Alt Title

Cerdas Bermedia: Menempatkan AI sebagai Alat Bantu Bukan Pengganti Guru

Cerdas Bermedia: Menempatkan AI sebagai Alat Bantu Bukan Pengganti Guru

 



Ketika kita bertanya tentang hukum agama kepada AI

ada potensi besar jawaban yang kita terima sudah disortir, disaring, dan dirumuskan agar sesuai dengan "selera" atau standar sang pembuat program

______________________________


Penulis Yulianti Eris Sarifah

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Muslimah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sejak gawai pintar menjadi perpanjangan tangan kita, segalanya mendadak terasa instan. Mau belanja tinggal klik, mau makan tinggal pesan, bahkan mau tanya urusan agama pun kini cukup mengetik di kolom pencarian.


Di kalangan generasi muda, kehadiran kecerdasan buatan (AI) yang menjelma bagai "ustaz digital" di layar ponsel memang menjadi fenomena yang cepat sekali diterima. Mereka ramah, tidak pernah tidur, dan punya jawaban untuk ribuan pertanyaan dalam hitungan detik.


Namun, di balik kecepatan itu, tersimpan sebuah tanya yang mendalam: relakah kita mempertaruhkan masa depan spiritual kita pada algoritma yang tak berjiwa?


Tentu kita tidak bisa menutup mata dari kenyataan. Dilansir dari republika.co.id (Kamis, 02 Juli 2026), Kementerian Agama (Kemenag) melihat bahwa teknologi ini digemari anak muda karena kepraktisannya. Hanya saja, Kemenag mengingatkan dengan tegas bahwa AI hanyalah alat bantu untuk mencari referensi atau merangkum informasi, bukan pengganti ulama apalagi rujukan utama dalam persoalan agama.


Mengapa demikian? Karena ilmu keislaman itu bukan sekadar teks mati yang dipotong-potong lalu diramu ulang oleh mesin. Di dalam setiap hukum Islam, ada konteks, ada metodologi (istimbat hukum), dan yang paling mahal: ada hikmah (kebijaksanaan) dalam penerapannya. Semua itu membutuhkan rasa, empati, dan pemahaman mendalam terhadap kondisi nyata manusia—sesuatu yang selamanya tidak akan pernah dimiliki oleh tumpukan baris kode pemrograman.


Kita juga harus sadar bagaimana AI bekerja. Platform digital ini menyajikan informasi berdasarkan data yang bertebaran di internet. Masalahnya, apakah semua informasi di internet itu sahih? Tentu tidak. Seperti yang diingatkan oleh pakar ITB dalam pemberitaan republika.co.id (Kamis, 02 Juli 2026)


AI itu masih bisa salah dan memiliki celah eror (halusinasi AI), sehingga sangat berbahaya jika dijadikan acuan utama. Jangankan menjadikannya sebagai mufti untuk meminta fatwa hukum agama, untuk urusan informasi umum yang tepercaya saja kita masih harus memilahnya dengan ekstra hati-hati.


Lebih jauh lagi, ada risiko sistemis yang sering kali kita lupakan. Platform digital ini beroperasi di bawah pengawasan korporasi atau regulasi negara tempat ia dikembangkan. Algoritmanya dirancang berdasarkan kriteria kebijakan, keamanan, bahkan kepentingan tertentu. 


Ketika kita bertanya tentang hukum agama kepada AI, ada potensi besar jawaban yang kita terima sudah disortir, disaring, dan dirumuskan agar sesuai dengan "selera" atau standar sang pembuat program. Bayangkan jika fatwa agama tidak lagi bersandar pada ketakutan kepada Allah semata, melainkan pada kepatuhan terhadap kebijakan korporasi teknologi. Sungguh mengerikan.


Dalam konstruksi hukum Islam, penetapan hukum dan fatwa bersumber dari Al-Qur'an, Sunah, ijmak, dan qiyas yang diperoleh melalui proses ijtihad yang amat ketat. Tugas mulia ini hanya bisa diemban oleh para ulama yang berakal, memiliki kedalaman ilmu (faqih fid din), mukhlis (ikhlas), dan memiliki rasa takut (khosyah) hanya kepada Allah Swt..


Allah Swt. sendiri telah memberikan panduan yang jelas dalam Al-Qur'an mengenai kepada siapa kita harus bertanya ketika menghadapi ketidaktahuan:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"...maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)


Ayat ini menggunakan kata ahli dzikri (orang yang memiliki pengetahuan dan mengingat Allah), sebuah kata yang merujuk pada manusia yang berakal dan memiliki kesadaran spiritual. Sebuah platform digital, secanggih apa pun ia mensimulasikan kecerdasan, tetaplah benda mati yang tidak berakal, tidak punya kesadaran, dan tidak memiliki rasa takut kepada hari akhir. Ia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi ulama.


Teknologi silahkan kita manfaatkan untuk mempermudah hidup, mempercepat pencarian kitab, atau merangkum referensi awal. Namun, ketika urusannya sudah menyentuh halal-haram, keyakinan hati, dan bimbingan jiwa, kembalilah pada para ulama yang mumpuni secara sanad ilmu dan ketakwaannya. Karena iman kita terlalu berharga jika hanya dititipkan pada kecerdasan buatan yang tak berjiwa. Wallahualam bissawab.