Alt Title

Ikhtiar atau Isytirar di Antara "Cawe-Cawe"?

Ikhtiar atau Isytirar di Antara "Cawe-Cawe"?

Sistem demokrasi telah menjadikan manusia sejajar dengan Allah Swt. atau bahkan lebih tinggi. Karena demokrasi hukum/kedaulatan ada di tangan manusia artinya manusia sebagai Al-Musyari (Pembuat hukum)

Sementara dalam lslam hukum itu ada di tangan Allah Swt..

_____________________________



KUNTUMCAHAYA.com, SURATPEMBACA - Menuduh bahwa Presiden Jokowi melakukan cawe-cawe di Pilpres 2024 dipandang banyak kalangan tidaklah salah karena realitas yang terlihat bahwa manuver Sang Presiden kerap menunjukkan keberpihakan pada salah satu pasangan calon. Siapa lagi kalau bukan kepada paslon nomor 2 yang di situ ada Gibran Rakabuming Raka, sang putra mahkota kandidat cawapres dari Capres Prabowo Subianto.


Kendati demikian pemandangan serupa cawe-cawe ini  jujur saja  ada dan terlihat massif dilakukan berbagai kalangan masyarakat. Hanya mungkin karena pelakunya adalah netizen sehingga cawe-cawe di level akar rumput ini tidak terlalu dipersoalkan media.


Misalkan cawe-cawe ini datang dari para purnawiran TNI-POLRI, kumpulan pengusaha, Pimpinan Pondok Pesantren, para profesional, ada dosen dan guru, majelis taklim bahkan alim ulama dan habaib pun terlibat cawe-cawe.


Di Tahun 2019 tepatnya lima tahun yang lalu bagaimana sebagian habaib dan ulama melakukan cawe-cawe sampai muncullah istilah Ijtima Ulama I sampai dengan IV. Bagaimana dengan sekarang? Rupanya tidak jauh berbeda hanya yang membedakan adalah siapa yang menjadi cawe di 2024 itu berbeda dengan cawe di 2019. Kalau dulu mendukung Prabowo sebagai antitesa Jokowi sekarang mendukung Amien (Anis-Muhaimin) sebagai antitesa Prabowo dan Ganjar Pranowo. Memang politik demokrasi itu seperti Upin-Ipin, lucu sekaligus menggemaskan atau malah menyebalkan.


Alasan para ulama dan habaib ikutan cawe-cawe mendukung Amien (Anies Baswedan-Cak Imin) paslon nomor urut 1 sangat klasik bahwa kita sedang berikhtiar memilih pemimpin yang terbaik di antara yang buruk. Lho, kok begitu? Secara nurani para ulama dan habaib sebenarnya tahu bahwa sistem demokrasi ini tidak lah menjanjikan apa-apa, tapi daripada tidak pemimpin sama sekali apa boleh buat katanya kita 'terpaksa' berikhtiar barangkali saja ini mah baik, begitu ujarnya harap-harap cemas.


Benarkah para ulama dan habaib itu berikhtiar? Sebelum menguraikannya mari kita telisik secara detail apa arti dari ikhtiar.  


Ikhtiar asal bahasa Arab diambil dari kata dasar khair yang artinya baik, lawannya isytirar asal kata dari kata syarun artinya buruk. lkhtiar sudah di-translate ke bahasa lndonesia artinya berusaha dengan baik dan maksimal.


Namun hal ini tidak bisa digunakan pada setiap pekerjaan, sebab cocok dengan maknanya bahwa ikhtiar itu adalah: usaha maksimal dengan cara yang baik. Sementara cawe-cawenya ulama dan habaib sekalipun jagoannya orang Islam, tapi aktivitas itu (baca: cawe pilpres) ada dalam ranah sistem kufur demokrasi.


Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa sistem demokrasi telah menjadikan manusia sejajar dengan Allah Swt. atau bahkan lebih tinggi. Karena demokrasi hukum/kedaulatan ada di tangan manusia artinya manusia sebagai Al-Musyari (pembuat hukum). Sementara dalam lslam hukum itu ada di tangan Allah Swt..


Jadi apa yang dilakukan ulama  dengan ikut terlibat cawe-cawe Pilpres 2024. Sejatinya mereka sedang melakukan usaha dengan cara yang salah/buruk jadi bukan ikhtiar, tapi isytirar, usaha yang salah dan keliru menurut pandangan akidah Islam. Dalilnya adalah "Laha maakasabat wa alaiha maktasabat" (dengan berusaha yang baik dia mendapat pahala dan dengan usaha yang buruk/isytirar dia mendapatkan dosa). Wallahualam bissawab. [GSM]


Mang Aswan  

Seniman Sunda dan Pemerhati Politik Islam