Buah Kapitalisme Jeritan Anak Jadi Saksi
Opini
Berapa banyak jeritan anak yang dihasilkan kapitalisme akibat ibu dituntut bekerja
anak dititipkan di Daycare yang ternyata jauh dari kata amanah
_________________________
Penulis Mommy Hulya
Kontributor Media Kuntim Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Jeritan Pahit Kapitalisme
Kapitalisme sistem yang diciptakan Barat bukan sekadar teori, tetapi sistem yang melahirkan penderitaan. Bagaimana tidak, jeritan anak-anak di Daycare Yoyakarta Little Aresha. (Tribun, 26-04-2026)
Merupakan saksi bisu atas kezaliman sistem yang memaksa para ibu meninggalkan rumah demi nafkah. Para ibu bekeja bukan karena mereka ingin, tetapi karena keterpaksaan himpitan ekonomi. Sulitnya mendapat pekerjaan untuk laki-laki juga menjadi salah satu penyebab para ibu rumah tangga rela meninggalkan anak nya untuk menjaga dapur mereka tetap ngebul.
Dalam hal ini, Daycare menjadi solusi untuk para ibu yang meninggalkan anaknya bekerja dengan harapan pertumbuhan anak mereka akan terpantau. Namun kenyataan pahit harus ditelan oleh para ibu korban Daycare. Tak cukup dengan rasa sakit karena anak menjadi korban, para ibu malah menjadi cemoohan warga netizen mereka justru menyalahkan para ibu yang bekerja dan meninggalkan anaknya di Daycare.
Bukanya mendapat simpati malah kecaman yang didapat. Sungguh malang nasib para ibu tersebut mendapatkan luka yang bertubi-tubi. Adapula tangisan keluarga korban kecelakaan kereta yang terjadi di Bekasi Timur, ini adalah saksi lain dimana nyawa dipertaruhkan demi mencari nafkah.
(Kompastv.com, 30-04-2026) KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur, 27 April 2026. Insiden bermula dari taksi listrik mogok di perlintasan. Korban tewas mencapai 14 orang perempuan di gerbong khusus wanita.
Miris, dengan adanya temuan cooler bag berisi ASI tidak dipungkiri bahwa para ibu yang seharusnya berada di samping bayi mungilnya terpaksa meninggalkan bayinya untuk bekerja. Tanpa meninggalkan kewajibannya untuk memberi ASI. Susah payah membawa cooler bag di dalam kereta. Namun, naas yang terjadi adalah kecelakaan maut memisahkan ibu dan anaknya.
Berapa banyak jeritan anak yang dihasilkan kapitalisme akibat ibu dituntut bekerja, anak dititipkan di Daycare yang ternyata jauh dari kata amanah. Di sisi lain ada anak yang menunggu ibunya pulang, tetapi ternyata pulang hanya tinggal nama.
Mengapa Perempuan Harus Bekerja?
Perempuan dipaksa untuk bekerja, tetapi tetap dituntut untuk tetap mengurus rumah dan anak-anak. Dalam sistem kapitalisame mengapa perempuan terpaksa bekerja? Sistem kapitalisame menciptakan pasar kerja yang tidak stabil. Banyaknya laki laki yang kehilangan pekerjaan, memaksa para laki laki bekerja di bidang informal dengan gaji yang jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Jangankan untuk bermewah mewah, bahkan untuk makan pun banyak yang kesulitan. Akhirnya para ibu pun terpaksa turun tangan ikut mencari nafkah supaya dapur tetap ngebul, anak tetap sekolah dan biaya kesehatan pun terpenuhi.
Benarkah ibu bekerja untuk berkarir? Tentu tidak! Ini bukanlah pilihan yang indah. Namun, kenyataan suami kehilangan kerja, pendapatan suami kurang dan kebutuhan hidup semakin tinggi diera gempuran harga-harga yang makin tinggi.
Kapitalisme menekan keluarga kecil dengan biaya tinggi namun dengan upah yang minimum. Sistem ini hanya mementingkan roda produksi yang meningkat tanpa adanya rasa kasih sayang. Ibu bekerja bukan pilihan melainkan jeratan ekonomi.
Nafkah dalam Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, nafkah merupakan kewajiban mutlak suami terhadap istri dan anaknya. Bukan hanya kebutuhan makan saja, nafkah mencakup kebutuhan pokok makanan, pakaian, tempat tinggal yang layak kesehatan serta pendidikan. Kewajiban itu mutlak diberikan meskipun istri bekerja atau memiliki penghasilan lebih besar.
Kewajiban nafkah tertuang dalam dalil Al-Qur’an dan Hadis. QS. Al-Baqarah: 233,
“…Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang patut…”
Ayat ini menegaskan bahwa ayah (suami) wajib menanggung kebutuhan hidup istri dan anak dengan layak dan patut.
Rasulullah bersabda: “Cukuplah seseorang dianggap berdosa jika ia menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini menjelaskan bahwa seorang suami akan dianggap berdosa apabila menelantarkan orang yang menjadi tanggung jawabnya orang yang dimaksud adalah anak dan istrinya. Artinya suami bila tidak memberi nafkah maka dianggap berdosa
Nafkah Sebagai Rahmat vs Nafkah Sebagai Jerat
Dalam pandangan Islam, nafkah adalah rahmat yang merupakan bentuk tanggung jawab suami, dan perlindungan Allah atas keluarga. Dalam kapitalisme nafkah berubah jadi jerat. Ayah kesulitan mencari kerja, gaji suami tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan akhirnya ibu dipaksa bekerja. Anak-anak menjadi korban karena terpaksa ditinggalkan, bahkan menjadi korban daycare ilegal atau kehilangan ibu saat di perjalanan. Kapitalisame berbuah "jeritan" anak jadi saksi bisu bahwa sistem ini gagal melindungi keluarga.
Kasus Daycare Yogyakarta dan kecelakaan kereta Bekasi Timur hanyalah bagian kecil potret dari buah pahit kapitalisme. Sistem yang memaksa ibu meninggalkan rumah, memaksa anak menangis dalam titipan Daycare yang tidak amanah, bahkan mempertaruhkan nyawa di jalan demi mencari nafkah. Jeritan anak-anak itu adalah saksi bisu bahwa kapitalisme telah gagal melindungi keluarga.
Islam datang bukan hanya sekadar memberi nasihat, melainkan menghadirkan sistem kafah yang menegaskan bahwa nafkah sebagai amanah suami, melindungi anak sebagai amanah dari Allah, dan menjadikan keluarga sebagai pusat peradaban.
Maka wahai kaum muslim, jangan biarkan kapitalisme menjadi penyebab menetes nya air mata di wajah ibu dan anak. Saatnya kita kembali pada Islam kafah, agar jeritan itu berganti dengan tawa, dan air mata berganti dengan rahmah. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


