Alt Title
Bermuhasabah Diri saat Terjadi Bencana

Bermuhasabah Diri saat Terjadi Bencana



Sudah waktunya rakyat terlebih para pemangku kebijakan yang memberikan izin kepada pengusaha yang melakukan alih fungsi lahan bermuhasabah diri, jangan saling menyalahkan. Karena pada faktanya tidak bisa dimungkiri, hutan rusak dan yang paling merasakan akibatnya adalah rakyat kecil. Mereka kehilangan tempat tinggal, terpisah dari anggota keluarga, anak-anak menjadi yatim piatu, kehilangan harta benda dan juga pekerjaan

_________________________


Penulis Iis Nur

Therapis Pijat dan Pegiat Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com - Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, bulan Ramadan tahun ini dari awal sampai beberapa hari lagi menjelang hari raya, masyarakat harus dihadapkan dengan cuaca ekstrem. Dimana pagi dengan cuaca cerah, lanjut ke siang hari dengan cuaca panas menyengat dan akhirnya sore sampai malam cuaca berubah menjadi hujan deras. 


Akibat cuaca yang ekstrem tersebut mengakibatkan banjir besar di beberapa tempat. Salah satunya di Jalan Raya Laswi, Cidawolong, perbatasan Ciparay-Majalaya, Kabupaten Bandung, kembali terendam banjir pada Jumat 24 Maret 2023. (TribunJabar[dot]id[dot]Bandung, 24/03/2023)


Menurut warga setempat Nadhira Nazhia, setiap hujan lebat, pasti menyebabkan banjir akibat dari meluapnya sungai Cidawolong, sehingga ada beberapa kendaraan bermotor yang memaksakan menerobos dan berakhir dengan mesin mati atau mogok.


Masalah banjir bukan perkara yang baru. Di Indonesia memang termasuk wilayah potensial bencana terutama banjir. Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang periode 1 Januari hingga 9 Oktober 2022 ini saja, sudah terjadi 2.718 kali bencana alam di Indonesia. Di antaranya, bencana banjir terjadi 1.083 kali, tanah longsor 483 kali, dan cuaca ekstrem 867 kali. Sisanya, bencana berupa kebakaran hutan, gempa bumi, gelombang pasang, dan abrasi.


Banjir yang sudah langganan menimbulkan risiko kerugian ekonomi dan sosial yang memaksa masyarakat harus menerima keadaan dengan alasan faktor alam. Yang membuat miris, belum ditemukan solusi yang nyata dari pemerintah baik daerah maupun pusat. Mereka seolah abai akan dampak banjir pada masyarakat. Para penguasa justru terkesan saling menyalahkan ketimbang memberi solusi nyata. 


Tidak bisa menutup mata bahwa penyebab terjadinya banjir selain faktor alam adalah alih fungsi lahan, penggundulan dan penebangan hutan yang tidak terkendali. Dari sisi inilah seharusnya ada upaya maksimal, jangan sampai faktor alam dijadikan kambing hitam. 


Sudah waktunya rakyat terlebih para pemangku kebijakan yang memberikan izin kepada pengusaha yang melakukan alih fungsi lahan bermuhasabah diri, jangan saling menyalahkan. Karena pada faktanya tidak bisa dimungkiri hutan rusak dan yang paling merasakan akibatnya adalah rakyat kecil. Mereka kehilangan tempat tinggal, terpisah dari anggota keluarga, anak-anak menjadi yatim piatu, kehilangan harta benda dan juga pekerjaan. 


Alih-alih memberi bantuan kepada masyarakat yang tertimpa musibah atau memperbaiki keadaan, sistem Kapitalis liberal justru mendorong para penguasa untuk lebih berpihak pada para pengusaha yang bermodal besar. Sistem ini mengabaikan bahkan menjauhkan aturan-aturan Allah Swt. dari kehidupan mereka sehingga lupa akan firman Allah Swt. yaitu:


"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (TQS. Ar-Rum [30]: 41)


Indonesia butuh untuk kembali pada aturan Allah Swt. yang jelas sudah memberi semua solusi dalam segala aspek kehidupan, termasuk bagaimana menghadapi bencana seperti banjir.


Islam selalu dapat menjadi solusi bagi setiap masalah termasuk saat terjadi musibah, serta mempunyai cara untuk selalu berpikiran jernih dan ber-husnuzan pada Sang Maha Pencipta. Islam adalah agama yang sempurna, agama yang terus menjaga seluruh alam dari kerusakan dan mampu menjawab segala persoalan mulai dari sosial, ekonomi, politik, hingga masalah hukum.  


Pada masa Umar bin Khattab pernah terjadi peristiwa yang sama. Dikisahkan dalam kitab Istidzkar pada masa Sayyidina Umar, Madinah dihantam gempa bumi sampai pagar bergerak. Umar kemudian berdiri seraya memuji Allah Swt.. Setelah itu, Umar berkata, “Betapa cepatnya apa yang kalian perbuat. Demi Allah, jika gempa terjadi lagi, saya akan keluar dari sisi kalian.”


Umar berkata demikian karena menyimpulkan adanya kemaksiatan yang telah dilakukan oleh orang-orang Madinah. Pernyataan beliau berdasarkan hadis yang termuat dalam Al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain. Dalam hadis yang sangat panjang tersebut, Aisyah ra. menyatakan bahwa Allah Swt. akan memerintahkan bumi untuk bergerak jika penghuninya telah menghalalkan zina dan minuman keras. Lalu Allah Swt. memerintahkan bumi untuk berhenti bergerak jika penghuninya telah bertaubat. Namun apabila mereka tidak bertaubat, maka gempa akan menghancurkan dan meluluh lantakkan mereka.


Maka dari itu sudah waktunya aturan Islam kembali ditegakkan secara kaffah  (menyeluruh). Serta menjadi kewajiban bagi umat Muslim untuk mendakwahkannya kepada masyarakat agar kembali pada aturan Allah Swt.. Sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. sehingga terciptalah kehidupan yang sejahtera dan terhindar dari bencana. Wallaahu a'lam bi ash-shawwab. []

Dua Puluh Enam Ramadan Siap-Siap Rapotan

Dua Puluh Enam Ramadan Siap-Siap Rapotan



Layaknya ujian akhir sekolah
Nilai Ramadan ditentukan di akhirnya
Namanya juga rapotan mana ada diserahkan di awal
Karenanya sabar untuk puas di awal sebab masih ada akhirnya 
_________________________


Penulis Hanif Kristianto

Sastrawan Politik dan Analis Berita


KUNTUMCAHAYA.com - Puasa itu untuk-Ku

Akulah yang akan memberi pahalanya

Puasa itu ibadah unik

Untuk hamba-hamba yang tertarik


Entah dapat nilai berapa

Untuk puasa Ramadan kali ini penuh berkah

Pahala yang menjadi rahasia

Biar si hamba semangat membara


Layaknya ujian akhir sekolah

Nilai Ramadan ditentukan di akhirnya

Namanya juga rapotan mana ada diserahkan di awal

Karenanya sabar untuk puas di awal sebab masih ada akhirnya 


Siap-siap rapotan

Dag Dig Dug hati tak karuan

Apakah akhir dapat gelar ketakwaan?

Atau malah dapat gelar ketawaan?


