Urbanisasi Meningkat Usai Lebaran, Negara Gagal Menyejahterakan
OpiniDesa pun makin tertinggal
khususnya ditinggal penduduknya yang berada di usia produktif
_________________________
Penulis Ledy Ummu Zaid
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Perpindahan penduduk dari desa ke kota atau yang biasa dikenal dengan ‘urbanisasi’ menjadi pemandangan yang lazim di masyarakat.
Terutama pascamudik Hari Raya Idulfitri, orang Islam dari desa berbondong-bondong datang ke kota. Adapun mudik sendiri merupakan ritual tahunan yang tak terlewatkan bagi kaum muslim di Indonesia. Umumnya, ketika kembali ke perantauan, tak sedikit dari mereka yang membawa saudara atau kenalannya untuk bekerja di ibu kota.
Urbanisasi Usai Lebaran Tak Terelakkan
Jakarta masih menjadi primadona bagi para pelaku urbanisasi. Dilansir dari laman tempo.co (27-03-2026), Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta memprediksi pertambahan penduduk di ibu kota sekitar 12 ribu orang lebih. Sejauh ini, Jakarta memang memiliki daya tarik bagi masyarakat lantaran pertumbuhan ekonominya. Banyak industri, perkantoran, dan fasilitas umum yang terintegrasi di kota besar sehingga banyak masyarakat yang tergiur untuk mengadu nasib di ibu kota.
Jika berkaca pada tahun lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka Migrasi Risen Neto (Net Recent Migration) Indonesia sekitar 1,2 juta jiwa, seperti yang dilansir dari laman metrotvnews.com (27-03-2026). Hal ini membuktikan bahwa arus perpindahan ke kota lebih besar daripada arus keluar. Masih di tahun yang sama, BPS juga mencatat sekitar 54,8 persen penduduk tinggal di perkotaan. Adapun 45,2 persen sisanya tinggal di pedesaan.
Deputi Bidang Pengendalian Penduduk Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (BKKBN) Bonivasius Prasetya Ichtiarto mengatakan desa telah kehilangan banyak sumber daya manusia (SDM) muda. Padahal generasi muda ini seharusnya menjadi tulang punggung pembangunan di desa. Namun, faktanya mereka malah bercita-cita mendapat pekerjaan yang layak di kota.
Walhasil, desa hanya menjadi penyedia para tenaga kerja bagi kota. Dengan demikian, pembangunan di desa, baik infrastruktur maupun SDM-nya, acap kali tertinggal dibandingkan dengan kota. Di sisi lain, kota makin terbebani akibat pertambahan penduduknya yang tidak terkontrol. Inilah pekerjaan rumah (PR) yang nyata di masyarakat kita hari ini bahwasanya urbanisasi tak terelakkan usai lebaran.
Urbanisasi Keniscayaan dalam Kapitalisme
Tak heran, tren urbanisasi meningkat usai lebaran. Banyak orang yang merantau ke kota, pulang untuk berkumpul bersama keluarga besar di kampung pada momen Hari Raya. Budaya flexing atau memamerkan kesuksesan hidup di kota pun menjadi hal yang wajar. Hal ini yang akhirnya menyebabkan banyak orang tergiur untuk meraih kesuksesan yang sama dengan cara instan, yakni ‘ikut kerja’.
Inilah ciri khas sistem kapitalisme yang senantiasa mengagungkan materi dan menjadikannya standar kebahagiaan. Terutamanya, Gen Z yang terpaksa menjadi generasi sandwich tentu harus bekerja keras agar bisa menyambung hidup keluarganya. Mereka akhirnya rela meninggalkan kampung halaman tercinta demi meraup keuntungan di kota.
Desa pun makin tertinggal, khususnya ditinggal penduduknya yang berada di usia produktif. Kendatipun alokasi anggaran di kota, khususnya DKI Jakarta tentu mengalami kenaikan. Adapun investor berdatangan demi memajukan kota yang memiliki daya tarik di masyarakat. Gedung-gedung pencakar langit terus dibangun, menandakan pertumbuhan ekonominya yang pesat. Sedangkan generasi tua hanya dapat mengandalkan program ekonomi rakyat, seperti Koperasi Desa (Kopdes) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Usut punya usut, akan ada program Kopdes yang digadang-gadang mampu memajukan perekonomian desa, yakni Koperasi Merah Putih. Dalam hal ini, program besar tersebut tampak hanya menjadi ajang bancakan yang menguntungkan segelintir pihak. Sebagai contoh, para elit di kalangan masyarakat desa sendiri yang akan mengatur jalannya program.
Adapun warga hanya dapat mengikuti aturan yang diberlakukan. Mereka tentu tidak sepenuhnya dilibatkan dalam pengadaan barang dan jasanya. Lapangan pekerjaan yang ada juga mungkin tidak mampu menyerap banyak tenaga kerja. Jadi, apakah efektif program di desa terus digencarkan, tetapi anggaran dan pembangunan masih mendominasi di perkotaan saja?
Ekonomi Islam Menyejahterakan Umat
Berbeda dengan sistem kapitalisme, Islam menaruh perhatian lebih kepada umat. Pembangunan baik di desa maupun di kota tentu berjalan seimbang. Karena Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam, kesejahteraan umat seluruhnya menjadi prioritas. Karena alasan itulah, pemenuhan kebutuhan rakyat harus berjalan dengan benar sesuai syariat. Adapun daulah (negara) akan mengontrol apakah setiap individu rakyat telah mendapatkan haknya.
Tak pelak lagi, sektor pertanian di desa akan dikelola dengan baik. Kemudian, hasilnya akan didistribusikan secara merata di berbagai wilayah, termasuk di kota. Harga yang beredar di masyarakat tentu sesuai dan terjangkau. Inilah poin penting dalam ekonomi Islam ala Khil4fah Islamiah yang menerapkan syariat Islam secara kafah (menyeluruh). Kebutuhan rakyat harus mudah dijangkau, bahkan diberikan cuma-cuma alias gratis.
Seorang khalifah akan mengontrol secara langsung pendistribusian kebutuhan pokok. Masalah seperti penimbunan atau permainan harga tidak akan terjadi di masyarakat. Seluruh rakyat akan bersinergi untuk mewujudkan peradaban yang amanah dengan syariat Islam sebagai landasannya. Akidah Islamiah tentu berperan penting dalam harmonisasi setiap lini kehidupan. Setiap individu rakyat terbiasa berlomba dalam kebaikan dan meraih rida Allah Subhanahu wa taala.
Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Al-Bukhari)
Di sisi lain, pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang benar oleh negara tentu akan mendatangkan keuntungan dan keberkahan yang berlipat-lipat. Lapangan pekerjaan yang terbuka secara luas menyebabkan pertumbuhan ekonomi secara signifikan. Masyarakat dapat memenuhi hajat hidupnya, apalagi sektor pendidikan dan kesehatan diberikan secara gratis.
Khatimah
Dengan demikian, sebagai muslim sudah seharusnya kita mendambakan peradaban Islam yang mulia di bawah naungan Khil4fah Islamiah yang mengikuti manhaj kenabian. Adapun persoalan-persoalan yang hari ini terjadi, khususnya urbanisasi yang meningkat usai Lebaran menjadi bukti bahwa negara gagal menyejahterakan. Hanya Allah Subhanahu wa taala yang berdaulat membuat aturan di muka bumi, sedangkan manusia sami’na wa atho’na. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


