Terjebak Sekat Nasionalisme, Kegagalan Umat Muslim Membela P4lestina
OpiniApa yang menimpa bumi para nabi saat ini bukanlah konflik biasa
melainkan sebuah luka yang sengaja dipelihara oleh sistem dunia saat ini
______________________
Penulis Nuha Naziihah
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dunia hari ini sering kali lupa terhadap akar masalah dari sebuah konflik panjang. Meskipun setiap detik terus muncul berbagai berita yang meliput ledakan bom di G4za, jerit tangis anak-anak di Tepi Barat, hingga ruang-ruang sidang internasional yang riuh oleh perdebatan tanpa ujung.
Namun, memahami P4lestina tidak bisa dimulai dari apa yang terjadi kemarin sore. Untuk melihat arah masa depannya secara jernih, kita harus membuka lembaran sejarah yang menjadi asal dari segala malapetaka yang terjadi hari ini. Sebab apa yang menimpa bumi para nabi saat ini bukanlah konflik biasa, melainkan sebuah luka yang sengaja dipelihara oleh sistem dunia saat ini.
Tragedi Nakba yang diperingati setiap tanggal 15 Mei bukan sekadar catatan usang didalam buku sejarah. Nakba adalah awal mula dari luka menganga yang hingga hari ini belum juga mengering. Sudah 78 tahun lamanya rakyat P4lestina hidup dalam penindasan sejak entitas Yahudi merebut tanah mereka secara paksa pada tahun 1948, sebuah perampasan keji yang pada saat itu didukung penuh oleh Inggris.
Hingga detik ini, jutaan umat Islam di G4za dan Tepi Barat masih terus berjuang sendirian demi mengusir penjajah dari tanah air mereka. Mereka bertaruh nyawa digaris depan, bertahan di tengah genosida yang kejam, sementara para pemimpin dunia muslim memilih bungkam.
Realitas di lapangan menunjukkan bahwa penderitaan P4lestina adalah bukti nyata dari penjajahan dan perampasan hak yang terjadi tiada henti. Media dunia saat ini sibuk menyerukan gencatan senjata atau mendesak adanya perlindungan internasional bagi warga sipil, seperti yang disuarakan oleh Liga Arab maupun aliansi BRICS baru-baru ini.
Namun, semua seruan itu terbukti tidak mempan untuk mengubah keadaan. Berlanjutnya penjajahan ini menjadi saksi bisu atas kegagalan total sistem sekuler-kapitalis dalam menjamin keselamatan, melindungi, dan memberikan keadilan bagi rakyat.
Lebih jauh lagi, situasi ini memperlihatkan kelemahan konsep nation-state. Sekat-sekat nasionalisme inilah yang berhasil memecah belah umat Islam, dan berujung pada para penguasa Muslim yang bersikap acuh atas nama batas negara. Hal ini membuat umat kehilangan kekuatan politik dan militernya secara global. Kita tidak bisa menaruh harapan kemerdekaan pada negara-negara adidaya, PBB, atau lembaga internasional lainnya, karena lembaga tersebut justru dirancang untuk memelihara penjajahan dan kepentingan barat ditanah kaum muslim.
Kondisi penderitaan P4lestina hari ini sebenarnya adalah dampak nyata dari apa yang telah diperingatkan dalam khazanah tafsir Al-Qur'an surah Al-Anfal ayat 73. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan Al-Qurthubi, sesungguhnya ayat ini menegaskan bahwa orang-orang kafir akan selalu saling menolong untuk menghadapi umat Islam. Jika umat Islam tidak membangun persatuan di antara sesama muslim tanpa memandang sekat bangsa, maka kekufuran akan merajalela.
Lalu, bagaimana menyelesaikan problematika umat ini? Dalam Islam, tanah P4lestina adalah tanah kharajiyah atau tanah negara yang diperoleh melalui perjuangan kaum muslim merupakan milik seluruh umat Islam hingga hari kiamat. Alhasil, mempertahankan dan membebaskannya dari perampasan tanah oleh kaum kafir harbi adalah kewajiban bagi seluruh umat Islam.
Solusi yang ditempuh seharusnya bukan mengemis keadilan pada lembaga internasional, melainkan memperjuangkan pembebasan P4lestina yang hanya mampu dilaksanakan oleh Daulah Islam. Melalui kepemimpinan Islam inilah panggilan jihad dapat diserukan secara resmi untuk menggerakkan tentara muslim dari seluruh penjuru dunia, serta memutus segala bentuk hubungan antarnegara, ekonomi, dan militer dengan rezim penjajah.
Oleh karena itu, agenda perjuangan utama kita hari ini adalah membangun kesadaran dan pemahaman di tengah umat bahwa hidup di dalam sistem Islam bukan sekadar urusan politik biasa, melainkan kewajiban untuk menaati syariat dan cara kita membuktikan iman kepada Allah Taala. Tanpa adanya kepemimpinan yang menerapkan sistem terbaik ini, kekuatan umat Islam yang berjumlah miliaran akan tetap tercerai-berai dan tidak memiliki wibawa di hadapan musuh.
Sesungguhnya, tragedi panjang P4lestina tidak akan pernah selesai selama umat Islam masih terbuai dengan sistem sekuler dan berharap pada kebaikan bangsa penjajah. Peringatan Nakba harus menjadi momen untuk sadar bahwa satu-satunya solusi untuk menuntaskan kezaliman saat ini adalah dengan menyatukan kembali kekuatan umat secara keseluruhan.
Hanya di bawah naungan kepemimpinan yang menerapkan sistem Islam secara total, kemuliaan kaum muslim dapat direbut kembali. Sudah saatnya umat ini berhenti berharap pada beragam janji palsu yang diucapkan oleh hukum internasional dan mulai melangkah maju menuju perubahan yang hakiki. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