Puasa Ramadan panggilan keimanan

Ikhlas meninggalkan halal di siang petang

Godaan sepanjang jalan betul menggiurkan

Terpeleset sedikit hilang kesempatan kesempurnaan


Bahagia berpuasa Ramadan

Di antara sedih kawan lain di negeri penuh penekanan

Nasib kurang beruntung Muslim Uyghur di Xinjiang

Nasib kurang mujur Muslim Palestina dalam tekanan


Barangkali masih sebatas doa yang dimunajatkan

Sembari menyiapkan diri melakukan pembebasan

Entah segera atau nanti doa itu diijabahkan

Yang pasti kedatangannya tak bisa dihalangi siapa pun di muka bumi


Ramadan siap-siap rapotan

Yang penting tak ada remedial biar bisa melenggang

Syukur-syukur rapor diterima dengan tangan kanan

Tertulis di situ lulus dan istiqamahkan amalan


Ramadan

Ramah dan mengesankan

Ramadan

Ramai dan kemeriahan []


#puisi #puisihanifk #ramadan #ramadan2023 #sastra #sastraindonesia #ramadan1444h

Dua Puluh Lima Ramadan Mau Pamitan

Dua Puluh Lima Ramadan Mau Pamitan



Dua pilihan di antara pilihan
Ramadan yang sibuk berpamitan
Atau manusia yang rindu pamit
Di akhir menjelang puncak hari kemenangan

_________________________


Penulis Hanif Kristianto

Sastrawan Politik dan Analis berita


KUNTUMCAHAYA.com - Akan ada kata selamat tinggal

Pada Ramadan yang akan berkesudahan

Atau Ramadan betul-betul tak akan kembali

Sebab Ramadan sembab menyaksikan manusia yang tak berbenah diri


Dua pilihan di antara pilihan

Ramadan yang sibuk berpamitan

Atau manusia yang rindu pamit

Di akhir menjelang puncak hari kemenangan


Sebagaimana ujian tulis di sekolahan

Inilah last minute mengisi kekosongan jawaban

Cek kembali target yang telah dituliskan

Periksa ulang jawaban pilihan ganda dan uraian


Perlahan manusia sudah berpamitan

Mohon izin masjid yang selama ini jadi tempat persujudan

Mohon dimaklumi hari raya sibuk memilih sarimbit keluarga

Aneka camilan dan makanan perlu disiapkan untuk dihidangkan


Permisi mau pamitan

Meski ada undangan akbar jemput lailatul qadar

Di antara sibuk dan bingung menentukan skala prioritas

Semoga Ramadan ini memberi bekas


Dalam hati ini belum ada rasa sedih

Meski Ramadan sebentar lagi angkat kaki

Entah sudah angkatan ke berapa?

Kok setelah Ramadan usai diri masih tetap saja?


Pamit

Permit

Amit

Alit []


#puisi #puisihanifk #sastra #sastraindonesia #puisiramadan #ramadhan1444h

TPPU Marak, Mampukah Terselesaikan?

TPPU Marak, Mampukah Terselesaikan?



Keimanan dan ketakwaan yang dimiliki para pejabat akan menjadikan mereka merasa takut terhadap tindakan kecurangan yang akan membawa kepada dosa besar. Mereka akan senantiasa menstandarkan perilaku pada halal dan haram


Para pejabat dalam Islam tidak distimulus dengan sifat materialis dan hedonis. Mereka senantiasa hidup dengan kecukupan dan menghindari kehidupan boros

_________________________


Penulis Susci 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Anggota Komunitas Sahabat Hijrah Balut, Sulteng


KUNTUMCAHAYA.com - Akhir-akhir ini TPPU (Tindan Pidana Pencucian Uang) menjadi perhatian publik. Tak sedikit dari media memberikan pemandangan mengagetkan tentang pencucian uang yang dilakukan oleh salah-satu pejabat Direktorat Jendral Pajak Kementerian Keuangan (DJP Kemenkeu). Tindakan tersebut diduga melibatkan 491 ASN Kemenkeu.


KPK sendiri menanggapi akan mendalami sosok artis inisial R yang diduga terlibat dalam kasus tersebut bersama dengan mantan DJP Kemenkeu. (liputan6[dot]com, 01/04/2023)


Sungguh memprihatinkan kondisi pejabat hari ini. Perilaku kejahatan yang merugikan masyarakat mudah dilakukan dan tanpa rasa malu. Kehidupan kian dibutakan dengan nafsu dunia tak lagi memandang benar ataukah salah.


Kekecewaan yang timbul di raut wajah masyarakat mengartikan kualitas kerja pejabat yang makin tidak amanah. Pengelolaan uang negara dan masyarakat dijadikan hak pribadi. Rasa bersalah tampak hilang, yang menjulang hanyalah jumawa menikmati hasil dari perbuatan kotor.


Tentunya perilaku tersebut sudah terjadi sekian kalinya. Namun, tampak tidak memberikan efek dari satu kasus ke kasus yang lain. Sehingga, hal ini menjadikan tindakan pencucian uang marak ditemukan di berbagai kalangan, baik di masyarakat maupun di pejabat sendiri.


Dengan melihat keseriusan yang dilakukan oleh para pejabat negeri ini, menggambarkam betapa lemahnya negara dalam menjaga keamanan dalam negeri. Mereka yang diamanahkan dalam mengelola dan menjaga harta rakyat, justru menggunakan lorong kecil untuk menembusnya dan menikmatinya sendiri, tanpa adanya rasa bersalah. 


Perilaku para pejabat tersebut tidak bisa dilepaskan dari paradigma penerapan Kapitalisme sekularisme. Sistem yang berasaskam materialisme dan mengabaikan agama dalam pengaturan hidup. Wajar saja jika sistem tersebut mampu mencetak kepribadian masyarakat mejadi materialistik dan hedonistik.


Para pejabat pun telah terpapar sistem tersebut dan menjadikan mereka berlomba-lomba memperbanyak kekayaannya, sekalipun dengan cara yang keliru. Apalagi sistem tersebut memisahkan agama dari kehidupan (sekuler). Sehingga, rasa takut tidak lagi dimiliki oleh pejabat maupun masyarakat. Tidak ada lagi standar halal dan haram, yang ada hanyalah upaya pencapaian keuntungan sebanyak-banyaknya.


Sikap hedonis dan materialis juga menjadikan para pejabat tidak merasa cukup terhadap harta yang dimiliki, nafsu dunia telah memenuhi pikiran dan hati. Kejernihan dalam menjabat telah dikeruhkan oleh penerapan Kapitalisme sekularisme. Sehingga, kecil kemungkinan menemukan para pejabat yang ikhlas dalam mengurusi kesejahteraan masyarakat, tanpa adanya tindak kecurangan.


Selain itu, hukum yang diberikan kepada perilaku kecurangan tersebut tampak tidak menyentuh titik permasalahan. Hukuman yang ringan bagi pelaku korupsi mengakibatkan hilangnya efek jera. Menjadikan perilaku tersebut kerap berulang. 


Alhasil, penerapan Kapitalisme sekularisme menjadi ujung tombak hancurnya institusi negara. Sistem yang berasal dari pola pikir manusia akan menciptakan kecacatan dalam membuat aturan dan hukum. Termasuk kebijakan dalam menyelesailakan tindakan pencucian uang yang terus saja terjadi.


Solusi dalam Islam


Melihat problematika tersebut, tentunya Islam memiliki solusi jitu yang mampu menyelesaikan dari hulu hingga hilir. Mencegah perilaku berulang, bahkan Islam pernah menghadirkan kehidupan mulia di dalam naungan negara Islam. Terhindar dari maraknya pencucian uang.


Islam memiliki sistem pemerintahan yang berasal dari syariat Islam, aturan dan hukum berasal dari Allah Swt.. Satu-satunya Tuhan yang berhak membuat aturan dan hukum, tanpa adanya kecacatan apapun.


Dalam menerapkan sistem tersebut, Islam telah menentukan kriteria pemimpin maupun pejabat dalam hal mengurusi kebutuhan negara dan umat. Pejabat dalam Islam hadir sebagai pengurus umat, dan akan dimintai pertanggungjawaban atas pengurusannya.


Pejabat yang dipilih akan disesuaikan dengan kadar keimanan dan kesanggupan dalam menjalankan amanah tersebut. Pejabat harus memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt. serta memiliki kesanggupan ilmu, fisik, dan mental dalam menjabat.


