Alt Title

Sekat Nasionalisme Menggantung Nasib Rohingya

Sekat Nasionalisme Menggantung Nasib Rohingya

Islam memandang bahwa sesama Muslim itu saudara. Diibaratkan satu tubuh, ketika satu anggota tubuh terluka, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan sakitnya

Seluruh kaum muslimin bahkan kafir yang tinggal dalam wilayah Islam, berada dalam payung perlindungan yang sama yakni Islam

____________________________________


Penulis Putri Efhira Farhatunnisa 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi di Majalengka



KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Etnis muslim Rohingya terombang-ambing di atas kapal yang penuh sesak dan berlayar dalam ketidakpastian. Berharap belas kasih negara lain, untuk mengulurkan tangan dan menampung mereka yang diusir dari negaranya sendiri. Mereka menaruh harapan besar pada negara dengan mayoritas muslim ini, namun penolakanlah yang didapat.


Sejak 14 November lalu, pengungsi Rohingya berdatangan ke Aceh melalui jalur laut. 147 pengungsi berada di Pidie dan 247 di Bireun. Warga setempat membantu memperbaiki kapal, juga memberi makanan dan minuman sekadarnya. Kedatangan mereka ditolak oleh sejumlah pihak, dan meminta dikembalikan ke negara asal.


Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menilai bahwa penolakan tersebut merupakan tindakan yang tak bertanggungjawab dan bukti kemunduran adab bangsa ini. Koordinator Kontras Aceh, Azharul Husna juga menyayangkan pemerintah pusat yang abai terhadap pengungsi Rohingya ini. Padahal Indonesia mendapat suara terbanyak sebagai dewan HAM PBB pada Oktober lalu. (tirto[dot]id, 19/11/2023)


Penolakan


Penolakan ini dilayangkan oleh sejumlah warga setempat dan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Muhammad Iqbal yang menyatakan bahwa Indonesia tidak berkewajiban menerima pengungsi Rohingya. Iqbal menegaskan bahwa Indonesia tak memiliki kapasitas dan kewajiban untuk menampung mereka, apalagi memberi solusi permanen.


Adapun warga yang menolak kehadiran mereka adalah karena pengalaman kurang baik dari pengungsi Rohingya yang sudah ada di tempat pengungsian dengan warga setempat. Gesekan interaksi antara pengungsi Rohingya dan warga dinilai dapat menimbulkan masalah di kemudian hari sehingga penolakan menjadi pilihan.


Sekat Nasionalisme Memperburuk Keadaan


Konflik antarmanusia karena perbedaan latar belakang yang tentu akan memengaruhi kebiasaan sudah biasa terjadi. Jangankan antarnegara, antarsuku maupun desa juga bisa saja terjadi konflik. Hal ini karena nasionalisme menjadi sekat di antara mereka.


Suatu perbuatan yang sama akan terasa berbeda jika pelanggarannya dilakukan oleh seseorang yang bukan bagian dari kita. Maka pelanggaran yang dilakukan oleh pengungsi Rohingya terasa begitu berat karena kita merasa mereka bukan bagian dari kita, mereka bukan orang Indonesia. 


Itu yang terjadi ketika nasionalisme telah menyusup dalam diri kita. Maka wajar jika rawan terjadi konflik antarwilayah, karena sistem yang diterapkan hari ini meniscayakannya. Selain itu, karena memang masalah pengungsi dari negara lain adalah urusan yang harus diselesaikan oleh negara, bukan masyarakat.


Negara tidak cukup hanya mengurus perihal sandang dan pangan pengungsi, namun juga haruslah memperhatikan dan mengatur hal-hal yang menyangkut interaksi pribumi dengan pengungsi. Agar suasana bisa kondusif dan teratur. 


Namun jangankan untuk mengurusi para pengungsi yang datang dari negara lain, rakyat sendiri saja sulit merasakan kesejahteraan dalam sistem negara saat ini. Bukan negaranya yang tak memiliki kapasitas untuk memberi solusi pada pengungsi, namun sistemnya yang terbatas dalam mengatur kehidupan.


Perlu Sistem dari Sang Pencipta


Sistem kapitalisme tak akan pernah memberi solusi tuntas untuk permasalahan kehidupan, karena ia lahir dari kecerdasan manusia yang terbatas. Apa yang terbaik untuk dirinya sendiri saja tidak tahu, apalagi dengan kehidupan yang cakupannya lebih luas?


Kita memerlukan sistem atau aturan dari sesuatu yang Maha Mengetahui yakni Allah Swt., Tuhan semesta alam. Kenapa harus Allah? Karena kita lemah sedangkan Allah itu Qiyamuhu Binafsihi (berdiri sendiri). Kita terbatas sedangkan Allah itu Maha Mengetahui apa pun yang tersembunyi.


Allah pun tahu apa yang akan terjadi di masa depan, dan tahu apa yang akan kita pilih. Allah membuat aturan sesuai karakteristik setiap makhluknya, dibuat  agar seluruhnya terkondisikan dengan sempurna. Sehingga dapat menciptakan kesejahteraan bagi umat manusia, dan aturan tersebut ialah Islam, hanya Islam yang dapat menuntaskan segala problematik kehidupan.


Pengaturan Masyarakat dalam Islam


Islam memandang bahwa sesama Muslim itu saudara. Diibaratkan satu tubuh, ketika satu anggota tubuh terluka, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan sakitnya. Seluruh kaum muslimin bahkan kafir yang tinggal dalam wilayah Islam, berada dalam payung perlindungan yang sama yakni Islam.


Maka dari itu, baik pendatang maupun pribumi akan diperlakukan dengan baik. Mendapat hak yang sama dari Islam. Adapun bagi orang kafir yang tinggal di wilayah Islam akan dikenakan pajak, namun ringan bahkan jika Baitulmal melimpah atau terkendala dalam membayar, akan diberi kelonggaran.


Hukum Tegas


Aturan Islam diterapkan di seluruh wilayah Islam, jika ada pendatang yang tinggal di sana, maka harus mematuhi aturan yang ditetapkan pula. Hukum Islam memiliki fungsi zawajir (pencegahan) dan jawabir (penebus). Ketegasan hukumnya membuat orang berpikir ulang untuk melakukan kejahatan.


Ketika melakukan pun akan diberi sanksi yang memberi efek jera sekaligus penebusan dosa. Hukum yang terkesan kejam seperti hukum potong tangan bagi pencuri, akan mencegah seseorang untuk melakukan perbuatan tersebut, dan bila melakukan hanya akan dihukum di dunia saja.


Kesimpulan


Maka dengan berbagai mekanisme yang ada pada Islam, konflik antarmanusia dapat diminimalisir. Hanya Islamlah yang memiliki kapasitas untuk mengurusi urusan rakyat, karena datang dari Sang Pencipta pemilik kapasitas tak terbatas. Sandarkan semuanya pada Islam agar Allah rida dan menurunkan RahmatNya. Wallahu alam bissawab. [SJ]