Alt Title

Tornado, Kebetulan ataukah Teguran

Tornado, Kebetulan ataukah Teguran

 


Setiap kali terjadi bencana alam yang menimpa manusia harusnya menjadikan kita berintrospeksi diri

Sebenarnya apakah manusia itu diuji ataukah manusia itu sedang ditegur oleh Allah Swt.?


______________________________


Penulis Tuti Sugiyanti S.Pd.I

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dilansir dari bbc.com, Jumat (23/02/2024), pada Rabu sore, 21 Februari 2024 terjadi bencana yang sangat dahsyat. Angin tornado menerjang persawahan, permukiman, pertokoan hingga beberapa pabrik yang ada di sekitar Rancaekek. Tornado memorak-porandakan sehingga sebagian luluh lantah dengan dahsyatnya angin tersebut.


Lalu lintas macet total, pabrik juga langsung total berhenti berproduksi. Termasuk juga dengan pertokoan. Semua kalang kabut lari ke sana kemari untuk menyelamatkan diri dari terjangan angin tersebut. Ada rasa takut, merinding, menangis, campur aduk menjadi satu, membayangkan peristiwa tersebut seperti kiamat.


Dari kejadian ini, Badan Penanggulangan Bencana telah melaporkan sedikitnya ada 835 keluarga yang  terdampak, serta 33 jiwa mengalami luka-luka. Kemudian dari kerugian materi tentu sangatlah banyak.


Ini bisa dilihat dari kondisi bangunan ada yang roboh, beterbangannya atap bangunan, dan ada beberapa pabrik rusak parah. Yang menjadi pertanyaan, apakah tornado ini secara kebetulan karena bumi kita sudah tua ataukah ini merupakan teguran dari Yang Maha Pencipta?


Setiap kali terjadi bencana alam yang menimpa manusia harusnya menjadikan kita berintrospeksi diri. Sebenarnya apakah manusia itu diuji ataukah manusia itu sedang ditegur oleh Allah Swt.?


Kalau itu merupakan ujian berarti harus menghadapi dengan kesabaran dan keikhlasan serta lebih mendekatkan diri pada Allah Swt.. Sebaliknya bila bencana itu merupakan teguran dari Allah Swt., berarti harus lebih mendalam melakukan introspeksi diri, kira- kira kemaksiatan apa yang telah dilakukan oleh manusia, sehingga Allah Swt. memberi teguran berupa bencana semisal angin tornado skala kecil seperti kemarin yang terjadi.


Karena keberhasilan sistem kapitalisme sekularisme yang membuat manusia memisahkan agama dari kehidupan membuat kebanyakan manusia jauh dari Allah Swt.. Kebanyakan mereka saat ini lebih mengutamakan nafsu daripada akalnya yang dibimbing oleh wahyu Allah Swt..


Selain itu, melakukan penyimpangan-penyimpangan seperti, perzinaan, perilaku gay dan lesbian, melalaikan perintah salat, kezaliman-kezaliman yang sudah dianggap lumrah, dan banyaknya pelaku riba yang terang-terangan.


Ketika kemaksiatan sudah merajalela dan manusia sudah menganggap itu suatu hal yang wajar, maka Allah juga akan menyegerakan teguran yang maha dahsyat bahkan juga bisa disebut dengan azab yang disegerakan.


Bahkan pada zaman Kekhilafahan Umar bin Khattab ra. pernah terjadi gempa bumi. Khalifah Umar ra. segera mengucapkan pujian dan sanjungan kepada Allah Swt.. Saat itu bumi sedang berguncang keras, Khalifah Umar ra. lalu memukul bumi dengan cambuk sambil berkata, “Tenanglah engkau, bumi. Bukankah aku telah berlaku adil kepadamu.”


Seketika bumi pun berhenti berguncang. Demikianlah, ketakwaan Khalifah Umar ra. sebagai pemimpin sanggup menjadikan bumi “bersahabat” dengan manusia. Sebaliknya, dosa dan kemaksiatan yang terjadi hari ini, khususnya yang dilakukan oleh penguasa, bisa menyebabkan bumi terus berguncang. 


Dari kutipan sejarah di atas, lalu apa yang harus dilakukan agar terhindar dari teguran Allah Swt.? Agar terhindar dari teguran Allah Swt. berarti harus segera bertaubat dan menuju ampunan Allah.


Taubat harus dilakukan oleh segenap komponen bangsa. Khususnya para penguasa dan pejabat negara. Mereka harus segera bertaubat dari dosa dan maksiat. Juga ragam kezaliman. Kezaliman terbesar adalah saat manusia, terutama penguasa, tidak berhukum dengan hukum Allah Swt., sebagaimana firman-Nya:


 وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ


"Siapa saja yang tidak memerintah/berhukum dengan hukum yang telah Allah turunkan, mereka adalah para pelaku kezaliman." (TQS. Al-Maidah [5]: 5)


Oleh karena itu pula, taubat harus dibuktikan dengan kesediaan mereka untuk kembali dan mengamalkan syariat Islam dengan sempurna dan menyeluruh. Ini merupakan wujud dari ketakwaan secara hakiki. Ketika manusia manusia mau menjalankan syariat Allah Swt. dengan sempurna, maka Allah Swt. pun akan memberikan keberkahan baik di langit maupun di bumi.


Sebagaimana firman-Nya:


 وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ


"Andai penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan membukakan untuk mereka keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) sehingga Kami menyiksa mereka sebagai akibat dari apa yang mereka perbuat." (TQS. Al-Araf [7]: 96)

Wallahualam bissawab. [SJ]