Keimanan dan ketakwaan yang dimiliki para pejabat akan menjadikan mereka merasa takut terhadap tindakan kecurangan yang akan membawa kepada dosa besar. Mereka akan senantiasa menstandarkan perilaku pada halal dan haram. Para pejabat dalam Islam tidak distimulus dengan sifat materialis dan hedonis. Mereka senantiasa hidup dengan kecukupan dan menghindari kehidupan boros.


Selain itu, hukum yang diberikan bagi pejabat maupun masyarakat yang melakukan aksi pencucian uang akan memberikan efek jera. Islam akan memberikan hukum berupa peringatan, penyitaan harta, pengasingan, hingga pada hukuman mati. 


Semua hukuman tersebut disesuaikan dengan kadar perbuatannya. Hukuman pun dilakukan secara terbuka oleh pemimpin negara agar dapat disaksikan oleh seluruh pejabat maupun masyarakat lainnya. Dengan begitu mereka tidak akan berani melakukan perbuatan yang sama. Melihat beratnya hukuman yang nanti akan diberikan.


Sungguh, hanya Islamlah yang mampu menghadirkan pejabat amanah dan bertanggung jawab. Selain itu, Islam juga menciptakan sanksi yang mampu menghentikan perbuatan berulang. Sebab, Islam berasal dari Allah Swt., Tuhan Pencipta alam semesta. Wallahualam bissawab. []

Telaah atas Fenomena Sadisme pada Generasi

Telaah atas Fenomena Sadisme pada Generasi



Proses pendidikan bagi anak dan generasi saat ini telah gagal membentuk pribadi sebagaimana yang diharapkan. Pengaruh budaya kebebasan yang didapat dari Barat deras membanjiri arus informasi melalui kecanggihan teknologi yang ada. Apa-apa yang berasal dari Barat, dari luar negeri dipandang keren diikuti. Anak-anak yang merupakan generasi di negeri Muslim terbesar ini akhirnya terbiasa bahkan terdidik dengan budaya semau gue, dan cenderung mengedepankan kesenangan semata. Keimanan dan halal haram yang semestinya menjadi dasar dan patokan dalam menjalani kehidupan, tergantikan dengan dominasi pemikiran sekadar puaskan nafsu hedonis dan peraihan eksistensi diri. Maka ketika dirasa budaya kekerasan dan sadisme dapat memuaskan itu semua, naluri mengasihi antar sesama, terlebih rasa takut akan dosa kian menguap dari benak. Perkelahian hingga tawuran pun menjadi satu kesenangan dan kepuasan

_________________________


Penulis Yuliyati Sambas

Founder Media Kuntum Cahaya & Pegiat Literasi Komunitas Penulis AMK

 

KUNTUMCAHAYA.com - Betapa meresahkan melihat kondisi anak muda saat ini. Tabiat sebagian dari mereka makin memburuk saja. Perangai sadis dan kekerasan kian membudaya. Salah satunya muncul fenomena perang sarung yang merembet menjadi aksi tawuran. Suasana Ramadan yang semestinya diisi dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat, kini dicederai oleh perilaku yang jauh dari akhlak islami. Bahkan aksi mereka cenderung berujung pada tindak kriminal karena dapat melukai hingga berpotensi menghilangkan nyawa pihak lain. Astagfirullah.

 

Dilansir Detik[dot]com (25/3/2023) bahwa Kapolsek Jagakarsa Kompol Multazam Lisendra membenarkan telah mengamankan 15 remaja yang kedapatan melakukan aksi tawuran menggunakan sarung yang ujungnya diikat dengan batu. Kejadian tersebut berlangsung pada Jumat malam (24/3), kisaran pukul 21.45 WIB, di Jalan Durian, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

 

Rencana tawuran dengan modus tarung sarung pun pada Sabtu (26/3) dini hari berhasil digagalkan oleh pihak kepolisian di Sukabumi, pasca adanya laporan dari masyarakat. Sukabumiupdate.com (25/3/2023) memberitakan bahwa sebanyak 7 anak di bawah umur telah diamankan Kepolisian Sektor Cibadak. Mengerikannya, selain didapati sarung-sarung, barang bukti lainnya yang berhasil disita berupa besi-besi, stik golf, pedang, hingga celurit. Ya Allah, kalau hanya untuk bermain perang-perangan sarung di antara anak-anak dan remaja, lantas untuk apa sampai ada pedang dan celurit? Ngeri.

 

Perang sarung hanya satu di antara beragam fenomena kekerasan dan kesadisan yang bermunculan di kalangan remaja. Mulai dari perkelahian, bullying, pemerkosaan, bahkan tak sedikit di antaranya yang sampai pada penganiayaan hingga menghilangkan nyawa.  Apa sebenarnya yang melatarbelakanginya?

 

Faktor yang Melatarbelakangi

 

Budaya kekerasan yang dilakukan oleh generasi muda termasuk pelajar kini tampak makin sadis. Dilihat dari jumlahnya yang kian banyak saja. Bahkan modus yang dilakukan pun demikian beragamnya. Hal miris ini tentu butuh untuk diurai penyebab, dampak dan solusinya. Agar kengerian yang ditimbulkan oleh aksi-aksi mereka segera dapat diakhiri. Selanjutnya para pemuda negeri ini dapat diarahkan menjadi generasi yang beradab, berakhlak mulia dan berprestasi.

 

Jika mau jujur, kita akan katakan bahwa proses pendidikan bagi anak dan generasi saat ini telah gagal membentuk pribadi sebagaimana yang diharapkan. Pengaruh budaya kebebasan yang didapat dari Barat deras membanjiri arus informasi melalui kecanggihan teknologi yang ada. Apa-apa yang berasal dari Barat, dari luar negeri dipandang keren diikuti. Anak-anak yang merupakan generasi di negeri Muslim terbesar ini akhirnya terbiasa bahkan terdidik dengan budaya semau gue, dan cenderung mengedepankan kesenangan semata. Keimanan dan halal haram yang semestinya menjadi dasar dan patokan dalam menjalani kehidupan, tergantikan dengan dominasi pemikiran sekadar puaskan nafsu hedonis dan peraihan eksistensi diri. Maka ketika dirasa budaya kekerasan dan sadisme dapat memuaskan itu semua, naluri mengasihi antar sesama, terlebih rasa takut akan dosa kian menguap dari benak. Perkelahian hingga tawuran pun menjadi satu kesenangan dan kepuasan. Ini yang pertama.

 

Kedua, Barat minded yang menginfeksi kaum muda ternyata menyerang pula kalangan para emak dan bapak-bapaknya. Materi dan prestasi akademik kerap menjadi satu-satunya “harapan” para orangtua atas anak-anaknya di zaman now. Maka mereka sudah sangat puas jika anak-anaknya telah dibekali dengan limpahan harta dan disekolahkan/dileskan di lembaga-lembaga bergengsi. Sementara bekal agama luput dari perhatian. Terlebih dari sisi perhatian, kasih sayang, emotional bonding dengan anak kerap tak mendapat porsi yang cukup.

 

Di sisi lain bagi mayoritas keluarga di negeri ini yang berada pada posisi ekonomi sulit telah banyak kehilangan waktu untuk bercengkerama dan memberi didikan agama kepada anak-anaknya. Suasana stressing ketika berjuang mengais rezeki telah menguras perhatian dan energi untuk sekadar memastikan kecukupan porsi pemahaman agama sang buah hati.

 

Ketiga, liberalisme dan individualisme benar-benar telah merasuki masyarakat. Perilaku saling mengingatkan akan kebaikan dan mencegah dari keburukan dipandang mencederai privasi. Pada akhirnya yang muncul adalah masa bodoh dengan keburukan yang terjadi pada orang lain. Pikirnya, ‘yang penting bukan aku, anakku, atau sodaraku’. Jika pun ada sebagian kecil saja yang tampak peduli dengan kerusakan yang terjadi di tengah masyarakat, framing ‘usil’ atau ‘tukang turut campur urusan orang’ bahkan ‘sok suci’ siap-siap dilekatkan pada yang bersangkutan.

