Alt Title

Hegemoni Kapitalisme AS Berujung Gelombang 'No Kings'

Hegemoni Kapitalisme AS Berujung Gelombang 'No Kings'



AS dengan ideologi kapitalismenya yang kental telah menjadikan penjajahan baik dalam bentuk militer

ekonomi maupun politik sebagai metode ekspansinya demi eksistensi ideologi ini

_________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Sejak dimulainya konflik AS dan Iran, pengeluaran AS kian meningkat bahkan utang nasional mereka membengkak hingga menembus angka US$39 triliun (Rp 661.440 triliun) pada Maret 2026.


Kondisi ini tentunya merupakan yang terparah sejak dua abad terakhir, di mana AS pernah mengalami nyaris tanpa utang di awal abad ke-19. Namun, kini Negeri Paman Sam menjadi negara dengan beban utang terbesar di dunia. (cnbcindonesia.com, 28-03-2026)


Ambisi AS Menguasai Dunia


Kondisi ini memicu munculnya gelombang aksi demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat AS. Aetidaknya ada sekitar 8 juta warga yang turun ke jalan dalam aksi unjuk rasa bertajuk 'No Kings' pada Minggu, 29 Maret 2026 lalu.


Pasalnya, aksi ini merupakan puncak kekecewaan warga AS terhadap pemerintahan Trump, mereka memprotes perang, kenaikan harga makanan dan bensin, serta isu-isu lainnya yang tidak sesuai di berbagai wilayah AS. Aksi demonstrasi ini sebenarnya adalah aksi ketiga dari gerakan 'No Kings' yakni gerakan yang muncul sejak Trump memulai masa jabatan keduanya, dan bisa dibilang menjadi oposisi paling vokal terhadap Trump. (detik.com, 29-03-2026)


Melihat ambisi Trump yang ingin menguasai dunia dengan kebijakan militernya, sebenarnya hal ini bukanlah sesuatu yang menguntungkan, malah sangat merugikan keuangan negara, karena perang AS-Iran per Maret 2026 berdampak serius pada keuangan Amerika Serikat yang membuat utang AS berlipat dan menuju kebangkrutan.


Bagaimana tidak? Pengeluaran AS untuk melakukan operasi militer ke Iran per hari mencapai Rp15 triliun. Belum lagi, AS dilaporkan kehilangan peralatan militer senilai hampir $2 miliar (sekitar Rp31 triliun). Tentu nominal ini akan terus bertambah jika perang tak kunjung dihentikan. Hingga akhirnya per tanggal 08 April 2026 AS-Iran sepakat melakukan gencatan senjata setelah 38 hari berperang, tetapi sampai batas waktu yang belum ditentukan.


Sikap AS (Trump) dalam mendukung Isra*l untuk menguasai P4lestina dan juga persekutuannya dengan negara-negara teluk untuk memerangi Iran sebenarnya telah membuka mata dunia dan warga AS akan kejahatan Trump dan hegemoni kapitalisme AS. Seperti diketahui bersama bahwa negara-negara Teluk yang menjadi sekutu utama Amerika Serikat (AS) di kawasan Timur Tengah tergabung dalam Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), meliputi Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Oman. 


Mereka bekerja sama dalam keamanan regional, menampung pangkalan militer AS, dan merupakan mitra penting pertahanan. Hal ini tentunya adalah pengkhianatan besar penguasa negeri-negeri muslim terhadap kejahatan AS yang harus segera diakhiri. 


AS dengan ideologi kapitalismenya yang kental telah menjadikan penjajahan baik dalam bentuk militer, ekonomi maupun politik sebagai metode ekspansinya demi eksistensi ideologi ini. Maka tidak heran jika Amerika memiliki anggaran militer terbesar di dunia sebagai alat strategis untuk menjaga dan memperluas hegemoni AS. Melalui sistem politik demokrasi, AS bisa mengontrol kebijakan negeri-negeri kaum muslim agar sesuai kepentingannya. 


Pentingnya Kesadaran Politik Islam


Dengan demikian, umat Islam harus terus disadarkan bahwa AS dan hegemoni kapitalismenya telah merusak dunia dan kehidupan antar bangsa. Umat Islam semakin terpecah dan justru malah menjadi korban adu domba demi kepentingan AS.


Fakta bergabungnya sebagian penguasa negeri-negeri muslim tidak bisa dipandang sebagai pilihan politik biasa, melainkan pengkhianatan yang harus diakhiri. Hanya saja, kesadaran politik ini perlu dibarengi dengan adanya edukasi yang bersumber dari ideologi yang benar yakni politik Islam, sistem Islam dan kepemimpinan Islam.


Sebagaimana firman Allah Swt. dalam Q.S An-Nur ayat 55 yang artinya:  


"Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan yang mengerjakan kebajikan bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; Dia sungguh akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridai; dan Dia sungguh akan mengubah (keadaan) mereka setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa..." 


Dalam ayat ini jelas bahwa Allah Swt. akan menjadikan umat muslim berkuasa atas umat yang lain sebagaimana saat dahulu Islam pernah berjaya dan menguasai 2/3 dunia dengan menerapkan ideologi Islam, yang mana sistem pemerintahan Islam dijalankan sepenuhnya untuk mengatur alam semesta dan seisinya.


Upaya untuk membangun kesadaran politik Islam ini harus dimasifkan agar umat dan penguasa muslim dapat membaca realitas global secara kritis dan tidak mudah terpengaruh dengan arus kepentingan negara adidaya yang terus memperluas hegemoni kapitalismenya.


Alhasil, akan muncul dengan sendirinya ghirah perjuangan untuk melakukan aktivitas dakwah politik yang mengarahkan pada kembali tegaknya institusi negara yang berideologi Islam. Agar tatanan dunia yang rusak ini, digantikan dengan syariat Islam. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


Umul Istiqomah