Bencana Banjir Berulang Manusia Punya Peran
Surat PembacaKarena penyebab utama bukan curah hujan
melainkan adanya kekeliruan dalam tata ruang
_________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Dikutip dari KOMPAS.com, pada (22-01-2026), banjir di DKI Jakarta meluas dua hari berturut-turut sejak Kamis (22-1-2026) hingga Jumat (23-1-2026). Sejumlah wilayah yang sebelumnya tidak terdampak, kini ikut tergenang akibat hujan berinsensitas tinggi yang berlangsung dalam durasi panjang.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menjelaskan meluasnya titik banjir bukan semata karena tingginya curah hujan, tetapi juga dipengaruhi oleh lamanya hujan ekstrem yang mengguyur Jakarta dan sekitarnya. "Jadi, titik banjir itu bertambah ketika curah hujannya tinggi. Curah hujan yang kemarin sebenarnya tidak setinggi dua minggu lalu," ujar pramono Anung saat meninjau kali Cakung lama segmen sungai Begog di Cilincing, Jakarta utara, Jumat (23-1-2026).
Banjir Problem Klasik yang Berulang
Melihat realitas terjadinya banjir di wilayah perkotaan, khususnya di Jakarta merupakan problem klasik yang berulang. Dalam penanganannya, seharusnya pihak pemerintah DKI mencari dulu penyebab utama dari banjir tersebut sehingga penanganannya bisa memberi solusi jangka panjang. Karena penyebab utama bukan curah hujan melainkan adanya kekeliruan dalam tata ruang. Di mana lahan sudah tidak mampu menyerap air karena alih fungsi lahan.
Ada beberapa faktor penyebab bencana banjir berulang:
1.Alih fungsi lahan: Penutupan tanah oleh bangunan, beton, dan aspal mencegah air hujan masuk ke tanah sehingga air mengalir langsung ke permukaan.
2.Deforetasi dan kurangnya regulasi penebangan pohon menghilangkan akar yang berfungsi membuat pori-pori tanah sehingga tanah menjadi jenuh dan tidak mampu menyerap air.
3.Struktur dan tekstur tanah: Tanah liat memiliki pori-pori kecil dan padat, membuat air sulit meresap, tanah yang terlalu berpasir juga sulit menyerap air.
4.Pemadatan tanah: Aktivitas manusia dengan penggunaan alat berat dilahan pertanian atau injakan kaki yang padat dapat memadatkan tanah sehingga menghilangkan lubang pori-pori untuk air.
5.Degradasi tanah dan erosi: Hilangnya lapisan humus (tanah atas) akibat erosi (membuat tanah menjadi keras dan sulit menyerap air.
Kondisi ini mengakibatkan air hujan langsung menjadi aliran permukaan (run-off) yang menyebabkan genangan air atau banjir. Selain hal-hal di atas, pola pikir (paradigma) kapitalistik membuat kebijakan dalam tata kelola lahan tidak lagi memperhitungkan dampak lingkungan sehingga solusi dari pemerintah masih bersifat pragmatis belum menyentuh akar masalah.
Al-Qur'an telah menjelaskan bahwa berbagai kerusakan yang terjadi dimuka bumi ini adalah karena kesalahan yang dibuat manusia, Allah Swt. berfirman yang artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia agar Allah menimpakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS ar-Ruum {30}: 41)
Berarti jika kita ingin melakukan perbaikan-perbaikan, harus ditempuh dengan kembali pada aturan Allah.
Solusi Islam dalam Atasi Banjir
Banjir yang terjadi saat ini sebagai akibat dari "tangan manusia" yang melakukan kerusakan di bumi. Tentunya kita harus memahami betul dalam mencari solusinya. Oleh karena itu, ada beberapa solusi dalam Islam untuk mengatasi banjir.
Pertama, Islam melarang eksploitasi alam berlebihan dan penebangan pohon secara liar, sebagaimana dalam Al-Qur'an surah Al-Araf ayat 56 yang artinya, "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.berdoalah kepadaNya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.
Kedua, menjaga kebersihan lingkungan (kebersihan adalah sebagian dari iman) dan menjaga kelestarian alam adalah tanggung jawab moral sebagai khalifah di muka bumi.
Gambaran Masa Kejayaan Islam
Pada masa itu, negara membangun infrastruktur resapan, seperti membuat kanal-kanal dan sumur resapan air untuk mengelola curah hujan. Penghijauan dan reboisasi untuk menjaga kemampuan tanah dalam menyerap air.
Begitu pun kebijakan negara dalam hal tata ruang, yaitu melarang perizinan pembangunan di tanah gembur atau daerah rawan banjir. Membangun bendungan, tanggul dan kanal-kanal yang kuat di sekitar sungai. Juga memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku yang merusak lingkungan untuk memberikan efek jera.
Dalam hal ini, pembangunan dalam Islam akan menciptakan keberkahan dan rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana firman Allah yang artinya, "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat kami), maka kami azab mereka sesuai apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf: 96)
Dengan memahami aturan Islam yang mencintai lingkungan dan sesuai syariat Islam maka keberkahan akan datang tercurah dari langit dan bumi. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]
Ummu Ridha


