Alt Title

Kapitalisme Memproduksi Laju Urbanisasi

Kapitalisme Memproduksi Laju Urbanisasi



Ketimpangan ekonomi ini karena sistem kapitalisme

yang menitikberatkan pada pembangunan yang tidak merata


______________________


KUNTUMCAHAYA.com, SURAT PEMBACA - Urbanisasi pasca-Lebaran masih terjadi. Disdukcapil Jakarta bahkan mencatat 1776 orang pendatang per 1 April 2026. Jumlah pendatang pria sedikit lebih banyak dibandingkan wanita. Data menunjukkan pendatang usia produktif lebih banyak hingga mencapai 79,34 persen. (tvonenews.com, 03-04-2026)


Sementara itu, anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta, Kevin Wu, menyampaikan bahwa lonjakan pendatang ini jika tidak dikelola dengan baik akan berkembang menjadi persoalan jangka panjang yang kompleks. (koranjakarta.com, 30-03-2026)


Kesenjangan Ekonomi Kota dan Desa


Jumlah pendatang pasca lebaran ke Jakarta mengalami penurunan sejak tahun 2024 (liputan6.com, 03-04-2026). Kendati demikian, kota besar seperti Jakarta selalu menjadi tujuan untuk mengadu nasib. Mengingat selama ini ada kesenjangan yang sangat besar antara desa dan kota.


Bagaimana tidak, Jakarta masih dianggap magnet untuk mendapatkan pekerjaan karena menjadi pusat ekonomi sehingga dianggap lebih mampu menyediakan peluang besar untuk menyerap tenaga kerja dibandingkan di pedesaan. Selain itu, ada faktor psikologis yang menganggap jika bekerja di Jakarta mampu menaikkan status sosial dan sebagai simbol keberhasilan. 


Di sisi lain, kesenjangan upah di desa dan di kota sebenarnya masalah klasik. Perkotaan dinilai lebih menjanjikan peluang untuk mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi karena menjadi pusat perputaran modal. Tentu saja, alaminya orang akan berpindah ke tempat yang lebih banyak membuka peluang pekerjaan. Alhasil, arus urbanisasi menjadi hal lumrah dalam sistem kapitalisme ini. 


Mengapa semua ini bisa terjadi? Ketimpangan ekonomi ini karena sistem kapitalisme yang menitikberatkan pada pembangunan yang tidak merata. Pembangun di kota biasanya pada bidang industri dan jasa sementara di desa lebih stagnan. Banyak faktor yang menyebabkan pembangunan di desa lebih stagnan. Akses dan infrastruktur di desa dinilai tidak efisien. Kemudian, dari segi sumber daya manusia, di kota dinilai lebih kompeten. Sehingga dalam kapitalisme, pembangunan lebih fokus di perkotaan karena dinilai lebih menguntungkan. 


Kapitalisme adalah sebuah sistem yang menempatkan keuntungan sebagai tolak ukur keberhasilan. Hal ini mengotak-ngotakan masyarakat pada kelas-kelas sosial yang berbeda sehingga kesenjangan tidak dapat dielakkan. Sementara, peran negara hanya sebagai fasilitator. 


Islam  Sistem yang Adil


Dalam Islam, negara bertanggung jawab untuk memastikan kesejahteraan masyarakat desa atau kota. Hal ini dikarenakan penguasa dalam Islam memiliki tanggung jawab ruhiyah sebagai pengurus rakyatnya.


Sesuai sabda Rasulullah saw.: “Imam (khalifah) adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya.” (HR. Bukhari)


Syekh Abdurrahman al-Maliki menjelaskan di dalam kitab As-Siyasatu al-Iqtishadiyatu al-Mutsla (Politik Ekonomi Islam) bahwa penguasa menerapkan politik ekonomi Islam yang berfokus pada mekanisme untuk menjamin pemenuhan kebutuhan primer individu per individu. Sementara untuk kebutuhan sekunder akan dibantu dan kebutuhan tersier sesuai kemampuan individunya. 


Mengenai ekonomi pertanian, keberadaannya dianggap sebagai hal penting dan pendukung kedaulatan dan ketahanan pangan negara. Sejumlah hukum syara mengatur pelaksanaan proyek pertanian terkait pertanahan. Pada kepemilikan individu negara tetap bertanggungjawab untuk memberikan harta pada rakyat yang lemah sebagai subsidi.


Politik pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian melalui intensifikasi dan ekstensifikasi. Alhasil, politik ekonomi Islam mewujudkan pembangunan yang merata di kota dan didesa. Mengapa? Karena sebagai bentuk jaminan kebutuhan primer individu per individunya. 


Oleh karena itu, kesejahteraan dalam Islam bukan sesuatu yang utopis. Kesejahteraan dalam Islam bisa didapatkan dengan penerapan Islam kafah yang didukung oleh ketakwaan individu dan kontrol masyarakat. Sebab, sistem ekonomi Islam menitikberatkan pada distribusi kekayaan yang merata melalui mekanisme yang telah diterapkan oleh syara. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]


Dien Kamilatunnisa