New G4za : Kala Nasib G4za Berada dalam Zion*s
OpiniProyek New G4za melalui kesepakatan BOP makin kuat
Ini bukan lagi sekadar aksi perusakan atau penyerangan dengan pola yang tidak tetap
______________________
Penulis Desti Sundari
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Miris, kekuasaan Isra*l kian menunjukkan kekejaman. Pengambilan wilayah Tepi Barat terus dilakukan Zion*s Isra*l dengan ribuan serangan, ancaman, teror oleh pemukim ilegal, penghancuran puluhan masjid dan rencana pembangunan 2.300 unit perumahan ilegal Zion*s untuk memperluas ekspansinya di Yerusalem Timur. (cnnindonesia.com, 06-08-2026)
Proyek New G4za melalui kesepakatan BOP makin kuat. Ini bukan lagi sekadar aksi perusakan atau penyerangan dengan pola yang tidak tetap. Strateginya sudah naik level, perampasan lahan secara sistematis. Lahan-lahan strategis dirampas masif, lalu dikunci dengan jaringan pos-pos pemukiman ilegal.
Tujuannya jelas, mengepung, mengisolasi, dan memaksa pergi. Ini bukan pembangunan, ini penjajahan bertahap. Bukan tentang kemanusiaan, tapi tentang mengubah reruntuhan jadi pasar, di mana penderitaan warga dijual sebagai peluang bisnis bagi korporasi AS.
Laporan Komisi Perlawanan Tembok dan Pemukiman P4lestina bersama pemantauan Al Jazeera mencatat ada 56 pos pemukiman ilegal baru berdiri sejak Januari 2026. Yang lebih provokatif, 6 di antaranya sengaja dibangun di Area B. Padahal Area B secara hukum berada di bawah kendali administratif Otoritas Palestina berdasarkan Perjanjian Oslo. Ini bukan perluasan. Ini pelanggaran terang-terangan.
Ekspansi ini bersifat menyeluruh. Penyebaran outpost ilegal kini mencakup koridor selatan hingga utara Tepi Barat. Namun, utara menjadi episentrum. Data menunjukkan intensitas kekerasan pemukim di wilayah utara jauh lebih tinggi dibanding wilayah lain. Penentangan PBB dan derasnya kecaman dari komunitas internasional ternyata tidak memiliki daya cegah yang nyata di lapangan. Resolusi demi resolusi dikeluarkan, sidang darurat digelar, dan pernyataan keprihatinan mendalam terus diulang.
Namun di saat yang sama, buldoser tetap meratakan rumah, pemukiman baru tetap dibangun di atas tanah yang dirampas, dan peta wilayah P4lestina terus tergerus. Fakta ini memperlihatkan satu hal mendasar, hukum internasional dan diplomasi multilateral hanya berfungsi sejauh ada kemauan politik dan konsekuensi untuk menegakkannya. Karena dua hal itu tidak ada, maka aneksasi terus berjalan tanpa hambatan berarti.
Kebuntuan ini bukan kecelakaan politik. Ia adalah bukti bahwa proyek Isra*l Raya bukan sekadar wacana ideologis atau retorika kampanye politik domestik Zion*s. Ia adalah agenda negara yang dijalankan secara sistematis, bertahap, dan terukur. Aneksasi bukan dilakukan secara terburu-buru dan frontal, melainkan melalui strategi salami slicing memotong sedikit demi sedikit, satu pemukiman hari ini, satu jalan bypass besok, satu pos militer lusa. Tujuannya jelas, menciptakan fakta di lapangan yang membuat gagasan negara P4lestina secara geografis dan politik menjadi mustahil.
Dengan kata lain, setiap meter tanah yang dianeksasi adalah satu langkah konkret menuju realisasi Isra*l Raya dari Sungai ke Laut. Penolakan dunia justru dibaca sebagai biaya politik yang bisa ditanggung, selama dukungan militer, ekonomi, dan perlindungan diplomatik dari sekutu utama tetap mengalir. Selama biaya untuk melanjutkan aneksasi lebih kecil daripada biaya untuk menghentikannya, maka agenda ini tidak akan berhenti.
Karena itu, melanjutkan harapan pada tekanan dunia saja tanpa ada perubahan keseimbangan kekuatan adalah naif. Kemerdekaan P4lestina tidak akan diberikan oleh Zion*s karena itu bertentangan dengan Isra*l Raya. Zion*s hanya menghentikan aneksasi jika ada tekanan politik & ekonomi yang memaksa, kekuatan perlawanan yang membuat biaya pendudukan terlalu mahal.
Selama dua itu tidak ada, kemerdekaan akan terus diganti dengan istilah lain yaitu otonomi, zona ekonomi, bantustan, bukan negara. Selama Zion*s Isra*l masih berkuasa, solusi dua negara hanya akan jadi wacana. Kesepakatannya tidak akan pernah terjadi.
Zion*s Isra*l mustahil berdamai, jihad dan persatuan negeri-negeri muslim melawan Zion*s adalah kata kunci untuk membebaskan P4lestina. Topeng BOP harus dibongkar di hadapan umat, agar umat tidak tertipu mendukung penguasanya bergabung dengan BOP. Hal tersebut adalah pengkhianatan penguasa muslim. Persatuan negeri-negeri muslim di bawah Khil4fah harus semakin masif diperjuangkan melalui dakwah politis.
Solusi bukan pada menegosiasikan penjajahan agar lebih manusiawi, tetapi pada mencabut akar penjajahan itu sendiri. Dan akar itu hanya bisa dicabut ketika umat kembali bersatu dalam satu institusi yang berani menyatakan bahwa tanah kaum muslimin adalah satu, darah kaum muslim adalah satu, dan kehormatan kaum muslim adalah tanggung jawab seluruhnya. Itulah yang akan membuat musuh berpikir seribu kali sebelum berani melakukan aneksasi lagi.
Allah berfirman: “Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Berdasarkan Tafsir Tahlili Kemenag dijelaskan bahwa dengan turunnya ayat ini hukum perang itu menjadi wajib kifayah dalam rangka membela diri dan membebaskan penindasan. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


