Alt Title

Syariat Islam Mampu Mengembalikan Wibawa Guru

Syariat Islam Mampu Mengembalikan Wibawa Guru



Sistem Islam akan menjamin produktivitas belajar mengajar

yang melahirkan siswa yang berahlakul karimah dan guru yang berwibawa


____________


Penulis Laesih Ummu Arfakh

Kontributor Media Kuntum 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Sungguh sangat miris, dunia pendidikan kembali tercoreng oleh aksi sejumlah siswa yang menunjukan sikap tidak pantas. Seorang guru mendapatkan perlakuan buruk oleh siswa di dalam kelas. Rekaman video aksi tersebut tersebar di media sosial.


Dalam rekaman tersebut terlihat beberapa siswa telah melakukan penghinaan dan pelecehan terhadap gurunya dengan gestur mengacungkan jari tengah yang dinilai melecehkan sosok guru yang seharusnya di hormati. (Detik.com, 18-04-2026)


Memprihatinkan sekali, sejumlah siswa SMAN 1 Purwakarta menunjukan sikap tidak hormat pada gurunya bernama Syamsiah yang biasa disapa Atun. Para siswa dalam rekaman video itu terlihat mengacungkan jari tengah ketika gurunya keluar dari kelas. Perilaku anak didik seperti ini bukan pertama kali, sikap ini mencerminkan etika yang buruk karena tidak menghormati ibu Atun gurunya sebagai pengajar. Etika buruk siswa seperti ini tidak layak ditiru oleh siapa pun, terlebih oleh siswa yang terdidik.


Sekolah telah memberikan skorsing terhadap siswa tersebut selama 19 hari. Namun, kebijakan ini dinilai bukan solusi terbaik di dalam membentuk karakter siswa, kritik Dedi Mulyadi. Menurutnya hukuman yang diberikan seharusnya lebih edukatif supaya memberi dampak langsung pada perubahan perilaku siswa. Misal, membersihkan halaman sekolah setiap hari dan membersihkan toilet. Dengan cara ini diharapkan akan terbentuk karakter bagi siswa dan ada efek jera dari hukuman tersebut.


Ada perubahan positif di dalam kebijakan jangka pendek ini, setidaknya ada kepedulian terhadap etika buruk siswa yaitu dengan mendisiplinkannya. Pertanyaan selanjutnya, apakah hal ini akan membuat semua siswa memiliki etika dan adab yang baik terhadap guru?


Ketika kita kaji lagi penyebab masalah ini sebenarnya bukan hanya dari siswa. Namun, dari sistem pendidikan sekuler liberal yang abai adab terhadap guru. Sistem inilah yang membentuk moral siswa. Pemicu yang lainnya juga berasal dari budaya Barat yang membuat siswa bebas melakukan apapun tanpa rasa takut. Mereka bebas berekspresi dan menuruti keinginan masing masing. Jelas, penerapan sistem ini telah melahirkan siswa yang tidak bermoral.


Buah sistem yang ada hanya mengarahkan siswa lebih mengutamakan viralitas di media sosial daripada menjaga adab dan kehormatan guru. Siswa juga didorong untuk menaikan popularitas di media sosial. Ingin terkenal, tetapi salah melangkah, tidak memandang apakah itu baik atau buruk sehingga wibawa guru saat ini menjadi sangat lemah.


'Profil Pelajar Pancasila' sering digaungkan,  tetapi tidak ada hasil yang signifikan dari program tersebut. Sepertinya program-program pemerintah hanya formalitas hitam di atas putih. Krisis adab sudah menjangkiti para siswa, mereka tidak memahami bagaimana memuliakan guru.


Imam Abdullah bin Mubarak berkata: "Kami lebih butuh adab yang sedikit dibanding ilmu yang banyak." Dengan merekam ketidakberadaban siswa dan memviralkan video ke media sosial hanya berharap banyak yang melihat tanpa berpikir itu akan merendahkan wibawa guru. Padahal Islam memerintahkan kita untuk menghormati guru karena dengan kita menghormatinya berarti kita juga memuliakan Allah dan Rasul-Nya.


Rasulullah saw. bersabda: "Barang siapa memuliakan orang alim (guru) maka ia memuliakan aku. Dan barang siapa memuliakan aku maka ia memuliakan Allah. Dan barang siapa memuliakan Allah maka tempat kembalinya adalah surga." (Sumber: Kitab Lubabul Hadits)


Selama sistem kapitalisme sekulerisme masih dipertahankan di negara ini, maka wibawa guru akan terus di rendahkan. Dari sini kita sadar bahwa solusi atas persoalan ini tidak hanya tambal sulam, tetapi harus mengubah kapitalisme sekularisme dalam segala bidang, terutama pendidikan. Sistem pendidikan harus dibangun berdasarkan akidah Islam yang mampu melahirkan siswa berakhlakul karimah.


Dalam Islam, negara akan mampu mencetak generasi yang memiliki berkepribadian Islam, yakni pola pikir dan pola sikap Islam. Artinya, seseorang akan bersikap sesuai dengan hukum syarak. Hal ini terwujud ketika pendidikan berlandaskan akidah Islam. Konten-konten digital yang muncul akan di saring oleh negara sehingga moral umat dijamin keamanannya. Ketika ada konten yang merusak, maka akan diputus mata rantainya oleh negara.


Bagi pelaku dan penyebar konten yang merusak maka akan diberikan sanksi yang berfungsi sebagai penebus dan jawabir bagi pelaku dan juga jawazir bagi yang lain. Agar tidak mencontoh perbuatan yang sama. Sanksi dalam Islam pun akan memberi efek jera dan adil sesuai syariat Islam.


Dalam Islam, guru merupakan sosok yang mulia yang akan diberi penghargaan tinggi oleh negara dan diberi penghidupan yang layak sehingga tetap terjaga kemuliaanya. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]