Rupiah Melemah Beban Masyarakat Makin Bertambah
OpiniMelemahnya rupiah ini membuat kondisi perekonomian di Indonesia makin mengkhawatirkan
Harga-harga bahan baku dan energi melambung tinggi
_____________________
Penulis Hanin Nafisah
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Rakyat ingin menjerit kembali dengan adanya kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok seiring dengan melemahnya nilai rupiah terhadap dolar. Tentunya, ini akan berdampak pada lemahnya daya beli masyarakat.
Diketahui bahwa nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mencetak rekor paling lemah terbaru. Pada Jumat (15-05) kurs dolar menyentuh Rp17.600. Masyarakat harus bersiap-siap mengencangkan ikat pinggang karena harga kebutuhan sehari-hari bakal ikut terdampak.
Ekonomi Indonesia sangat bergantung pada bahan baku impor yang nilainya mencapai 70%. Produk Impor tersebut mencakup industri kimia, tekstil, elektronik, minyak dan gas, obat-obatan, hingga kendaraan pribadi. Dengan nilai tukar rupiah yang makin melemah, otomatis harga-harga bahan baku impor ini menjadi naik karena transaksinya menggunakan dollar AS.
Menurut Teuku Riefky, peneliti di Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM FEB UI), hal ini membuat cost of production (biaya produksi) produsen domestik menjadi semakin mahal. Di tengah kondisi ini, ada dua kemungkinan yang dilakukan oleh produsen yaitu menaikkan harga barang atau terpaksa memangkas keuntungan. Meskipun di lapangan yang nampak lebih menaikkan harga atau mengurangi porsi produk. Implikasinya terhadap masyarakat sehari-hari adalah biaya hidup yang makin mahal. (BBC News Indonesia, 16-05-2026)
Dampak Rupiah Melemah
Melemahnya rupiah ini membuat kondisi perekonomian di Indonesia makin mengkhawatirkan. Harga-harga bahan baku dan energi melambung tinggi. Adapun beberapa kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan harga yaitu beras premium, cabai rawit, telur, dan minyak goreng. Akibatnya, rakyat makin terimpit kebutuhan hidup hingga berujung pada jeratan pinjol dan lain-lain.
Namun sayangnya, pemerintah memandang apa yang dialami masyarakat masih dalam kondisi aman. Misalnya saat pidato di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Presiden Prabowo sendiri sempat memberikan pernyataan bahwa masyarakat di desa tidak berdampak langsung oleh gejolak kurs dollar karena di desa tidak memakai dollar.
Selain itu, Presiden menegaskan kondisi pangan dan energi nasional masih aman meski situasi global tidak menentu. Sontak saja, pernyataan tersebut langsung dikritik netizen. Memang orang desa tidak pakai dolar, tetapi harga kebutuhan barang dipengaruhi oleh nilai dolar.
Padahal kita mengetahui bahwa konstelasi politik Internasional (perang AS-Iran) mempengaruhi aktivitas pasar global sehingga memicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Para pengamat ekonomi mengingatkan pemerintah terkait hal ini. Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Asuaibi memprediksi rupiah bisa melemah hingga ke level 18 ribu per dolar AS pada akhir Mei 2026. Ia menambahkan jika level tersebut tercapai, nilai tukar bisa melemah hingga ke level Rp22 ribu per dolar AS.
Selain faktor luar negeri (eksternal) yaitu perang AS-Isra*l dengan Iran, ada faktor dalam negeri (domestik) yang menyebabkan rupiah lesu yaitu pemasukan dan pengeluaran negara, cicilan utang dan uang cadangan yang ikut mempengaruhi.
Prospek kondisi fiskal Indonesia ini mendapat peringatan dari lembaga pemeringkat kredit dunia karena ketidakpastian kebijakan, serta pendapatan rendah, tetapi belanja tinggi. Artinya, ada risiko kondisi keuangan negara memburuk ke depanya sehingga membuat investor ragu terhadap kapasitas pembayaran APBN kita dan membuat terjadinya capital outflow (arus modal keluar).
