Alt Title

Hardiknas: Seremoni Tahunan di Tengah Darurat Akidah dan Akhlak

Hardiknas: Seremoni Tahunan di Tengah Darurat Akidah dan Akhlak



Peringatan Hardiknas tidak cukup sekadar seremoni

tetapi harus menjadi momentum evaluasi total


_______________________


Penulis Chusnul.ak

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Berbagai kasus kekerasan dan kecurangan yang terjadi menunjukkan bahwa dunia pendidikan sedang tidak baik-baik saja. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman justru kerap diwarnai tragedi dan pelanggaran nilai.


Miris, kekerasan di dunia pendidikan terus terjadi. Seorang pelajar bernama Ilham Dwi Saputra (16) menjadi korban pengeroyokan di Jalan Banyu Urip, Caturharjo, Pandak, Kabupaten Bantul. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami luka serius, hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia. Terkait kasus ini, aparat kepolisian telah mengamankan dua dari lima orang yang diduga sebagai pelaku. (KUMPARAN NEWS. 21-04-2026)


Tak kalah memalukan, terjadi lagi kasus kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) terungkap di Surabaya, Jawa Timur, yang melibatkan praktik perjokian untuk meloloskan calon mahasiswa ke program studi kedokteran. Modus ini diketahui terjadi di tiga perguruan tinggi, dan dalam pengungkapan tersebut, dua orang pelaku berhasil diamankan oleh pihak berwenang. (Kompas.id, 22-04-2026)


Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tahun terasa kehilangan esensi ketika realitas di lapangan semakin memprihatinkan. Semangat perayaan tidak sejalan dengan kondisi moral pelajar yang terus mengalami kemunduran.


Sedihnya, Hari Pendidikan Nasional dirayakan setiap tahun dengan penuh semangat dan seremonial, sementara kondisi dunia pendidikan kita justru semakin mengkhawatirkan.


Normalisasi Penyimpangan di Lingkungan Pendidikan


Budaya curang, kekerasan, hingga pelecehan perlahan dianggap hal biasa yang tidak lagi mengejutkan. Kondisi ini menunjukkan adanya krisis nilai yang serius dalam sistem pendidikan saat ini.


Kasus kekerasan dan pelecehan seksual di lingkungan sekolah dan kampus terus meningkat. Bahkan, ruang yang seharusnya aman justru jadi tempat yang rawan. Belum lagi budaya curang, mulai dari joki UTBK, plagiat, sampai manipulasi nilai yang makin dianggap “biasa”.


Di sisi lain, peredaran narkoba di kalangan pelajar juga semakin meluas, sikap hormat kepada guru kian luntur, bahkan sampai ada guru yang dipidanakan hanya karena mendisiplinkan siswa.


Akar Masalah: Sistem Sekuler dan Materialistik


Pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan melahirkan generasi yang cerdas secara akademik namun lemah secara moral. Ditambah orientasi materi, tujuan belajar pun bergeser hanya demi hasil, bukan proses yang benar.


Realitas ini harusnya jadi alarm keras. Peringatan Hardiknas tidak cukup sekadar seremoni tetapi harus menjadi momentum evaluasi total. Ada yang salah dalam arah pendidikan kita. Sistem yang berjalan hari ini cenderung melahirkan pelajar yang pintar secara akademik tetapi rapuh secara moral.


Mereka tumbuh dalam pola pikir sekuler, yaitu memisahkan agama dari kehidupan, ditambah gaya hidup liberal dan pragmatis. Akibatnya, tujuan belajar bergeser, bukan lagi mencari ilmu untuk kebaikan tetapi sekadar alat meraih sukses instan walau dengan cara curang.


Masalahnya tidak berhenti di situ. Sistem pendidikan yang bernafaskan kapitalisme juga mendorong orientasi materi sebagai ukuran utama keberhasilan. Wajar jika kemudian muncul mental “yang penting hasil”, bukan melihat proses.


Lemahnya Penegakan Aturan dan Peran Pendidikan Agama


Sanksi yang tidak tegas membuat pelanggaran tidak menimbulkan efek jera bagi pelajar. Sementara itu, pendidikan agama hanya menjadi pelengkap, bukan fondasi utama pembentukan karakter.


Ditambah lagi, sanksi terhadap pelajar yang melakukan pelanggaran sering kali longgar, dengan dalih masih di bawah umur. Alih-alih memberi efek jera, ini justru membuka ruang toleransi terhadap kriminalitas sejak dini. Parahnya lagi, pendidikan agama dalam sistem sekuler hanya jadi pelengkap, bukan fondasi. Akibatnya, nilai-nilai moral tidak benar-benar tertanam kuat.


Konsep Pendidikan dalam Perspektif Islam


Islam memandang pendidikan sebagai proses pembentukan kepribadian, bukan sekadar transfer ilmu. Akidah menjadi dasar utama agar ilmu yang dimiliki selaras dengan keimanan dan melahirkan ketakwaan.


Dalam perspektif Islam, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu tetapi pembentukan kepribadian. Islam meletakkan akidah sebagai dasar sistem pendidikan. Tujuannya jelas, melahirkan insan yang cerdas sekaligus bertakwa.


Allah berfirman dalam Al-Qur'an yang artinya:


“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)


Hal ini menunjukkan bahwa ilmu dan iman tidak boleh dipisahkan. Pendidikan Islam juga menekankan pembentukan syakhsiyah islamiah (kepribadian Islam) di mana pola pikir dan pola sikap harus selaras dengan ajaran Islam.


Jadi, pelajar tidak hanya tahu mana yang benar, tapi juga terdorong untuk melakukannya. Dalam hal penegakan aturan, Islam tidak membiarkan pelanggaran tanpa konsekuensi. Sistem sanksi diterapkan secara tegas dan adil termasuk bagi pelajar. Tentu dengan mempertimbangkan aspek pendidikan bukan sekadar hukuman.


Peran Negara, Keluarga, dan Masyarakat


Pendidikan tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan lingkungan yang kondusif. Sinergi antara negara, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci dalam membentuk generasi yang berakhlak.


Lebih dari itu, negara dalam Islam punya peran besar. Negara wajib menjamin pendidikan yang berkualitas dan membangun suasana kehidupan yang mendukung ketakwaan. Lingkungan yang baik akan mendorong individu untuk berlomba dalam kebaikan, bukan dalam pelanggaran.


Rasulullah saw. bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini menegaskan bahwa negara, keluarga, dan masyarakat harus bersinergi.


Solusi Mendasar, Bukan Sekadar Perbaikan Parsial


Permasalahan pendidikan tidak bisa diselesaikan dengan solusi pragmatis. Dibutuhkan perubahan sistemik yang mengembalikan pendidikan pada landasan akidah agar menghasilkan generasi yang utuh.


Solusinya bukan tambal sulam, tetapi perubahan yang mendasar. Pendidikan harus dikembalikan pada asas akidah Islam. Keluarga, sekolah, dan negara harus berjalan searah dalam membentuk generasi yang berilmu, berakidah kuat dan tentunya berakhlak. Tanpa itu, kita hanya akan terus merayakan Hardiknas setiap tahun tetapi dengan masalah yang sama atau bahkan lebih buruk. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]