Alt Title

Kapitalisme Menggerus Peran Pengasuhan

Kapitalisme Menggerus Peran Pengasuhan



Peran orang tua dalam hal mengasuh dan mendidik anak

tidak mencukupkan dengan jasa penitipan 
anak. Akan tetapi, harus memiliki tiga pilar yang saling bersinergi antara individu, masyarakat, juga negara


________________________________


Penulis Ummu Raffi

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Beberapa waktu lalu, publik digemparkan dengan kasus dugaan penganiayaan terhadap anak di sebuah Daycare, di Yogyakarta.


Mencuatnya kasus ini setelah adanya kesaksian dari sejumlah laporan. Terdapat beberapa bukti kekerasan dan penelantaran memprihatinkan yang menimpa anak-anak mereka. Hingga pihak berwajib pun turun tangan guna menindak lanjut pemeriksaan lebih dalam. (detik.com, 25-4-26)


Fakta tersebut menunjukkan bahwa situasi aman bagi anak nampaknya semakin tergerus. Sangat ironis, daycare yang menjadi harapan orang tua sebagai ruang aman bagi anak mereka. Justru berubah menjadi tempat menyeramkan, mulai dari penyiksaan fisik maupun psikis. Bahkan rentetan kasus kekerasan serupa kian merajalela terjadi di berbagai daerah.


Rasa aman itu bukan sekadar tempat, melainkan kepada siapa kita percayakan. Maraknya fenomena daycare hari ini, bagaikan fenomena gunung es. Hal ini terjadi bukan tanpa sebab, melainkan alarm keras bagi pemerintah atas kerusakan sistem. 


Permasalahan ini tidak bisa sebatas menindak segelintir oknum pengasuh yang niradab. Akan tetapi, butuh solusi fundamental dari negara dalam menjaga dan melindungi rakyatnya. Hal ini dilakukan untuk meminimalisasi terjadinya tindak kriminal bahkan penyimpangan.


Sistem kapitalisme memandang standar keberhasilan hidup diukur atas dasar materi. Oleh karena itu, tak heran saat ini anak dipandang sebagai komoditas jasa demi meraup keuntungan sebesar-besarnya. Sehingga, demi efisiensi kerap memunculkan dari pemilik daycare menerapkan rasio pengasuh tidak ideal, menuntut kerja full time dengan gaji rendah. 


Akibatnya, para pengasuh kelelahan, hingga muncul tidak adanya ikatan emosional dengan anak. Hal ini dapat memicu terjadinya ruang rawan tindak kekerasan. Tampak jelas akar permasalahan kasus ini, bukan sekadar pada individu pengasuh semata. Akan tetapi, pada sistem yang telah membentuk cara pandang hidup masyarakat.


Kini para orang tua terutama ayah sebagai tulang punggung keluarga bekerja keras demi mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Ditambah saat ini banyak ayah yang terkena PHK. Kondisi ini menyebabkan para ibu mengalami berbagai tekanan hidup seperti mahalnya biaya hidup, mulai dari kebutuhan ekonomi dan standar sosial yang tinggi.


Pada akhirnya, para ibu pun terpaksa berjuang sama-sama untuk bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Kondisi ini mengakibatkan peran pengasuhan dalam keluarga melemah. Orang tua tidak lagi mempunyai waktu luang untuk merawat dan mendidik anak-anaknya secara utuh sehingga anak-anak mereka sebagian ada yang dititipkan ke daycare.


Perlu kita sadari bahwa negeri ini tidak minim fasilitas. Melainkan hilangnya kesadarandan rasa tanggung jawab. Bahwa setiap perbuatan kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Sekalipun negeri ini memiliki Lembaga Perlindungan Anak, nyatanya tidak mampu melindungi anak-anak dari tindak kekerasan maupun yang lainnya. Selain itu, sanksi hukum yang diberikan tak menjadikan efek jera bagi para pelaku, sehingga tindak kekerasan terus terulang.


Fenomena kasus daycare yang terjadi, seharusnya menjadi cambuk bagi pemerintah untuk bersikap tegas dalam melindungi rakyatnya. Tempat di mana orang tua merasa aman, ketika menitipkan anak-anaknya. Pada faktanya, kado pahit harus diterima atas berbagai tindakan tak pantas yang dialami anak-anak mereka.


