Alt Title

Siswa SD Bunuh Diri di Mana Peran Negara?

Siswa SD Bunuh Diri di Mana Peran Negara?



Dari beberapa fakta, sangat menunjukkan kegagalan pemerintah

dalam merencanakan kesejahteraan pendidikan di Indonesia


____________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Sungguh miris, peristiwa siswa SD yang melakukan bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hal itu ia lakukan lantaran tak mampu membeli buku dan pena. Jika dijumlahkan keduanya mungkin tak sampai Rp10.000.


Kabar ini sangat menyayat hati masyarakat dari berbagai kalangan. Kondisi tersebut menunjukkan lemahnya taraf kesejahteraan ekonomi dan minimnya dukungan pendidikan di Indonesia. (Kompas.com, 4-2-2026)


Dalam kondisi ini, anak usia 10 tahun seharusnya fokus pada masa pertumbuhan. Tidak bergelut dengan biaya pendidikan yang bukan menjadi tanggungannya. Di tengah klaim pemerintah yang terus mengatakan bahwa biaya pendidikan makin meningkat setiap tahunnya tidak relevan dengan fakta yang terjadi di lapangan.


Bahkan mirisnya sampai ada yang harus berkorban nyawa karena tak mampu membeli buku dan pena. Lalu, ke mana biaya pendidikan yang mencapai triliunan rupiah itu dianggarkan? Dilansir dari MetroTVNews.com pada 16 Januari 2026 pemerintah blak-blakan menyampaikan biaya MBG hampir mencapai Rp1,7 triliun setiap harinya. Sungguh biaya yang fantastis.


Dari beberapa fakta di atas sangat menunjukkan kegagalan pemerintah dalam merencanakan kesejahteraan pendidikan di Indonesia. Dalam negara Islam, dikatakan bahwa yang bertanggung jawab atas kebutuhan pendidikan adalah negara, bukan per individu.


Sebagaimana yang terjadi pada masa Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang mendirikan sebuah pusat pendidikan bernama Baitul Hikmah, Harun Ar-Rasyid yang menjamin kesejahteraan para guru di masanya karena uang simpanan di Baitulmal tersisa sangat banyak karena tak ada masyarakat yang merasa kekurangan lagi, sampai Khalifah Al-Ma'mun yang memberikan banyak beasiswa untuk perkembangan pendidikan ke luar negeri.


Lalu negara kita, bahkan harga buku tidak mampu dibeli. Firman Allah dalam QS. Al-Alaq: 1 yang artinya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." Ayat tersebut merupakan wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah dan perintah pertamanya adalah membaca, belajar, yang berkaitan dengan pendidikan 


Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya: "Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu," (HR Ahmad).


Hadis di atas juga mengatakan hal yang sama tentang pendidikan. Di mana ilmu pengetahuan untuk meraih kehidupan dunia dan akhirat. Lalu, bagaimana bisa mencapai kehidupan yang sejahtera jika urusan pendidikan dinomorduakan oleh negara? Bagaimana pula suatu negara bisa maju jika urusan yang sangat penting hanya diurus oleh individu saja? 


Tegaknya sistem Islam dengan aturan yang berlandaskan pada Al-Qur'an dan Sunnah adalah solusi terbaik. Agar semua kalangan masyarakat bisa mencapai sejahtera yang sesungguhnya. Serta mengganti budaya korupsi dengan budaya amanah sehingga tidak lagi terjadi hal-hal menyedihkan karena kemiskinan. Wallahualam bissawab.[Dara/MKC]


Tri Ayu Lestari. S.Pd.