Orientasi Pendidikan Melayani Industri Bukan Kualitas SDM
OpiniIlmu yang berkembang tidak semata-mata untuk keuntungan
namun menjadikan siapa pun yang mempelajari makin mengenal Allah
______________________________
Penulis Wiwin Supiyah, S.Pd.
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Sekjen Kemdiktisaintek, Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026, mengatakan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menghasilkan industri-industri baru yang harus mendapatkan perhatian lebih dari perguruan tinggi. (Kompas.com)
Alhasil akan ada prodi yang dipilih dan kalau perlu ditutup, untuk bisa meningkatkan relevansi ini. Menurutnya tujuan keputusan ini baik, yakni mengurangi kesenjangan antara lulusan kampus dan kompetensi yang diperlukan di dunia kerja.
Sejumlah universitas menanggapi wacana ini dengan terbuka misalnya UGM. Sedangakn UNPAD menanggapi bahwa alih-alih menutup, sebaiknya dilakukan pembaruan dan penyesuaian kurikulum untuk penyegaran. Adapun UMY berpendapat, menutup prodi dipandang sebagai cara ekstrem, gegabah dan janggal. Senada dengan UNPAD, UMY mengatakan lebih baik melakukan penyesuaian kurikulum untuk menyesuaikan kebutuhan industri. (Tempo.co)
Penyesuaian prodi dengan dunia industri ini mendapat tanggapan dari Rektor UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, M. Ishom el Saha. Ia menilai prodi tidak semata berfungsi sebagai pencetak tenaga kerja, tetapi juga sebagai ruang produksi pengetahuan, pembentukan cara berpikir, dan pengembangan etika publik.
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mendorong revitalisasi dengan penguatan kurikulum, pendekatan interdisipliner dan keterkaitan dg budaya dan kebutuhan local. Ia mengingatkan, jangan sampai kampus direduksi menjadi pemasok tenaga kerja, lalu mempersempit ekosistem keilmuan. Kampus bukan tempat produksi pekerja. (mediaindonesia.com)
Jika dicermati, isu sumber daya manusia yang dikembangkan untuk menyokong industri bukan pembicaraan yang baru. Misalnya, tahun 2024, ketika Hari Peringatan Perempuan Internasional, mengambil tema besar Invest in Women: Accelerate Progress", yakni menjadikan perempuan sebagai agen perubahan industri dan penggerak ekonomi.
Begitu pun isu prodi yang tak relevan dengan dunia industri, menjadi tambahan rekam jejak ide-ide kapitalis yang mencengkram dari berbagai arah. Kapitalisme, merupakan suatu ideologis yang berasal dari barat yang memisahkan agama dari kehidupan dan berfokus pada kapital/keuntungan. Oleh karenanya, aturan di dalamnya akan menabrak batasan-batasan demi keuntungan sebanyak-banyaknya dalam kehidupan. Pendidikan, juga tidak lepas dari sasaran ideologi kapitalis ini.
Pendidikan merupakan salah satu sisi di dalam islam yang begitu diagungkan. Orang berilmu ditinggikan beberapa derajat dibanding yang lainnya.
يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ
"...niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat..." (QS. Al-Mujadalah: 11)
Ilmu yang berkembang tidak semata-mata untuk keuntungan, namun menjadikan siapa pun yang mempelajari makin mengenal Allah, meningkatkan ketakwaan, dan memperbaiki akhlak. Selebihnya sebagai sarana ibadah dan amal saleh.
Orang berilmu dipelihara oleh negara, diantaranya untuk memelihara ilmu itu sendiri. Misal, para Ahlu Suffah, mereka adalah kaum fakir yang tidak memiliki tempat tinggal dan mendedikasikan dirinya untuk ilmu. Diantaranya adalah Abu Hurairah, meriwayatkan 5.374 hadist. Abdullah bin Mas’ud, merupakan sahabat yang mengajarkan Al Quran di serambi masjid Madinah. Abu Darda, Julaibib, dll.
Keberadaannya tidak menghasilkan keuntungan bagi Khil4fah, namun keberadaannya melestarikan ilmu yang itu berguna untuk mengajarkan manusia. Orang-orang yang berpendidikan sangat dilindungi. Bahkan dalam suatu riwayat, tidak semua penduduk harus turun ke medan perang, sebagiannya harus ada yang tinggal dan mengajarkan Al Quran untuk manusia.
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُوْنَ لِيَنْفِرُوْا كَاۤفَّةًۗ فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَاۤىِٕفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوْا فِى الدِّيْنِ وَلِيُنْذِرُوْا قَوْمَهُمْ اِذَا رَجَعُوْٓا اِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُوْنَ
"Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya."
Di dalam Daulah Khil4fah yang mengurus bagian pendidikan adalah Diwan Pendidikan. Ia berfungsi merancang kurikulum, mengelola sekolah, mengangkat pengajar, dan emmastikan sekolah diakses oleh masyarakat. Diwan Pendidikan sebagai pengelola/pelaksana. Selain itu mengeluarkan kebijakan berdasarkan hukum syara’ yang bertujuan untuk membentuk kepribadian islam. Bukan tuntutan pemenuhan industri semata.
Keberhasilan Diwan Pendidikan yang mendorong keilmuan berkembang tanpa direduksi tujuan industri, terbukti menjadi faktor pendorong “The Golden Age of Islam” pada masa Abbasiyah. Pusat Studi seperti Baitul Hikmah di Baghdad, menghasilkan kemajuan di bidang ilmu agama (naqli) dan ilmu umum (aqli) seperti ilmu kedokteran, matematika, filsafat. Ilmuan seperti Ibnu Sina, Ar Razi, Al Khindi, dan lain-lain yang menjadi rujukan berbagai keilmuan barat bahkan hingga saat ini. Hal ini mendorong orang-orang di luar islam belajar ke negeri islam. Eropa mengalami kemunduran sementara islam mengalami kemajuan luar biasa.
Kontras dengan apa yang kita hadapi saat ini, mayoritas negeri muslim justru menurunkan kualitas pendidikannya. Menyesuaikan dengan kebutuhan industri yang didominasi negeri-negeri barat. Sementara kualitas pendidikan yang mendorong sakhsiyah islam dan akan meningkatkan kualitas SDM diabaikan.
Jika diteruskan, kampus hanya menjadi sarana pencetak mesin pekerja yang minim sakhsiyah islam dan berorientasi materi semata. Alih-alih menjadi pemimpin di negeri sendiri, maka lulusannya hanya menjadi pembebek negeri barat demi penghasilan yang tidak seberapa.
Oleh karenanya, sebaiknya kebijakan penutupan prodi yang tidak relevan dengan industri masa kini dipertimbangkan ulang. Lebih dari itu, sebaiknya mempertimbangkan untuk memperbaharui dan melakukan penyegaran kurikulum untuk menjadikan lulusannya bersakhsiyah islam dan menjadi manusia-manusia unggul dan ahli sebagai penopang peradaban. Wallahualam bissawab.


