakan tersebut, serta menganggap rakyatnya bodoh. Padahal mereka ang seharusnya menjamin kehidupan rakyat.


Di sisi lain, keadaan seperti ini mendorong generasi untuk terus mengkritik pemerintah. Karena, gen Z dikenal sebagai generasi yang berani menyuarakan pendapatnya baik secara langsung, seperti unjuk rasa atau melalui platfrom media sosial. Pada akhirnya, justru rasa cemas dan depresi yang dialami gen Z nantinya akan berbalik memunculkan gelombang resistensi yang akan membawa perubahan ke arah yang lebih ideal.


Islam Solusi Problematika Generasi


Penerapan sistem sekuler kapitalis telah nyata menimbulkan krisis multidimensi. Solusi yang ditawarkan masih belum mampu menyelesaikan seluruh problematika kehidupan, sebaliknya solusi tersebut hanya memunculkan masalah baru yang lebih besar. 


Berbeda dengan Islam, penerapan Islam dalam kehidupan justru akan menjadi solusi atas setiap krisis yang terjadi, karena Islam bukan hanya agama melainkan sistem hidup. Penerapannya secara sempurna akan mendatangkan rahmat bagi seluruh alam yang akan membawa ketenangan dan keselamatan hidup manusia, karena sejatinya Islam sesuai dengan fitrah manusia, sehingga setiap kebijakan yang diterapkan tidak akan menyebabkan rasa putus asa.


Hal ini terbukti dengan kejayaan Islam pada masa lalu yang telah menjadi mercusuar peradaban dunia, yang mana banyak dari generasi muda yang turut menjadi penyumbang kemajuan peradaban. Padahal pada masa itu perkembangan teknologi belum semasif saat ini, namun mereka mampu menjadi pelopor perubahan, apalagi fakta bahwa mereka tidak hanya menguasai satu bidang ilmu saja. 


Karakter generasi kuat tersebut adalah buah dari penerapan syariat Islam pada seluruh aspek kehidupan. Akidah Islam telah menjadi kepemimpinan berpikir umat pada saat itu dengan fakta bahwa negara yang memiliki andil besar dalam penerapannya, karena negara hadir sebagai pelindung dan pelayan umat yang akan menjamin pemenuhan kebutuhan pokok hidup secara adil dan merata, sehingga kesejahteraan akan dirasakan di semua lini kehidupan. 


Negara akan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yaitu pola pikir dan pola sikap Islam sehingga akan terbentuk generasi yang berkepribadian Islam, agar dalam setiap aktivitasnya hanya untuk meraih rida Allah dan berkontribusi untuk kemajuan umat. Di samping itu negara juga akan menjamin pemenuhan setiap kebutuhan dasar rakyatnya, sehingga generasi tidak perlu takut untuk mencapai impiannya, karena negara yang akan memfasilitasinya secara gratis dan berkualitas. 


Dengan demikian, menjadi kewajiban para pengemban dakwah ideologis untuk terus menyadarkan generasi hari ini agar mereka sadar dan mau berjuang bersama untuk mengemban ideologi Islam, agar rasa peduli mereka terhadap kondisi umat bisa diarahkan pada perubahan hakiki, yaitu dengan penerapan syariat Islam secara kafah di bawah naungan Daulah Islamiah. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]