Tentunya hal ini tidak lepas dari penerapan sistem kapitalis sekuler yang tengah bercokol. Sistem yang hanya mengutamakan keuntungan daripada tanggung jawab. Negara hanya berfungsi sebagai regulator dan fasilitator yang menguntungkan segelintir orang.


Sistem saat ini banyak melahirkan manusia yang kehilangan hati nurani. Bahkan tidak peduli halal haram atas perbuatannya. Sehingga, dalam menjalankan tugasnya dilakukan asal-asalan dan dijalankan hanya dengan logika bisnis demi efisiensi.


Islam dengan serangkaian aturannya yang sempurna, tentu saja akan memberikan solusi terbaik dalam hal memanusiakan manusia. Islam tak hanya mengajarkan nilai, namun juga mampu membangun sistem kehidupan.


Dalam Islam, yang bertanggung jawab memberikan nafkah adalah ayah. Keluarga hanya sebagai penopang, apabila dibutuhkan. Sedangkan negara, akan memastikan sistem ekonomi berjalan secara adil dari hulu hingga hilir. Negara akan mengelola sumber daya alam. Menyediakan layanan publik yang terjangkau bahkan gratis. Mulai dari pendidikan, kesehatan, keamanan untuk kemaslahatan umat. 


Oleh karena itu, negara hadir dengan membuka lapangan kerja seluas-luasnya. Agar para ayah mampu memenuhi seluruh kebutuhan pokok keluarganya. Baik sadang, pangan, maupun papan. Sehingga, para ibu tidak ada yang terpaksa bekerja demi tekanan hidup dan mengabaikan perannya. Sebab, semua kebutuhan sudah tercukupi. 


Sistem hari ini, menjadikan banyak perempuan bekerja bukan karena pilihan melainkan dipaksa oleh keadaan. Islam hadir tidak melarang seorang perempuan berkarya. Akan tetapi, untuk menjaga marwah dan tugas utama seorang ibu tidak sirna. Peranan orang tua dalam Islam sangatlah mutlak, mulai dari hal mendidik dan mengasuh anak.


Rasulullah saw. bersabda, "Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya." (HR. Bukhari dan Muslim) 


Bahwasanya orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya. Tidak hanya sebatas pengasuhan fisik atau memenuhi aspek lahiriah, seperti makan, minum, pakaian, pendidikan. Adapun seorang ibu merupakan pemimpin di dalam rumah sekaligus madrasah pertama untuk anak-anaknya.


Adanya kedekatan antara ibu dan anak, dapat membentuk akhlak dan ikatan emosional. Hal ini tak bisa tergantikan oleh sistem. Oleh karena itu, tugas seorang ibu bukanlah peran tambahan, melainkan sebagai penjagaan terbaik dalam mewujudkan akhlak generasi.


Dalam Islam, pengasuhan yang amanah memiliki nilai ibadah tatkala dilakukan secara benar sesuai syariat. Namun sebaliknya, jika abai dalam mendidik anak, maka akan berdosa. Sehingga, ketika pengasuhan diserahkan kepada pihak penitipan anak, tanpa keamanan dan kenyamanan yang jelas, merupakan bentuk kelalaian terhadap tanggung jawab. 


Sebagaimana tercantum dalam firman Allah yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.." (QS. At-Tahrim: 6)


Dengan demikian, terkuaknya fenomena daycare yang marak bukan sekadar kasus. Akan tetapi, dijadikan sebagai pelajaran para orang tua, agar teliti ketika memilih tempat penitipan anak. Adanya kepedulian masyarakat juga negara yang lebih berempati dalam memenuhi kebutuhan hidup rakyatnya. Alhasil, kesejahteraan pun akan dirasakan seluruh umat.


Oleh karena itu, peran orang tua dalam hal mengasuh dan mendidik anak tidak mencukupkan dengan jasa penitipan anak. Akan tetapi, harus memiliki tiga pilar yang saling bersinergi antara individu, masyarakat, juga negara. Disertai keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.. 


Seorang pemimpin akan memastikan setiap keluarga dan masyarakat mendapatkan edukasi pola pendidikan dan pengasuhan berbasis akidah Islam yang mampu melahirkan generasi bertakwa. Tentu saja semua ini hanya akan terwujud tatkala Islam memimpin dunia. Wallahualam bissawab. [Eva/MKC]