 

Keempat, sistem pendidikan yang diberlakukan di negeri mayoritas Muslim ini pun bersifat sekuler. Ditambah dengan prinsip beragama yang diajarkan adalah moderasi. Maka alih-alih menghasilkan output pelajar dan mahasiswa beriman dan bertakwa, yang ada justru generasi yang materi oriented dan diri-diri yang terpecah kepribadiannya. Karena agama pun hanya dipahamkan sebagai urusan ibadah mahdhah dan bersifat pribadi. Masalah kehidupan, agama dipinggirkan.

 

Kapitalisme Sekuler Biangnya

 

Itu semua sesungguhnya adalah buah busuk dari akar sistem kehidupan Kapitalisme sekuler. Dalam sistem ini, materi menjadi tolak ukur kebahagiaan dan pencapaian. Maka bermunculanlah orang-orang yang silau akan kemajuan semu yang diraih Barat. Apapun yang datang dari sana dipandang baik dan menjadi trend setter.

 

Sekularisme sebagai asas dalam berkehidupan, menjadikan pribadi-pribadi yang ada hanya mengedepankan apa yang dipandang baik oleh nalarnya tanpa panduan agama. Maka ketika ego dan eksistensi diri terusik, apapun bisa dilakukan termasuk kekerasan kepada pihak yang mencederainya.

 

Adapun masyarakat yang terdidik oleh Kapitalisme sekuler akan bersifat individualistik. Mereka enggan untuk saling peduli, terlebih membudayakan saling ingat-mengingatkan akan kebaikan dan mencegah dari keburukan. Bahkan makna baik dan buruk pun telah bias, tergantung pribadi masing-masing. Tak ada standar yang baku.

 

Ketika Kapitalisme dianut, negara pun abai dalam mengurus urusan rakyat. Penjagaan terhadap akidah dan keselamatan demikian minimnya. Negara dalam hal ini abai dari menyortir masuk dan menyebarnya budaya buruk dan menyesatkan dari Barat. Prinsip Kapitalisme pulalah yang menjadikan negara tidak berdaya memblokir arus informasi yang disiarkan oleh korporasi media global. Maka budaya hedonistik pemuja kesenangan, vandalisme pemuja kekerasan, dan sederet budaya sesat lainnya demikian mudah mengkooptasi benak generasi.

 

Dalam Kapitalisme pula sistem pendidikan yang semestinya diarahkan dengan target menghasilkan generasi yang beriman takwa, berbelok arah menjadi generasi yang materi oriented kering akan ruhiyah.

   

Butuh Sistem Islam

 

Jika demikian adanya, maka tentu butuh sistem alternatif yang akan mampu mengubah generasi dari yang sebelumnya materi oriented, terbuai budaya sadisme dan kekerasan menjadi generasi yang menjadikan agama sebagai standar dalam berpikir dan berperilaku.

 

Islam sebagai way of life memiliki panduan yang menyeluruh dalam menyolusikan semua problematika kehidupan, termasuk di antaranya pendidikan terhadap generasi. Maka dalam hal ini, sebagai negeri dengan penduduk Muslim terbesar sedunia, tak berlebihan kiranya jika menengok arah solusi yang berasal dari ajaran agamanya.

 

Islam mengajarkan bahwa umat wajib berpegang pada risalah Allah Swt. bersifat kaffah (menyeluruh). Sebagaimana yang difirmankan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 208. Ketika hal itu dilakukan maka Allah menjanjikan keberkahan dari langit dan bumi akan dilimpahkan ke tengah-tengah umat (QS. Al-A’raf ayat 96). Keberkahan berupa kebaikan dan kebahagiaan hidup, tentu termasuk di antaranya terwujudnya generasi muda umat yang berakhlak dan berperilaku mulia.

 

Ke-kaffah-an dalam memegang Islam terlihat dari beberapa indikasi. Pertama, memberlakukan sistem pendidikan Islan untuk menyolusikan persoalan di tengah-tengah generasi. Hal ini dalam rangka mengembalikan mereka menjadi sosok Muslim sejati. Kedua, Masyarakat tentu wajib diasah untuk memiliki kepedulian satu sama lainnya, dengan membudayakan amar makruf nahi mungkar. Ketiga adalah mendorong negara agar mengambil peran untuk melindungi generasi secara utuh dari hantaman budaya/pemikiran asing (kufur). Dengan cara menerapkan aturan Islam yang menyeluruh dalam setiap sendi kehidupan.

 

Sejarah membuktikan, di saat sistem kehidupan Islam diberlakukan, maka generasi yang dihasilkan demikian hebat dan mulianya. Hebat karena mereka menggunakan segenap potensi masa mudanya untuk mendalami ilmu, berkarya dan mengukir prestasi. Mulia dikarenakan visi yang bersarang di dalam benak tak sekadar pencapaian dunia semata, melainkan kesuksesan meraih kebahagiaan di akhirat. Wallahu a’lam bi ash-shawwab.


Semangat Jihad di Bulan Ramadan

Semangat Jihad di Bulan Ramadan



Sepanjang sejarah, Ramadan berisi aktivitas jihad dan penaklukan oleh kaum Muslim. Pada masa Nabi saw. terjadi dua peristiwa besar, yakni Perang Badar al-Kubra di Ramadan tahun kedua Hijriyah dan Penaklukan Makkah pada 10 Ramadan 8 H. Selain itu ada juga Perang Hittin, yang bertepatan dengan musim panas 1187 M dan Perang 'Ain Jalut melawan invasi pasukan Mongol

_________________________


Penulis Ummi Qyu

Kontributor Kuntum Cahaya dan Pegiat Dakwah Komunitas Rindu Surga


KUNTUMCAHAYA.com - Tidak terasa Ramadan telah kita lalui lebih dari setengahnya bahkan sudah hampir meninggalkan kita. Tentu kita akan bersedih, karena bulan yang bertabur pahala ini akan segera berakhir, sementara kita masih belum maksimal menjalankan ibadah saum dan ibadah lainnya sebagaimana kaum Muslim di zaman Rasulullah saw.. 


Patutlah kita contoh kaum Muslim pada zaman Rasulullah saw..  Diimana, saat itu mereka berjuang mengorbankan jiwa dan raga demi menyebarkan agama Allah Swt.. Dalam keadaan menahan haus dan lapar, kaum Muslim tetap semangat membara mengibarkan bendera Islam. 


Sepanjang sejarah, Ramadan berisi aktivitas jihad dan penaklukan oleh kaum Muslim. Pada masa Nabi saw. terjadi dua peristiwa besar, yakni Perang Badar al-Kubra di Ramadan tahun kedua Hijriyah dan Penaklukan Makkah pada 10 Ramadan 8 H. Selain itu ada juga Perang Hittin, yang bertepatan dengan musim panas 1187 M dan Perang 'Ain Jalut melawan invasi pasukan Mongol.


Saat ini peperangan itu masih dirasakan oleh saudara seiman kita di sejumlah negeri, seperti Palestina. Di bulan Ramadan yang mulia ini, mereka juga berjuang mempertahankan tanah kelahirannya, agama, jiwa dan raga. Rakyat Palestina telah lama kehilangan sebagian besar tanah airnya akibat dari kekejaman agresi militer Israel yang didukung Barat.


Juga nasib Muslim Rohingya di Myanmar, seperti yang tidak pernah ada habisnya menjadi korban kekejaman militer Budha. Muslim Uyghur di Cina mengalami aksi genosida (bentuk kejahatan dengan memusnahkan kelompok masyarakat tertentu secara sistematis dan sengaja), bahkan di bulan Ramadan mereka dilarang untuk menjalankan puasa. Astaghfirullah. 


Namun, mengapa masih saja ada seorang Muslim menghina atau bahkan menuduh jihad sebagai ajaran teroris? Padahal sudah dinyatakan bahwa jihad merupakan salah satu ajaran Islam, yang aktivitasnya akan dibalas oleh Allah Swt.. dengan pahala. Dengan kesempurnaanya agama Islam mengajarkan adab-adab luhur dalam melaksanakan jihad. Seperti larangan membunuh wanita, anak-anak dan rahib, merusak rumah-rumah ibadah, membunuh hewan ternak, juga merusak tanaman. 


