Menyongsong Kebangkitan Khairu Ummah
ReportaseAgar kita kembali menjadi umat terbaik
tidak ada jalan lain selain berdakwah mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman pada Allah Swt.
________________________________
Penulis Nining Sarimanah
Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pegiat Literasi
KUNTUMCAHAYA.com, REPORTASE - Ramadan telah usai. Kini umat Islam memasuki bulan Syawal. Sayangnya, nilai ketakwaan selama Ramadan yang diupayakan dan dijaga justru hilang tanpa bekas saat memasuki sebelas bulan berikutnya.
Kondisi ini menjadi keprihatinan bahwa ibadah yang dilaksanakan di bulan Ramadan semestinya bukan sekadar ritual yang dilaksanakan tiap tahun. Akan tetapi, seharusnya ibadah tersebut memiliki pengaruh luar biasa bukan hanya perubahan pada individu, tetapi perubahan masyarakat sehingga terwujud umat terbaik.
Karena itu, Majelis Taklim Nurul Qur'an (MTNQ) mengangkat tema "Menyongsong Kebangkitan Khairu Ummah" yang diisi oleh dua pembicara yang pertama Ustazah Finita dan Bu Nining Sarimanah. Acara tersebut diselenggarakan di Masjid Al Islam Cijerah dan dihadiri para muslimah di sekitar Bandung.
Pemateri pertama menyampaikan bahwa selepas Ramadan menjadi pribadi muslim yang lebih baik dan bertakwa merupakan tujuan dari disyariatkannya saum. Sebab selama satu bulan penuh menjalankan puasa, melakukan kebaikan, dan melewati berbagai ujian khususnya ujian hawa nafsu. Hal ini sesuai dengan makna Syawal yaitu naik dan meninggi di sisi Allah Swt..
Namun, fakta yang terjadi justru sebaliknya memasuki bulan Syawal dan bulan lainnya kaum muslim kembali seperti sebelumnya: kemaksiatan kembali marak, ibadah wajib ditinggalkan, juga kebaikan lainnya. Seolah menjadi muslim yang taat itu hanya di bulan Ramadan. Semua itu merupakan buah dari diterapkannya sistem sekuler. Sistem yang menjadikan agama sebatas ibadah ritual sehingga tidak melahirkan sosok pribadi yang bertakwa.
Di sisi lain, di bulan Syawal Rasulullah saw. telah mensyariatkan beberapa aktivitas, juga menjelaskan tentang keutamaan dan ganjarannya.
Pertama, melantunkan kalimat takbir sebagai tanda datangnya hari kemenangan, yaitu Hari Raya Idulfitri. Takbir ini memiliki makna sebagai rasa syukur kepada Allah bahwa kita masih diberikan kesempatan untuk bisa menikmati jamuan Allah berupa keutamaan yang luar biasa seperti pahala yang berlipat ganda, dosa diampuni, doa dikabulkan, dan sebagainya.
Selain itu, bersyukur karena dengan mendekatkan diri pada Al-Qur'an seperti membaca, menghafal, dan mempelajari isinya menjadikan kita makin paham antara yang hak dan yang batil.
Kedua, mempererat silaturahmi. Rasulullah saw. sangat menganjurkan silaturahmi sebagaimana yang dinukilkan dalam hadis, “Sembahlah Allah, janganlah berbuat syirik pada-Nya, dirikanlah salat, tunaikanlah zakat, dan jalinlah tali silaturahmi (dengan orang tua dan kerabat).” (HR. Bukhari)
Ketiga, melaksanakan saum enam hari. Sabda Nabi Muhammad saw., “Barang siapa yang menjalankan saum saat Ramadan, kemudian diikuti dengan saum enam hari Syawal, maka saumnya itu seperti saum sepanjang tahun.” (HR. Muslim)
Pemateri menegaskan bahwa di bulan Syawal ini kembali diingatkan bahwa kita adalah umat Nabi Muhammad saw. yang merupakan khairu ummah. Apa itu khairu ummah? Khairu ummah adalah istilah bahasa Arab yang berarti "umat terbaik", merujuk pada komunitas muslim yang beriman kepada Allah, menegakkan amar makruf nahi mungkar.
Allah Swt. berfirman,
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَكْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ ١١٠
"Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia (selama) kamu menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik." (QS. Ali-Imran: 110)
Selanjutnya pemateri kedua mengungkapkan fakta sejak diterapkannya sistem kapitalisme di negeri-negeri muslim menjadikan umat Islam tidak lagi berpredikat khairu ummah. Ini tampak banyaknya persoalan yang dihadapi seperti kenaikan PPN 12%, kriminalitas makin merajalela, kemiskinan meningkat, lapangan pekerjaan sulit, dan lainnya.
Tak hanya itu, umat Islam menjadi objek kezaliman yang dilakukan oleh Isra*l dan Amerika Serikat seperti yang terjadi di P4lestina. Iran diserang oleh AS-Isra*l sehingga Selat Hormuz diblokade yang berdampak pada pasokan minyak berkurang. Akibatnya harga BBM naik dan berefeknya pada harga kebutuhan pokok pun naik.
Semua itu harus diselesaikan secara sistemik, bukan dengan solusi parsial. Solusi tersebut hanya ada pada Islam. Dengan penerapan Islam secara kafah semua persoalan yang dihadapi manusia akan tuntas karena Islam bukan sekadar agama yang membahas ibadah, tetapi mengatur manusia juga memberikan solusi secara komprehensif pada setiap masalah yang terjadi.
Maka, untuk mewujudkan perubahan itu memerlukan tiga komponen yaitu individu yang bertakwa, kontrol masyarakat, dan penerapan syariat Islam secara menyeluruh oleh negara.
Umat Islam pernah menjadi umat terbaik selama belasan abad. Masyarakat makmur, sejahtera, dan aman. Berbagai penemuan banyak diciptakan oleh kaum muslim seperti sabun, aljabar, ilmu kedokteran, dan sebagainya. Artinya, selama 14 abad Khil4fah menjadi pusat peradaban dunia.
Karena itu, agar kita kembali menjadi umat terbaik tidak ada jalan lain selain berdakwah mengajak pada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan beriman pada Allah Swt. dengan melaksanakan seluruh aturan Islam secara kafah dalam seluruh sendi kehidupan dalam bingkai daulah Khil4fah. Wallahualam bissawab


