Hardiknas dan Ironi Dunia Pendidikan
OpiniHardiknas seharusnya menjadi momentum evaluasi besar-besaran
terhadap arah pendidikan negeri ini
____________
Penulis Irmawati
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Dalam upaya meningkatkan kesadaran pentingnya pendidikan bagi seluruh rakyat, Hari Pendidikan Nasional diperingati setiap tahun sebagai momentum membangun generasi yang cerdas dan berakhlak. Namun ironisnya, di tengah gegap gempita perayaan Hardiknas, potret dunia pendidikan justru tampak semakin buram dan memprihatinkan.
Dilansir dari Kompas.com (14-04-2026), kasus kekerasan di lembaga pendidikan terus meningkat dan semakin mengkhawatirkan. Hasil pemantauan Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia menunjukkan terdapat 233 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan dalam hitungan tiga bulan terakhir. Di antaranya adalah kasus kekerasan seksual yang terus meningkat dan mencoreng dunia pendidikan.
Terlebih lagi, realitas pendidikan hari ini semakin memperlihatkan krisis moral yang serius. Maraknya kecurangan dalam ujian, praktik joki UTBK, budaya plagiat di berbagai lembaga pendidikan, hingga meningkatnya pelaku dan pengedar narkoba di kalangan pelajar serta mahasiswa menjadi bukti nyata rapuhnya karakter generasi. Belum lagi perilaku pelajar yang berani menghina guru, bahkan memenjarakan guru karena menegur atau menghukum siswa. Ini semua menunjukkan lunturnya adab dalam dunia pendidikan.
Krisis Moral: Buah dari Sistem Pendidikan yang Menjauh dari Agama
Hardiknas seharusnya tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan alarm keras bagi seluruh pihak bahwa pendidikan kita sedang menuju jurang kehancuran moral. Krisis ini menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam sistem pendidikan saat ini.
Pendidikan yang seharusnya tidak hanya berfokus pada aspek akademik tampak belum sepenuhnya berhasil membentuk karakter, adab, dan kepribadian peserta didik. Alih-alih melahirkan generasi beradab, sistem pendidikan hari ini justru banyak menghasilkan pribadi yang hanya mengejar kepentingan duniawi dan materi semata. Nilai-nilai moral dan agama semakin tersingkir, sementara kebebasan tanpa batas justru diagungkan.
Dominasi kapitalisme dalam sektor pendidikan menjadikan sekolah dan kampus lebih berorientasi pada pasar kerja dibanding pembentukan manusia beradab. Pendidikan diposisikan sekadar sebagai investasi ekonomi, bukan proses pembinaan manusia seutuhnya.
Meskipun kurikulum terus berganti, program baru terus dicanangkan, dan aturan dibuat silih berganti, akar persoalan sesungguhnya tidak pernah tersentuh. Pangkal masalahnya terletak pada fondasi pendidikan yang memisahkan agama dari kehidupan. Akibatnya, pendidikan hanya diarahkan untuk mengejar kepentingan duniawi, bukan membentuk manusia yang taat kepada Allah Swt..
Dari sistem seperti inilah lahir generasi dengan standar benar dan salah yang kabur. Menghalalkan segala cara demi kesuksesan instan. Kecurangan dianggap biasa, kemaksiatan dipandang sebagai kenakalan remaja, sementara lemahnya sanksi hukum semakin memperparah keadaan.
Minimnya pendidikan agama yang benar membuka ruang kebebasan tanpa batas. Kebebasan ini justru mengikis moral dan kepribadian pelajar sehingga mereka mudah terjerumus pada tindak kejahatan dan kemaksiatan. Ketika syariat tidak dijadikan sebagai aturan kehidupan, maka penyimpangan pun dianggap wajar.
Rasulullah saw. bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa inti ajaran Islam bukan hanya ibadah ritual, tetapi juga pembentukan kepribadian manusia.
Padahal pendidikan sejatinya adalah sarana membentuk generasi muda agar memiliki bekal hidup yang bermartabat. Namun hari ini, dunia pendidikan justru dinodai oleh maraknya perundungan, penganiayaan, bahkan tindakan kriminal yang merenggut nyawa manusia.
Islam dan Konsep Pendidikan Peradaban
Islam memiliki konsep pendidikan yang khas karena berasal dari Sang Maha Pencipta manusia. Islam menempatkan pendidikan sebagai perkara strategis dalam membangun peradaban. Pendidikan Islam diarahkan untuk melahirkan generasi yang bertakwa, cerdas, dan beradab.
Dalam Islam, pendidikan merupakan kebutuhan mendasar yang wajib dijamin pemenuhannya oleh negara. Sistem pendidikan yang berasaskan akidah Islam akan melahirkan insan yang cerdas sekaligus takut kepada Allah, sehingga tidak menjadikan kecurangan sebagai jalan meraih kesuksesan.
Allah Swt. berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Pendidikan Islam berfokus pada pembentukan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam), yakni keselarasan antara pola pikir dan pola sikap sesuai tuntunan syariat. Seorang pelajar yang memiliki kepribadian Islam akan menjadikan aturan Allah sebagai standar dalam seluruh perbuatannya.
Selain itu, Islam juga menerapkan sistem sanksi yang tegas bagi pelaku kejahatan, termasuk di lingkungan pendidikan. Negara berkewajiban menjamin pemerataan kualitas pendidikan, baik dari sisi sarana, prasarana, tenaga pengajar, maupun fasilitas sekolah agar proses belajar berlangsung nyaman dan berkualitas.
Pendidikan dalam Islam juga harus dapat diakses secara gratis oleh seluruh rakyat, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Dengan demikian, setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh ilmu tanpa terhalang biaya.
Pengabaian negara terhadap tanggung jawab pendidikan tentu akan menjadi konsekuensi besar yang dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt..
Rasulullah saw. bersabda:
“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” (HR. Ibnu Majah)
Hadis ini menunjukkan bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban. Maka negara tidak boleh berlepas tangan dalam mengelola pendidikan demi kemaslahatan rakyat.
Adapun kurikulum pendidikan dalam Islam berlandaskan pada akidah Islam. Penyusunan materi pelajaran maupun metode pengajaran tidak boleh menyimpang dari syariat. Tujuan pendidikan pun jelas, yakni membentuk kepribadian Islam serta membekali peserta didik dengan ilmu yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan.
Hadirnya peran negara dalam sistem pendidikan Islam tercatat dalam tinta emas sejarah peradaban. Dalam buku History of the Arabs, sejarawan Barat Philip K. Hitti menggambarkan masa Kekhalifahan Abbasiyah sebagai era keemasan ilmu pengetahuan. Baghdad menjadi pusat intelektual dunia yang menarik pelajar dari berbagai wilayah. Pendidikan saat itu tidak hanya mencetak orang-orang pintar, tetapi juga manusia yang takut kepada Allah dan berakhlak mulia.
Karena itu, Hardiknas seharusnya menjadi momentum evaluasi besar-besaran terhadap arah pendidikan negeri ini. Sebab ukuran keberhasilan pendidikan bukan sekadar tingginya nilai akademik atau banyaknya gelar. Melainkan lahirnya generasi yang berilmu, beradab, dan memiliki ketakwaan.
Tanpa fondasi iman dan syariat, pendidikan hanya akan melahirkan kecerdasan yang kehilangan arah serta generasi yang rapuh secara moral. Karena itu, sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada tujuan hakikinya, yakni membentuk manusia yang tunduk kepada Allah, berakhlak mulia, dan mampu membangun peradaban yang bermartabat.
Allah Swt. berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 208)
Wallahualam bissawab. [EA/MKC]