Kaum Muslim akan dapat banyak pujian dari Allah dan Rasul-Nya bagi yang melaksanakan jihad fi sabilillah. Namun sayangnya, saat ini jihad kerap dimaknai sebatas bersungguh-sungguh. Seperti suami yang sedang mencari nafkah, seorang ibu yang berjuang melahirkan anaknya, dan lain sebagainya. 


Padahal jihad dalam makna syariat, adalah qital (perang). Ibnu Rajab al-Hanbali menerangkan bahwa jihad adalah mengerahkan usaha dalam memerangi kaum kafir. (Fath al-Bâri,3/6)


Selain itu, dalam kitab fikih pembahasan jihad selalu seputar perang, harta rampasan perang, perjanjian damai dan lain sebagainya. Perintah berjihad juga terdapat dalam Al-Qur'an dan assunah yang telah disebutkan oleh baginda Nabi saw., bahwasannya: "Pokok dari perkara agama adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad." (HR. At-Tarmizi)


Jihad tidak pernah terhapuskan sekalipun belum ada pemimpin Islam untuk memimpin kaum Muslim di seluruh dunia. Karena, kewajiban untuk berjihad akan terus berlangsung sampai hari kiamat tiba. Dahulu umat Islam memiliki junnah (perisai) yang melindungi mereka. Palestina dan Yerusalem dapat direbut kembali dari cengkeraman musuh di bawah kepemimpinan Islam. Namun lain halnya dengan umat pada hari ini, mereka kehilangan pelindungnya, yakni pemimpin dunia Islam. Sehingga di bulan Ramadan ini masih banyak saudara kita yang belum kondusif melaksanakan ibadah puasa, shalat tarawih dan buka bersama keluarga.


Oleh karenanya kita sebagai umat Muslim harus memperjuangkan adanya kepemimpinan Islam, berjihad meninggikan kalimat Allah meskipun pada bulan Ramadan. Karena bulan Ramadan bukan untuk bermalas-malasan, akan tetapi bulan untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya. Wallahu a'lam bi ash-shawwab. []

Ramadan

Ramadan



Ramadan
Kau bulan istimewa  
Bulan maghfirah penuh keberkahan
Kau bulan pengampunan
Bulan dimana ada satu malam yang di dalamnya ada seribu bulan
_________________________


Penulis Nuni Toid

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi AMK 


KUNTUMCAHAYA.com - Ramadan

Sungguh tak bisa diucapkan

Betapa bahagia hati bertemu dengan dirimu

Kau hadir menyejukkan hati

Menyembuhkan jiwa yang berkarat


Ramadan

Sungguh hanya airmata yang menjadi saksi atas kebahagiaan ini

Dalam diamku pun tak luput panjatkan doa rasa syukur dengan perjumpaan yang indah ini


Ramadan

Izinkan aku bersamamu bersimpuh di hadapan-Mu ya Rabbi

Memohon ampun atas semua salah, khilaf, dan dosa ini


Ramadan

Aku tak akan lelah menantimu

Kau bagaikan curahan hujan yang sejuk  

Suburkan iman yang mulai kering ini

Kau pupuk mata, telinga, dan badan ini dengan kemuliaan, dan kesucianmu


Ramadan

Kau bulan istimewa  

Bulan maghfirah penuh keberkahan

Kau bulan pengampunan

Bulan dimana ada satu malam yang di dalamnya ada seribu bulan



Ramadan

Kau bulan kemenangan

Di seluruh dunia umat bersatu, memekik, bertasbih, berzikir memuji akan kebesaran dan keagungan-Mu


Ramadan

Kau bulan pembeda antara yang haq dan yang batil

Namun saat ini banyak orang yang dengan sadar berani melanggar syariat-Mu


Ramadan

Kau bulan dakwah

Mengajak manusia kembali kepada kebaikan, ketaatan dan ketakwaan


Ramadan

Kini kau kan pergi tinggalkan kami 

Sungguh hati masih ingin lama bersamamu

Namun apa hendak dikata perpisahan itu tak bisa dicegah


Ramadan

Padahal kami belum puas mereguk indahnya pahala yang berlimpah di bulan suci ini


Ramadan

Izinkan kami kelak berjumpa denganmu lagi

Dan semoga Ramadan ini adalah Ramadan terakhir tanpa khilafah []

Kemiskinan Ekstrem di Negeri Khatulistiwa?

Kemiskinan Ekstrem di Negeri Khatulistiwa?



Kekayaan yang merupakan hasil dari pengelolaan sumber daya alam hanya berputar di kalangan tertentu, menjadikan upaya pencapaian target nol persen untuk kasus kemiskinan ekstrem hanya ilusi belaka

Kesejahteraan rakyat niscaya terwujud saat Islam dijadikan tolok ukur dalam kehidupan. Karena sejatinya Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah, tetapi Islam mengatur seluruh aspek kehidupan

__________________________


Penulis Nur Syamsiah Tahir

Praktisi Pendidikan dan Pegiat Literasi AMK


KUNTUMCAHAYA.com-Bagaikan anak ayam mati di lumbung padi. Agaknya peribahasa ini layak disematkan pada kondisi masyarakat di negeri ini. Bahkan predikat negeri gemah ripah loh jinawi pun berangsur-angsur tenggelam di pusaran sistem yang berlaku di  Negeri Khatulistiwa. Apa pasal? Kondisi perekonomian rakyat di Nusantara jauh dari kata berkecukupan. Fakta menunjukkan kemiskinan ada di mana-mana dan kian bertambah jumlahnya. 


Sebagaimana berita yang dilansir oleh media liputan6 pada 6 April 2023, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Suharso Monoarfa mengatakan bahwa jumlah penduduk miskin di Indonesia yang harus dientaskan masih tinggi, terutama kemiskinan ekstrem.


Lebih-lebih apabila program belum terlaksana dan data belum berubah maka outlook jumlah kemiskinan di Indonesia pada tahun 2024 mendatang bisa mencapai 7,99 persen, ungkap Suharso. Belum terlaksananya program penanggulangan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem ini terjadi karena negara menghadapi tantangan dalam melaksanakan program tersebut, tegasnya lagi. Pernyataan ini disampaikan Suharso dalam acara Rapat Koordinasi Pembangunan Pusat 2023 yang disiarkan di laman Youtube Bappenas pada Kamis (6/4/2023). 


Dipaparkan bahwa gap jumlah penduduk miskin yang harus dientaskan semakin tinggi, sedangkan penanggulangan kemiskinan dan penghapusan kemiskinan ekstrem belum efektif. Hal ini disebabkan oleh belum akuratnya pengumpulan data, belum terintegrasinya program-program yang ada, dan pemberdayaan sosial ekonomi yang belum berkelanjutan. Sedangkan target yang dicanangkan adalah mengentaskan maksimum 5,6 juta orang pada tahun 2024 artinya kemiskinan ekstrem harus mencapai angka nol.


Kondisi kemiskinan ini setali tiga uang dengan kondisi kesehatan masyarakat. Masyarakat yang miskin bisa dipastikan dalam kondisi kesehatan yang mengenaskan. Kita bisa melihat dari data yang ada Indonesia menghadapi kasus baru yaitu Neglected Tropical Disease atau NTD, di antaranya adalah kasus Kusta, TBC (Tuberculosis), serta malaria. Bahkan Indonesia tercatat sebagai negeri dengan jumlah penderita kusta terbanyak, sebesar 12.095 kasus baru per tahun. Itu artinya Indonesia menempati posisi ketiga di dunia. Selain itu Indonesia juga menempati urutan terbesar kedua di dunia dalam kasus tahunan TB, sebesar 969.000 kasus baru per tahun.


