Alt Title

Akibat Kapitalisme Adanya Pungli dari Sertifikasi Guru

Akibat Kapitalisme Adanya Pungli dari Sertifikasi Guru



Para oknum ini tidak lagi bekerja sesuai dengan perannya yang membantu administrasi. 

Mereka mencari cara untuk mengambil keuntungan dari tenaga guru


___________________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Sertifikasi guru yang seharusnya meningkatkan kesejahteraan dan profesionalisme pendidikan justru menimbulkan persoalan serius di Lampung Barat.


Sertifikasi yang cair setiap triwulan diduga menjadi mesin pungutan liar yang berputar rutin dari tahun ke tahun. Fakta bahwa sertifikasi berlangsung empat kali dalam setahun membuka ruang pungutan berulang. Di titik ini, publik tidak lagi melihat persoalan kecil atau insidental, melainkan pola sistematis yang mengalirkan uang secara terus-menerus. Sertifikasi rutin pungutan ikut berulang. 


Setiap triwulan guru yang telah tersertifikasi wajib melalui proses administrasi. Pada tahap ini, dugaan pungutan mulai mencuat. Sejumlah guru mengaku harus mengeluarkan uang agar proses berjalan lancar dan dana sertifikasi tidak terhambat. Kondisi ini tidak terjadi sekali dua kali. Justru praktik tersebut muncul hampir di setiap periode pencairan. Akibatnya, sertifikasi yang seharusnya menjadi hak justru berubah menjadi beban tambahan. (LabasNews.com, 10-01-2026)


Tidak ada makan gratis. Itulah slogan yang pantas disandangkan untuk sistem kapitalisme. Selain itu, sering kita mendengar jika bisa dipersulit mengapa harus mudah. Mekanisme pemberkasan sertifikasi serta proses administrasi yang sengaja dibuat panjang dan minim transparansi, menciptakan ketergantungan guru terhadap oknum tertentu. Sistem ini tidak memberikan kepastian waktu dan kejelasan prosedur, ruang negosiasi sengaja dibuka lebar-lebar.


Guru berada di posisi yang lemah sementara oknum memegang kendali. Tanpa iba, para oknum mengambil kesempatan, tanpa rambu-rambu, halal dan haram. Mereka tidak lagi takut dengan peringatan Allah Swt. dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat: 188 yang artinya, "Janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil dan janganlah kamu membawa urusan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa dan padahal kamu mengetahui."


Para oknum ini tidak lagi bekerja sesuai dengan perannya yang membantu administrasi. Mereka mencari cara untuk mengambil keuntungan dari tenaga guru. Dengan posisi yang lemah, guru tidak lagi fokus dalam menjalankan perannya sebagai pendidik. Sebab itu, kemerosotan pendidikan saat ini adalah buah kapitalisme yang berorientasi pada untung rugi. Tanpa memandang tujuan pendidikan itu sendiri. Kapitalisme penyebab dunia pendidikan yang carut-marut.


Solusi dalam Islam


Islam memandang guru adalah profesi mulia yang bervisi pada peradaban dan akhirat. Pendidikan berkualitas akan melestarikan kebaikan-kebaikan peradaban manusia. Mengajarkan ilmu yang bermanfaat bisa menjadi amal jariyah yang terus mengalirkan pahala kepada yang menyampaikan. 


Walaupun yang menyampaikan telah meninggal dunia. Guru merupakan kebutuhan urgen negara Islam dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Negara dalam sistem Islam akan sangat memperhatikan kondisi kehidupan guru. Mulai dari kesejahteraannya hingga  penyediaan kelengkapan sarana prasarana pembelajaran.


Sejarah mencatat di masa Bani Abbasiyah, Daulah Islam memberikan gaji guru setara dengan gaji muadzin kala itu yaitu 1000 dinar per tahun. Jika dikonversikan dengan rupiah Rp3,9 miliar atau perbulan mencapai Rp325 juta. Itu akan diberikan kepada guru tanpa penundaan tanpa potongan karena pemerintah dalam Islam memahami bahwa peran guru sangat penting dalam dunia pendidikan.


Oleh karena itu, negara akan menjamin seluruh pemenuhan guru agar guru dapat mendidik secara maksimal dan tidak dibayang-bayangi kemiskinan dan masalah ekonomi yang lain. Alhasil, di era keemasan Islam Al Hakim bin Abdurrahman mendirikan universitas Cordova yang saat ini menampung mahasiswa dari kalangan kaum muslim maupun dari negara barat. Universitas-universitas di masa kejayaan Islam mampu mencetak para ilmuwan yang pengaruhnya mendunia hingga saat ini.


Demikianlah, negara bisa menyejahterakan guru. Inilah pentingnya mengapa penerapan Islam kafah urgen diwujudkan agar kehidupan guru dan masyarakat terpelihara dengan sebaik-baiknya. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC


Umu Syafana