Alt Title

Inspirasi Berujung Tragedi

Inspirasi Berujung Tragedi


Platform digital membutuhkan peran negara 

yang memiliki wewenang dalam mengontrol media massa termasuk ruang-ruang digital

____________________________


Penulis Ummu Ayya

Kontributor Media Kuntum Cahaya


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- "Entah apa yang merasukimu”
"Hingga kau nekat lompat dari lantai tiga”
"Kau sia-siakan masa muda"


Lirik lagu di atas memang tidak sama dengan aslinya. Kata-katanya juga disesuaikan dengan peristiwa yang membuat kita tidak sekadar mengelus dada dan geleng-geleng kepala. Lebih dari itu, peristiwa ini juga bikin hati para orang tua was-was dengan tingkah laku anak belasan tahun yang kadang di luar logika. 


Entah apa yang ada di benak anak perempuan bernama KA (13) sampai dirinya nekat terjun bebas dari lantai tiga Pasar Desa Serangan, Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Bali. Sontak, peristiwa yang terjadi pada Minggu (19-04-2026) itu langsung menjadi trending topik di media sosial. 


Kondisi Korban


Akibat aksinya tersebut, KA yang masih di bangku SD itu mengalami patah tulang di bagian kedua kaki dan tangan kanannya. Kondisinya yang demikian membuat remaja putri tersebut harus mendapatkan penanganan serius dan menjalani operasi di RSUP Prof Ngoerah, Bali. 


Keterangan di atas disampaikan oleh Kanit Polsek Denpasar Selatan, Iptu Azel Arisandi. Azel juga menjelaskan pihaknya belum bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut karena korban masih menjalani pemulihan. Dugaan sementara, KA terpapar game online bernama Omori. Game ini bergenre horor yang di dalamnya terdapat adegan melompat dari gedung. 


Penyelidikan lanjutan juga menunjukkan bahwa KA sempat berjoget mengikuti irama lagu yang ada di game tersebut kemudian berlari dan langsung meloncat begitu saja. Sontak, peristiwa yang terjadi pada pukul 17.00 WITA itu langsung menghebohkan warga sekitar. Peristiwa tragis tersebut kini masih dalam penyelidikan yang berwenang. (CNN Indonesia, 23-04-2026)


Mengenal Game Omori


Aksi nekat KA yang disinyalir terpapar game Omori menunjukkan betapa game tersebut begitu berpengaruh kepada tingkah laku seseorang. Sayangnya, pengaruh tersebut bermuatan energi negatif yang membuat seseorang bisa melakukan hal yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain. 


Lantas, apa itu game Omori? Mengapa orang yang memainkan game tersebut bisa terobsesi untuk melakukan hal yang ada di dalam permainan itu? 


Omori merupakan game horor psikologis dan surealis yang dikembangkan oleh OMOCAT dan dipublikasikan pada 25 Desember 2020. Game ini mengeksplor dunia mimpi (Headspace) dan dunia nyata yang dialami oleh tokoh bernama Sunny. Di sini, Sunny mengalami trauma berat, depresi, dan rasa bersalah. Game ini dianggap istimewa karena cerita yang mengaduk-aduk emosi, pertarungan yang menarik, dan konten yang cukup berat. 


Lebih dari itu, game Omori ini sebenarnya lebih diperuntukkan untuk 17 tahun ke atas karena memuat unsur darah, kata-kata kasar, perilaku kekerasan, adegan bunuh diri dan trauma berkepanjangan. (Wikipedia


Mereka yang Akrab dengan Ruang Digital


Apa yang dilakukan para pelajar termasuk KA makin menambah daftar panjang anak-anak yang terpapar game online di ruang digital. Padahal sudah ada PP Tunas yang memberikan aturan pembatasan umur bagi anak di bawah 16 tahun. Sayangnya, aturan tersebut belum mampu meminimalisir masifnya pengaruh buruk yang menimpa anak-anak. 


Merujuk data dari Direktorat Jenderal Komunikasi Publik dan Media pada 19-03-2026, menunjukkan bahwa di tahun 2025 jumlah pengguna ponsel di kalangan anak-anak mencapai 42 persen. Sedangkan 41 persen lainnya sudah akrab dengan ruang digital. Parahnya, hanya 28 persen saja yang mendapatkan pengawasan orang tua. 