Sungguh miris dan mengenaskan. Lalu apakah target kemiskinan ekstrem nol persen akan bisa diwujudkan?


Jika melongok pada permasalahan ini, sesungguhnya akar masalahnya ada pada tata kelola pemerintahannya. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Negeri Zamrud Khatulistiwa ini merupakan negeri yang melimpah ruah sumber daya alamnya. Sumber daya alam meliputi sektor pertanian, ladang, hutan, hasil laut dan perairan di  Nusantara, semuanya melimpah. Termasuk pula hasil tambang antara lain besi, timah, nikel, emas, perak, tembaga, minyak dan lainnya. Hanya saja hasil sumber daya alam tersebut nyatanya tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia. Hal ini terjadi karena tata kelolanya mengekor pada sistem kapitalis sekuler.


Dalam sistem kapitalis sekuler, segala upaya akan dilakukan selama itu mendatangkan manfaat khususnya manfaat materi. Sebaliknya jika itu mendatangkan kerugian pasti akan ditinggalkan. Dengan demikian dalam sistem pemerintahannya, penguasa yang nota bene adalah orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan. Mereka bisa dipastikan akan mengegolkan peraturan dan undang-undang yang berkaitan dengan eksploitasi sumber  daya alam. Sedangkan rakyat hanya menikmati sebagian kecil dari hasil eksploitasi itu. Bagian yang lebih besar pundi-pundi rupiahnya mengalir pada kontong-kantong mereka dan para kroninya alias pengusaha.


Padahal sudah jelas dalam UUD 1945 Pasal 33 Ayat (3) disebutkan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Tetapi fakta yang terjadi justru jauh dari penerapan pasal tersebut. Rakyat hanya bisa gigit jari melihat kemakmuran yang dinikmati oleh segelintir orang saja.


Fakta lain menunjukkan tak sedikit pejabat yang terkena OTT (operasi tangkap tangan), baik karena kasus suap, kasus pencucian uang ataupun kasus yang lainnya. Hal ini jelas menunjukkan kekayaan yang merupakan hasil dari pengelolaan sumber daya alam hanya berputar di kalangan tertentu. Dengan demikian upaya pencapaian target nol persen untuk kasus kemiskinan ekstrem hanyalah ilusi belaka.


Kondisi ini wajar terjadi dalam negeri yang menerapkan sistem kapitallis sekuler ini. Apalagi jika menengok pada induk semangnya yaitu Amerika Serikat dan kroni-kroninya yang kondisinya berada di ambang kehancuran.


Berbanding terbalik jika suatu negeri yang berkiblat pada sistem Islam. Hal ini sudah terbukti nyata pada negeri Islam di masa kepemimpinan Rasulullah saw. dan dilanjutkan oleh para Khulafaur Rasyidin serta para khalifah sesudahnya.


Masyarakat pada masa itu hidup sejahtera, terpenuhi semua kebutuhannya bahkan sampai tataran per individunya baik kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Bahkan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz tidak ditemukan satu pun orang miskin. Hal ini diketahui saat sang Amirul Mukminin mengutus Yahya bin Said untuk memungut zakat di Afrika. Lalu Yahya bermaksud untuk membagikannya. Akan tetapi Yahya tidak menemukan seorang pun yang berhak menerimanya artinya tidak ada orang miskin saat itu. Kondisi ini merata di seluruh penjuru wilayah kekuasaan Islam, seperti Irak dan Basrah.


Begitu pula dengan kondisi kas Baitulmaal. Di dalamnya masih banyak uang sekalipun Hamid bin Abdurrahman, Gubernur Irak pada saat itu telah membayar gaji dan hak rutin di provinsi, termasuk membayari orang-orang yang terlilit utang.


Kesejahteraan seperti ini bukanlah hal yang mustahil diwujudkan selama Islam dijadikan tolok ukur dalam kehidupan. Karena sejatinya Islam tidak hanya mengatur masalah ibadah, tetapi Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia.


Islam mengatur masalah hubungan manusia dengan dirinya sendiri, hubungan dirinya dengan sesama manusia termasuk dengan ciptaan Allah yang lain. Lebih-lebih dalam mengatur masalah pemerintahan.


Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. merupakan agama yang lengkap dan sempurna. Oleh karena itu Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 208.


يَا اَيُّهَا الَّذِينَ اَمَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كآفَّةً


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam agama Islam secara kaffah.”


Dengan demikian, seorang individu Muslim wajib untuk menjalani kehidupannya sesuai dengan aturan Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an dan alhadis. Selanjutnya sosok individu yang menjadi pemimpin juga bisa dipastikan akan memenuhi semua peran dan tanggung jawabnya dalam mengurusi rakyat yang dipimpinnya.


Apalagi sosok pemimpin itu adalah perisai, sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam HR. Bukhari Muslim, “Kullukum raa'in wa kullukum mas'uulun an-ra’iyyatih (Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap kamu akan diminta pertanggungjawaban).”


Pertanggungjawaban yang dimaksud bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Pada akhirnya dengan penerapan Islam secara totalitas baik bagi individu-individunya termasuk pemimpin dalam masyarakatnya akan mampu mewujudkan masyarakat yang sejahtera, aman, dan sentosa termasuk dalam hal kesehatan maupun keamanannya. Dengan begitu kemiskinan yang ekstrem akan bisa mencapai angka nol, sebagaimana pada masa Umar bin Abdul Aziz. Wallahualam bissawab.

Aturan Islam Tuntaskan Problem Stunting

Aturan Islam Tuntaskan Problem Stunting



Untuk mengatasi problem stunting tidak cukup hanya menggelontorkan anggaran semata. Kesejahteraan hidup akan tetap jauh panggang dari api selama sistem ekonomi Kapitalisme masih dijadikan landasan dalam setiap kebijakan. Oleh karenanya butuh sistem lain yang mampu menjamin kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Sistem tersebut tidak lain hanyalah aturan Islam yang menyeluruh

__________________________


Penulis Ummi Nissa

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Member Komunitas Rindu Surga


KUNTUM CAHAYA.com-Usia 0 sampai 6 tahun adalah masa keemasan (golden age) yang merupakan tahapan pertumbuhan dan perkembangan anak yang paling penting pada awal kehidupan manusia. Namun sayang, kini muncul masalah stunting yaitu masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi pada anak dalam jangka waktu lama, hingga menghambat pertumbuhan tinggi anak menjadi lebih pendek dari usianya. Pada akhirnya kondisi ini juga dapat memengaruhi tingkat kecerdasan mereka. 


Meski ada upaya pemerintah untuk melakukan percepatan penurunan tingkat stunting, tapi faktanya angka penderita anak stunting cenderung naik di beberapa daerah di Indonesia. 


Dikutip dari republika[dot]co[dot]id (8 April 2023),  berdasarkan SSGI (survei status gizi Indonesia) prevalensi balita stunting di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, tahun 2021 berada di angka 27,7 persen dan tahun 2022 berada di angka 28,5 persen. Hal itu menunjukkan bahwa balita stunting di Kabupaten Kepulauan Sula mengalami peningkatan sebesar 0,8 persen. Karena hal itulah, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Maluku Utara (Malut) menggelar forum koordinasi percepatan penurunan stunting dan fokus di kawasan Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T). 


Masalah stunting kini menjadi  satu dari sekian banyak PR besar bangsa ini. Terlebih, upaya pemerintah yang telah mengucurkan anggaran untuk penanganan stunting, ternyata di lapangan tidak tepat sasaran. Menteri Keuangan Sri Mulyani pun menyayangkan, dari anggaran negara senilai Rp77 triliun untuk penanganan stunting, tapi hanya Rp34 triliun yang sampai pada bayi dan ibu hamil. Sebagian yang lain digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang dianggapnya tidak urgen seperti rapat koordinasi dan pembangunan pagar puskesmas. (cnnindonesia[dot]com, 14 Maret 2023)


Mendalami Penyebab Terjadinya Masalah Stunting 


Pihak Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia. Bukan hanya mengganggu pertumbuhan fisik anak-anak, tapi penderita stunting juga akan memiliki riwayat kesehatan buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk. Bahkan hal ini bisa menurun ke generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius. Oleh karenanya perlu untuk mendalami faktor-faktor penyebabnya, agar masalah ini dapat dicegah juga dapat ditangani dengan solusi yang tuntas. 