Pemerintah berusaha mengatasi permasalahan ekonomi ini dengan mengambil beberapa langkah. Bank Indonesia (BI) menyiapkan tujuh langkah yaitu intervensi langsung di pasar valuta asing (baik dalam negeri maupun luar negeri), diantaranya dengan menarik kembali aliran modal asing melalui instrumen keuangan seperti Sekuritas Rupiah BI, serta membeli surat utang negara (SBN) untuk menjaga stabilitas pasar.
Adapun Kementerian Keuangan berencana mengaktifkan sejumlah instrumen stabilisasi pasar. Salah satunya melalui intervensi di pasar obligasi negara atau Surat Berharga Negara (SBN). Sementara Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan mengklaim pemerintah akan menjaga harga pangan dengan subsidi. Tujuannya untuk mengurangi beban ongkos produksi dan biaya distribusi.
Namun menurut Teuku Riefky bahwa ada dua skenario terburuk jika rupiah terus melemah. Pertama, Indonesia khawatir masuk dalam krisis utang sehingga tak mampu membayar utang tepat waktu. Hal ini dapat terjadi jika pemerintah tidak mengurangi belanjanya. Kedua, jika pemerintah mengurangi belanja, akan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Pada akhirnya masyarakat menanggung sendiri beban hidup karena ketiadaan peran pemerintah untuk menyelesaikan problem tersebut. Justru kebijakan yang dibuat semakin memperburuk keadaan yakni jumlah utang semakin melambung. Tahun ini saja pemerintah harus menghadapi tembok utang dengan nilai jatuh tempo pokok Rp833,96 triliun dan beban bunga utang sekitar Rp599,44 triliun.
Cara Islam Menstabilkan Ekonomi
Saat sistem kapitalisme tegak, terjadinya resesi atau krisis ekonomi kerap terjadi. Hal ini disebabkan sistem ekonomi disandarkan pada transaksi non riil yang dikembangkan dalam bentuk investasi seperti pasar modal. Selain itu, standar mata uang kertas (fiat money) saat ini sama sekali tidak ditopang oleh komoditi berharga. Nilai nominal uang kertas tidak sebanding dengan nilai intrinsiknya. Hal ini diperparah dengan transaksi riba yang makin memperburuk kondisi ekonomi nasional.
Sementara dalam Islam, negara akan menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme tertentu yang ditetapkan syariat, seperti larangan riba, jaminan distribusi dan pengaturan kepemilikan. Selain itu, sistem ekonomi Islam akan menerapkan sistem uang yang lebih stabil, yakni dengan emas dan perak.
Uang yang dikeluarkan oleh negara adalah emas dan perak atau mata uang subtitusi seperti tembaga, perunggu atau kertas yang ditopang oleh emas dan perak. Nilai nominal uang ditentukan oleh harga riil komoditas itu sendiri (intrinsic value). Standar emas telah menunjukkan inflasi yang sangat rendah. Selain itu, daya beli emas sepanjang sejarah sangat stabil. Sementara, daya beli mata uang kertas saat ini nilainya terus merosot.
Sungguh langkah yang dilakukan Islam tersebut menunjukkan betapa kesejahteraan masyarakat menjadi tanggung jawab pemimpin. Pasalnya dalam Islam, pemimpin adalah ra'in (pengurus) sekaligus junnah (penjaga) yang wajib melindungi masyarakat dari kesengsaraan hidup. Ia tidak akan tenang selama rakyatnya belum bisa merasakan kesejahteraan.
Rasulullah saw. bersabda, "Imam atau khalifah adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya." (HR. Bukhari)
Khatimah
Sistem kapitalisme akan terus menciptakan jurang kesengsaraan, salah satunya resesi ekonomi yang berulang. Untuk itu, saatnya sistem Islam diterapkan secara kafah termasuk dalam sistem ekonominya agar kestabilan ekonomi terus bisa dirasakan. Negara dapat mengurus rakyatnya dengan baik. Rakyat dapat merasakan kesejahteraan karena pengurusannya. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