Ruang yang Mudah Diakses


Fakta tersebut akhirnya membawa dampak buruk pada diri anak-anak saat mereka berada di ruang digital. Di sini, semua hal bisa diakses dengan mudah tanpa ada yang bisa melarang. Sayangnya, tidak semua konten yang ditonton oleh mereka itu ramah dengan pemikiran anak yang masih belum mampu mencerna semua hal termasuk adegan berbahaya yang bisa mengancam keselamatannya. 


Kemudahan dalam menikmati konten yang ada di ruang digital ternyata tidak selamanya menguntungkan anak-anak. Di satu sisi, kemudahan tersebut memang bisa membuat mereka mengenal dunia di luar sana dengan sekali klik. Namun di sisi lain, efek negatif yang ditimbulkannya ternyata membuat orang tua panik. Tidak cukup sampai di situ, efek tersebut bahkan bisa membuat anak menjadi terinspirasi untuk melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri maupun orang lain.


Imbas dari Sistem Rusak


Keberadaan game-game online di platform digital juga tak bisa dilepaskan dari sistem hari ini. Di sistem ini, keberadaan game-game tersebut ternyata mampu menghasilkan uang secara fantastis. Maka, dari itu, bukan sesuatu yang mengherankan jika game-game tersebut masih terus eksis sampai sekarang. 


Lebih dari itu, platform-platform digital yang diakses oleh anak-anak juga mengandung hal-hal yang tidak bermanfaat dan cenderung bertentangan dengan aturan syariat. Pasalnya, sistem hari ini mengambil aturan buatan manusia yang mengedepankan materi dan kepuasan dunia yang hanya sesaat. Inilah sistem kapitalisme liberal yang semua hal dinilai dengan uang. 


Pentingnya Peran Orang Tua


Kecenderungan anak-anak yang terinspirasi game-game online menjadi alarm bagi orang tua agar lebih memperhatikan buah hatinya. Di sini, peran orang tua memberikan andil besar dalam mendidik dan mengawasi apa saja yang diakses oleh anaknya. Semua itu merupakan sebuah tanggung jawab yang menjadi kewajibannya.


Tanggung jawab tersebut meliputi semua hal yang menjadi hak setiap anak. Salah satu hak tersebut adalah memberikan pendidikan agama yang benar sebagai bekal dalam kehidupan.


Hal itu sejalan dengan sabda Rasulullah saw. yang artinya: "Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah; kedua orang tuanyalah yang menjadikannya penganut agama Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.'' (HR. Bukhari)


Hadis tersebut menjadi sebuah panduan bagi orang tua dalam mendidik buah hatinya. Pendidikan tersebut meliputi:


1. Menanamkan akidah Islam sejak dini.


2. Mengenalkan hukum-hukum Islam yang menyangkut semua aspek kehidupan.


3. Mengenalkan sosok Rasulullah saw. sebagai teladan di dalam kehidupan.


4. Menjadikan Islam sebagai pandangan hidup sekaligus panduan dalam menjalankan aktivitas keseharian.


5. Turut serta dalam memperjuangkan tegaknya Islam secara sempurna agar kehidupannya menjadi penuh berkah. 


Butuh Peran Negara


Namun, semua itu belum bisa terealisasi ketika orang tua hanya bergerak secara individu. Oleh karena itu, harus ada peran masyarakat yang saling mendukung upaya di atas. Terpenting, harus ada peran negara yang memiliki wewenang dan mampu mengontrol media massa termasuk ruang-ruang digital agar tidak menampilkan game-game online yang menimbulkan pengaruh buruk kepada anak-anak. Dengan demikian, mereka tak lagi terinspirasi untuk berbuat hal-hal yang membahayakan dirinya. 


Kemudian, dengan wewenangnya negara akan menyediakan konten-konten berbasis akidah Islam agar anak-anak terinspirasi untuk menjadi pribadi-pribadi yang bertakwa seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw.. Hanya saja, negara dengan wewenang tersebut hanya ada di sistem Islam yang menerapkan seluruh aturan kehidupan. Wallahualam bissawab.[EA/MKC]