Masalah stunting disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu lama. Hal ini bisa terjadi sejak anak masih dalam kandungan. Ada beberapa faktor yang memengaruhi hal ini, di antaranya pola makan ibu sejak hamil tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup, pola asuh yang kurang efektif, ibu tidak melakukan perawatan setelah melahirkan, gangguan mental dan hipertensi pada ibu, sakit infeksi yang berulang, dan faktor sanitasi. 


Beragam penyebab stunting tersebut sejatinya tidak dapat dilepaskan dari ketidaksejahteraan hidup yang dialami oleh masyarakat. Kemiskinan ekstrem yang terjadi saat ini, dimana banyak rakyat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya. Hal ini menjadi penyebab utama munculnya problem stunting. Kehidupan yang tidak sejahtera menjadikan ibu hamil dan anak-anak tidak mendapatkan asupan makanan sesuai dengan standar gizi yang sehat. Selain itu, kurangnya ilmu pengetahuan terkait kesehatan dan kebutuhan gizi  yang diperlukan tubuh turut memperparah permasalahan tersebut.


Kapitalisme Sekuler Akar Masalah Ketidaksejahteraan 


Problem stunting sejatinya bukanlah semata-mata masalah kekurangan gizi kronis. Namun masalah ini bersifat sistemik sebab terkait dengan aspek kehidupan manusia lainnya selain kesehatan. Kemiskinan ekstrem yang memengaruhi tingginya angka stunting di Indonesia disebabkan oleh penerapan sistem ekonomi Kapitalisme sekuler.


Sistem ini telah mengakibatkan kesenjangan ekonomi antara  rakyat yang kaya dan miskin begitu lebar. Kondisi ini terjadi akibat regulasi penguasa yang hanya berpihak pada pemilik modal. Penguasaan harta kekayaan milik umum yang diberikan  penguasa kepada korporasi menjadikan kekayaan hanya dapat dinikmati oleh segelintir orang. Sementara rakyat kebanyakan tidak mendapatkan kesejahteraan, bahkan untuk sekadar memenuhi kebutuhan pokok hidupnya pun tidak mampu.


Selain itu, sistem Kapitalisme juga telah melahirkan para birokrat yang hanya mengutamakan kepentingan materi dibanding kepentingan masyarakat. Buktinya tampak dari pemanfaatan anggaran yang telah dikucurkan negara tidak efektif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, terutama ibu hamil dan anak-anak yang menjadi sasaran dari program penanganan stunting.


Dengan demikian, untuk mengatasi problem stunting tidak cukup hanya menggelontorkan anggaran semata. Kesejahteraan hidup akan tetap jauh panggang dari api selama sistem ekonomi Kapitalisme masih dijadikan landasan dalam setiap kebijakan. Oleh karenanya butuh sistem lain yang mampu menjamin kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Sistem tersebut tidak lain hanyalah aturan Islam yang menyeluruh.


Aturan Islam Mampu Mengentaskan Masalah Stunting 


Masalah stunting sejatinya dapat dicegah sejak awal jika rakyat hidup sejahtera. Jaminan kesejahteraan hanya akan didapat jika sistem ekonomi Islam diterapkan. Pemimpin dalam Islam wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat  individu per-individu, termasuk di dalamnya ibu hamil dan anak-anak. Kebutuhan pokok tersebut meliputi sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan. 


Tanggung jawab pemimpin seperti ini sesuai dengan hadis Rasulullah saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: “Imam (Khalifah) adalah raa’in atau pengurus dan ia bertanggung jawab atas rakyat yang diurusnya."


Pemimpin harus memastikan rakyat dapat memenuhi kebutuhan pokoknya sesuai standar kesehatan yang cukup dan kelayakan hidup baik sandang, pangan maupun tempat tinggal. Untuk menjamin kebutuhan pokok ini, maka negara akan memberi jaminan secara tidak langsung. Yakni dengan mewajibkan pada setiap laki-laki yang telah memiliki tanggungan untuk bekerja memenuhi nafkah keluarganya. 


Di sisi lain negara tentu saja tetap berperan dengan membuka lapangan pekerjaan yang luas, memberi bekal  kemampuan atau keterampilan (skill) melalui pendidikan kepada masyarakat. Sehingga jaminan pendidikan, kesehatan, dan keamanan akan diberikan secara langsung. Rakyat berhak mendapatkan pelayanan kesehatan dan pendidikan dengan murah dan mudah.


Selain itu,  sistem ekonomi Islam membagi konsep kepemilikan menjadi tiga, yaitu individu, umum, dan negara. Pengelolaan kepemilikan individu diserahkan pada pribadi dengan catatan tidak bertentangan dengan hukum syarak. Sementara untuk kepemilikan umum dan negara akan dikelola oleh negara melalui Baitulmaal. Sebagian hasil pengelolaan kepemilikan umum tersebut akan dikembalikan kemanfaatannya bagi rakyat berupa layanan kesehatan atau pendidikan.  


Selain itu, terdapat pos khusus, yaitu pos zakat yang diperoleh dari para muzaki (orang yang wajib membayar zakat). Negara menanamkan keimanan kepada rakyatnya serta mendorong rakyat yang kekayaannya telah mencapai nisab (standar wajib mengeluarkan zakat) agar menunaikan zakat. Semua itu dilakukan dengan mengharap rida Allah Swt.. Zakat ini akan diberikan kepada delapan golongan penerima zakat, di antaranya keluarga yang tergolong fakir dan miskin. Zakat ini pun akan terus diberikan hingga keluarga tersebut meningkat taraf kesejahteraan hidupnya.


Dengan penerapan sistem ekonomi Islam maka masalah kemiskinan akan terselesaikan. Selain itu, negara akan melakukan pembinaan secara terus-menerus mengenai hidup sehat, masyarakat diberi kemudahan mengakses gizi seimbang sehingga problem stunting dapat teratasi secara tuntas. Semua hal tersebut hanya akan terwujud dengan penerapan aturan Islam secara menyeluruh. Wallahu a’lam bi ash-shawwab. []

Marak Penelantaran Anak, Buah dari Sistem Rusak

Marak Penelantaran Anak, Buah dari Sistem Rusak



Anak adalah amanah besar dari Allah Swt. yang harus dijaga dengan baik. Segala sesuatu yang menyangkut hak dan kewajibannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya kelak


Pentingnya edukasi bagi calon ayah dan ibu tentang hak dan kewajiban masing-masing saat berumahtangga berlandaskan syariat Islam.ketakwaan dalam diri individu, adanya kontrol masyarakat, dan peran negara yang akan menjatuhkan sanksi yang tegas bagi para pelaku akan memberikan keberkahan buat kita semua

_________________________


Penulis Ummu Ainyssa

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUMTUMCAHAYA.com - Kelahiran seorang anak merupakan aset besar dalam kehidupan manusia, bukan hanya bagi kehidupan di dunia, tetapi juga bagi kehidupan di akhirat kelak. Bahkan Rasulullah saw. pernah mengabarkan dalam hadisnya bahwa salah satu amalan yang tidak akan pernah terputus adalah doa anak saleh. Maka keberadaan anak yang lahir dan dididik menjadi anak saleh adalah sebuah anugerah besar bagi orangtua. Namun sayang, hal ini tampaknya tidak banyak dipahami oleh sebagian orangtua. Terlebih bagi mereka orangtua muda. Tak jarang mereka menganggap anak sebagai sebuah beban. 


