Menakar Napas Kemanusiaan di Global Sumud Flotilla
Tragedi ini menjadi tamparan keras bagi para penguasa di negeri-negeri muslim
khususnya yang berada di sekeliling kawasan G4za
Penulis Murni Cendra Kasih, S.Pd, Gr.
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dunia kembali dihentak oleh kabar pilu yang mengoyak batas kemanusiaan kita. Misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026, yang bergerak dengan bahan bakar kepedulian universal untuk menembus blokade Gaza, justru berujung pada nestapa kelam di bawah cengkeraman militer Israel. Laporan resmi yang dirilis pasca-insiden intersepsi menunjukkan bahwa apa yang dialami para relawan bukan sekadar angka statistik, melainkan potret nyata dari sebuah tragedi kemanusiaan yang paripurna.
Kepulangan Delegasi Indonesia dan Jeritan dari Balik Kontainer
Setitik kelegaan hadir di tanah air ketika sembilan relawan GSF 2026 asal Indonesia yang sempat ditangkap otoritas Israel akhirnya tiba dengan selamat. Pada Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 16.25 WIB, kesembilan relawan tersebut berjalan keluar dari Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang. Mengenakan keffiyeh atau syal khas Palestina, kedatangan mereka disambut langsung oleh Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, serta pelukan hangat kerabat yang membentangkan spanduk dan bendera Palestina diiringi sorak-sorai haru.(Detiknews.com, 24/05/2026)
Namun, di balik kepulangan tersebut, mereka membawa trauma mendalam. Di bawah jeruji penahanan militer, para WNI ini tidak hanya dihujani intimidasi verbal dengan label "teroris", tetapi mengalami siksaan fisik yang keji mulai dari pukulan hingga sengatan listrik.
Kebrutalan ini dikonfirmasi secara global oleh relawan negara lain. Alessandro Mantovani, jurnalis surat kabar Italia Il Fatto Quotidiano, dan Dario Carotenuto, anggota parlemen Italia dari Gerakan Bintang Lima yang dideportasi pada Kamis (21/5/2026) menuturkan bahwa mereka dibawa ke fasilitas penahanan dari kontainer yang disebut sebagai "tempat teror".
Mantovani mengaku dipukuli secara sadis oleh pasukan Israel. Lebih mengerikan lagi, laporan resmi mencatat setidaknya ada 15 kasus kekerasan seksual termasuk pemerkosaan yang menimpa relawan perempuan, serta tindakan penembakan peluru karet dari jarak dekat hingga menyebabkan patah tulang. Pemerintah Kanada, Jerman, hingga Spanyol pun turut membenarkan warganya menjadi korban kebrutalan serupa. (VIVA.co.id, 22/5/2026)
Labirin Impunitas dan Ketidakadilan Global
Mengapa kekejaman barbar terhadap aktivis kemanusiaan non-kombatan ini bisa terus berulang di abad modern? Jawabannya ada pada labirin impunitas global. Hukum internasional, yang seharusnya menjadi benteng perlindungan, kerap kali tampak ompong dan tidak netral karena disetir oleh kepentingan geopolitik negara-negara besar Barat yang terus mengalirkan proteksi politik bagi Israel.
Ketika hukum humaniter internasional hanya menjadi macan kertas, hukum rimba yang akan mengambil alih. Di sisi lain, tragedi ini menjadi tamparan keras bagi para penguasa di negeri-negeri Muslim, khususnya yang berada di sekeliling kawasan Gaza. Pembiaran terhadap genosida, kelaparan sistemik, dan penyiksaan relawan menunjukkan bahwa diplomasi di atas kertas telah gagal total.
Merespons hal ini, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Buya Amirsyah Tambunan, dalam acara tasyakuran kebebasan relawan GSF, menyerukan dengan tegas kepada masyarakat Indonesia dan dunia internasional untuk tidak pernah berhenti mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina.
Melampaui Respons Karitatif: Jihad Sebagai Solusi Sistemik
Tragedi kemanusiaan ini menyadarkan kita bahwa sekadar mengirimkan obat-obatan, selimut, dan bahan makanan tidak akan pernah bisa menyembuhkan kanker utama di tanah Palestina, yaitu penjajahan. Bantuan karitatif hanya obat penahan rasa sakit sementara. Akar masalah ini menuntut solusi yang mendasar dan sistemik.
Dari sudut pandang Islam, Pakar Fikih Kontemporer sekaligus Founder Institut Muamalah Indonesia, KH Muhammad Shiddiq al-Jawi, memaparkan bahwa solusi sejati atas pendudukan Palestina oleh entitas penjajah Yahudi adalah jihad fisabilillah. (KH Muhammad Shiddiq al-Jawi, Kajian Fikih: Akar Masalah dan Solusi Palestina, Jumat (20/10/2023), Kanal YouTube Khilafah Channel Reborn)
“Jihad adalah solusi untuk kafir penjajah yang menyerang negeri Islam, apalagi menduduki tanah milik mereka,” Kiai Shiddiq menegaskan bahwa jihad hukumnya fardhu ‘ain ketika musuh menyerang atau menduduki negeri Muslim. Hal ini mengacu pada keterangan Imam Al-Kasani dalam kitab Bada’i’u al-Shana’i fi Tartib al-Syara’i (7/9) mengenai kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu saat terjadi serangan umum, serta firman Allah SWT dalam QS al-Baqarah ayat 191: “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu.”
Oleh karena itu, tawaran solusi kompromi seperti solusi dua negara (two-state solution), gencatan senjata temporer, atau opsi merdeka yang tetap mempertahankan eksistensi entitas penjajah dinilai sebagai solusi yang menyesatkan karena melegitimasi perampasan tanah umat Islam.
Sempurna dengan Khilafah
Menurut Kiai Shiddiq, aktivitas jihad fisabilillah ini baru akan berjalan dengan sempurna dan kokoh secara politik-militer ketika Institusi Khilafah Islamiah tegak, berdasarkan tiga alasan utama:
1. Efektivitas Komando: Urusan jihad akan dipimpin langsung oleh seorang Khalifah sebagai kepala negara yang sah. Sesuai sabda Nabi SAW: “Jihad itu wajib atas kalian bersama setiap pemimpin (amir), entah dia pemimpin yang baik atau pemimpin yang fajir” (HR Abu Dawud & al-Baihaqi).
2. Kekuatan yang Seimbang: Menghadapi entitas penjajah yang disokong penuh oleh adidaya Barat (AS, Inggris, dll) membutuhkan kekuatan negara yang seimbang, sebagaimana perintah Allah dalam QS al-Baqarah ayat 194 untuk membalas serangan secara seimbang.
3. Mengakhiri Pengkhianatan Penguasa: Khilafah akan menggantikan para penguasa Muslim saat ini yang dinilai 'berkhianat' karena enggan mengirimkan pasukan militer resmi dan justru menghalangi umat untuk menolong Palestina. Kiai Shiddiq mengingatkan ancaman Allah dalam QS at-Taubah ayat 39 tentang azab yang pedih dan pergantian kaum bagi mereka yang berpaling dari seruan perang.
Jika hari ini kita memilih diam melihat para relawan kemanusiaan disiksa, dilecehkan, dan dikriminalisasi, kita sedang mengamini matinya nurani dunia. Sudah saatnya umat Islam bersatu secara nyata, melampaui sekat diplomasi semu, demi mengembalikan hak kemerdekaan hakiki tanah Palestina. Wallahuallam bissawab [Dara/MKC]