Seperti kasus penelantaran anak yang masih sering terjadi di negeri ini. Yang terbaru terjadi di Banjarmasin beberapa waktu lalu. Plt. Deputi Bidang Pemenuhan Hak Anak KemenPPPA, Rini Handayani, pada Sabtu (8/4) menyampaikan bahwa sepanjang Januari-April 2023 setidaknya telah ditemukan dua kasus bayi yang dibuang oleh orangtuanya di Kota Banjarmasin. Dimana salah satu bayi telah dikembalikan kepada orangtuanya yang belum berstatus menikah. Sementara satu korban lainnya bayi yang dibuang dalam kardus saat ini telah mendapatkan perawatan intensif dari rumah sakit dan kasusnya masih dalam penyelidikan kepolisian. 


Rini pun mengungkapkan keprihatinannya atas kasus penelantaran bayi di Banjarmasin ini, terlebih kasus ini diduga akibat hubungan di luar pernikahan. Menurutnya, kasus ini jelas memberikan gambaran nyata masih adanya pengasuhan tidak layak anak di Indonesia. Sehingga, perlu adanya gerakan masif bersama agar kasus serupa tidak terjadi lagi. Semua elemen masyarakat, mulai dari keluarga, tokoh agama, tokoh adat, dan pemerintah harus bersinergi memberikan edukasi reproduksi kepada anak dan remaja serta edukasi ketahanan keluarga bagi calon orangtua anak (COTA). 


Selanjutnya dalam menangani kasus seperti ini, apabila orang tua korban tidak ditemukan, maka korban akan diserahkan kepada panti perawatan bayi milik Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan paling lama selama enam bulan. Selanjutnya akan dilakukan prosedur pengangkatan anak atau COTA dibantu oleh lembaga asuhan yang ditunjuk. (Republika, 8/4/2023) 


Kasus penelantaran anak seolah menjadi hal yang biasa dan terus berulang di negeri ini. Bahkan tak jarang bagi sebagian orang kasus seperti ini dijadikan solusi bagi mereka yang enggan mengurus atau belum siap memiliki anak. Menurut DataIndonesia[dot]id, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, sepanjang tahun 2022 ada 4,59% bayi di Indonesia yang telantar. 


Kalimantan Utara menjadi provinsi dengan proporsi balita telantar tertinggi di Indonesia, yakni 12,16%. Disusul Kalimantan Tengah dengan 11,36%, Maluku 8,41%, Sumatera Barat dan Sulawesi Barat masing-masing sebesar 7,35% dan 7,29%, Kalimantan Barat dan Aceh masing-masing sebesar 3,45% dan 3,47%, serta provinsi dengan data terendah terdapat di Kalimantan Timur, yakni 3,03%. Data ini menunjukkan bahwa penelantaran anak bukan hanya disebabkan oleh faktor ekonomi semata, melainkan karena tidak mendapatkan pengasuhan, perawatan, pembinaan dan perlindungan, sehingga hak-hak dasarnya tidak terpenuhi serta dieksploitasi untuk tujuan tertentu.


Besar kemungkinan data tersebut akan terus bertambah, mengingat meningkatnya permohonan dispensasi nikah yang akhir-akhir ini mencuat di kalangan remaja yang masih berstatus pelajar, yang sebagian besar disebabkan karena hamil duluan. Mereka para remaja yang terjun dalam pergaulan bebas, hanya menuruti hawa nafsu, menyalurkan syahwat sebelum waktunya. Sehingga saat terjadi kehamilan mereka belum siap menjadi orangtua. Tentu lagi-lagi yang menjadi korban adalah buah hatinya. Anak menjadi korban yang ditelantarkan. Sungguh keadaan yang sangat miris.


Inilah yang menjadi akar persoalan dari masalah ini. Kini, tidak ada larangan bagi remaja yang berdua-duaan dengan yang bukan mahramnya. Pacaran dianggap sebagai hal yang sudah lumrah. Ditambah tontonan berbau pornografi dan pornoaksi yang vulgar, bebas melintas setiap kali membuka internet. Anak-anak hingga remaja pun begitu mudah mengaksesnya. Padahal semua itu tak lain adalah jalan menuju perzinaan. Akibatnya hasrat berahi pun memuncak, menuntut untuk disalurkan, hingga zina menjadi pilihannya. Ditambah lagi tidak adanya sanksi yang tegas terhadap para pelaku zina, membuat para pelaku merasa tanpa dosa. 


Melihat fenomena tersebut, maka sudah seharusnya solusi yang diambil bukan hanya sekadar memberikan edukasi tentang reproduksi yang baik bagi para remaja, atau mencarikan calon orangtua angkat bagi anak. Akan tetapi seharusnya mencari solusi yang akan mencabut akar dari masalah kasus ini. Yakni melarang keras pergaulan bebas di kalangan remaja. Dimana pergaulan saat ini lebih pada rusaknya sistem yang mengaturnya, yakni sistem sekuler-liberal. Mereka menganggap bahwa hidup, cinta, dan hasrat merupakan hak kebebasan bagi setiap individu. Sehingga tidak boleh ada aturan ataupun individu lain yang bisa menghalangi kebebasan tersebut. Terlebih jika hasrat itu disalurkan atas dasar suka sama suka. Tidak lagi melihat rambu-rambu syariat. 


Berbeda dengan solusi yang akan mencabut masalah dari akarnya. Yakni sistem Islam, solusi yang berasal dari Sang Pencipta. Di dalam Islam, Allah secara tegas melarang hal-hal yang bisa mendekati perbuatan zina, sebab zina adalah perbuatan keji yang akan mengantarkan pada jalan yang buruk. Mendekati zina saja dilarang, apalagi jika sampai berzina. Itulah sebabnya, dalam Islam dari cara pergaulan saja sudah diatur oleh syariat. 


Hukum asal pergaulan antara laki-laki dan perempuan adalah terpisah, kecuali dalam aktivitas yang diperbolehkan oleh syarak, seperti jual beli, akad tenaga kerja, belajar, kedokteran,dll dengan tetap memperhatikan batasan hukum syariat. Tidak dibolehkan bagi laki-laki dan perempuan yang bukan mahram untuk berduaan. Dalam pergaulannya pun mereka diwajibkan menutup aurat secara syar'i serta menundukkan pandangan terhadap lawan jenis. Hal ini agar tidak menyebabkan pandangan dibarengi dengan syahwat. 


Jika ada yang sudah siap untuk menikah maka Islam akan memudahkan para pemuda atau pemudi untuk menikah. Sebelumnya akan diberikan edukasi atau pemahaman tentang hak dan kewajiban dari masing-masing ketika sudah menikah. Baik bagi calon suami yang kelak akan menjadi pencari nafkah, maupun bagi calon ibu yang kelak akan mendidik anak-anaknya sebagai calon penerus generasi. Dengan begitu tidak ada lagi alasan untuk menelantarkan anak. Sebab mereka telah memiliki pemahaman bahwa anak adalah amanah besar dari Allah Swt. yang harus dijaga dengan baik. Segala sesuatu yang menyangkut hak dan kewajibannya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya kelak. 


Sehingga jika aturan pergaulan ini benar-benar diterapkan, diiringi dengan ketakwaan dalam diri individu, maka tidak akan ada zina hingga berujung kasus penelantaran anak seperti yang marak terjadi saat ini. Ditambah dengan adanya kontrol masyarakat yang berlomba melakukan amar makruf nahi mungkar, sehingga masyarakat akan peduli dan tak segan menasihati jika melihat pergaulan yang melanggar syariat. Selanjutnya jika sudah ada kontrol masyarakat, tapi masih ada yang melanggar aturan, maka peran negaralah yang akan menjatuhkan sanksi yang tegas bagi para pelaku. Sebab hanya dengan keberadaan negara yang mampu menerapkan aturan Islam secara tegas dan menyeluruh dalam segala aspek kehidupan inilah Allah Swt. akan memberikan keberkahan buat kita semua. 


"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Al-A'raf: 96) []