Alt Title

Paradoks Hari Kemenangan: Benarkah Umat Islam Telah Menang?

Paradoks Hari Kemenangan: Benarkah Umat Islam Telah Menang?



Kemenangan hakiki hanya akan datang saat umat Islam kembali pada syariat-Nya secara kafah

memutus rantai ketergantungan pada solusi Barat yang menyesatkan

_____________________


Penulis Fatimah Al Fihri

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- ​Ramadan telah berakhir. Saatnya umat Islam seluruh dunia merayakan hari kemenangan, hari raya Idulfitri. Gema takbir, tahmid, dan tahlil memenuhi langit-langit di seluruh belahan dunia di mana pun umat muslim berada.


Namun, bersamaan dengan kegembiraan hari raya, saudara kita di P4lestina masih sangat menderita. Lebih dari 2,4 juta warga P4lestina di Jalur G4za merayakan Idulfitri di tengah krisis kemanusiaan yang parah, pembatasan ketat Isra*l, kehancuran infrastruktur, kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan. (minanews.net, 06-04-2026)


​Meskipun Board of Peace (BoP) telah diresmikan dan Indonesia bergabung ke dalamnya, penyerangan Israel tidak pernah berhenti. Kantor Media Pemerintahan G4za mencatat, Isra*l telah melakukan lebih dari 2.000 pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata sejak Oktober 2023. Warga G4za merayakan Idulfitri di tengah reruntuhan gedung dan tenda darurat. Duka nestapa seolah tak berujung menimpa mereka. (minanews.net, 2026)


Takbir yang berkumandang di sana tidak lahir dari suasana rumah yang hangat, melainkan dari sela-sela puing beton dan debu reruntuhan. (minanews.net, 2026)


Bahkan, penjajah Isra*l secara provokatif melarang pelaksanaan shalat Idulfitri di Masjid Ibrahimi, memaksa warga bersujud di jalanan di bawah bayang-bayang moncong senjata. (minanews.net, 2026)


Ironi Pengkhianatan dan Hegemoni Global


​Derita warga G4za makin terlupakan akibat pengarusan opini dunia. Ada upaya sistematis untuk meminggirkan isu kemanusiaan ini. Hal ini terjadi karena Amerika Serikat (AS) dan Israel sengaja mengalihkan fokus opini dunia untuk memerangi Iran. Strategi pengalihan isu ini sangat efektif untuk memberikan "space" bagi Isra*l agar tetap bisa menyerang G4za tanpa gangguan opini internasional. Agenda politik global yang penuh intrik ini menunjukkan bahwa nyawa warga G4za hanyalah pion dalam papan catur kepentingan kekuasaan negara adidaya.


​Lebih menyakitkan lagi adalah sikap negara-negara Arab di kawasan Teluk. Terjadi ironi yang luar biasa ketika negara-negara yang secara geografis dan emosional paling dekat dengan Palestina justru terlihat lebih mesra bersekutu dengan negara-negara kafir penjajah dalam rangka membendung pengaruh Iran.


Alih-alih mengerahkan kekuatan militer untuk menolong G4za yang sedang sekarat, para penguasa ini justru terjebak dalam diplomasi yang hanya memperkuat bargaining position dari penjajah. Mereka melupakan bahwa musuh nyata yang sedang menghancurkan tanah suci adalah entitas Zion*s. Namun, mereka justru memilih bersekutu dengan pendukung utama Zion*s tersebut.


​Idulfitri dalam kondisi mengenaskan ini harusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslim, bak satu tubuh. Islam mengajarkan bahwa umat ini adalah kesatuan yang utuh; jika satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota tubuh lainnya akan ikut merasakan demam dan tidak bisa tidur. Namun, realitasnya, sekat-sekat negara bangsa (nation-state) telah berhasil mematikan rasa sakit tersebut. Kita merayakan "kemenangan" dengan kemewahan, sementara di bagian tubuh umat yang lain, darah masih mengucur deras.


​Nasib perdamaian dan kemerdekaan P4lestina jelas bukan merupakan prioritas bagi AS maupun Isra*l. Bagi kedua negara tersebut, segala bentuk dewan perdamaian atau perjanjian hanyalah alat untuk mempertahankan hegemoni kekuasaan mereka atas dunia.


Segala janji diplomasi hanyalah upaya untuk mengulur waktu agar proses perampasan tanah dan penghapusan identitas muslim di P4lestina dapat diselesaikan tanpa hambatan berarti. Mereka tidak mengenal kebenaran hakiki, melainkan hanya mengenal kekuatan dan kepentingan.



Menuju Kemenangan Hakiki dengan Khil4fah


​Umat Islam harus segera bangun dari tidur panjangnya dan kembali mentadaburi tuntunan Al-Qur'an dalam menyikapi situasi ini. Allah Swt. telah memberikan panduan yang sangat tegas bagi orang-orang beriman dalam membangun hubungan antar bangsa:


"Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka..." (QS. Al-Fath: 29)


​Ayat ini menegaskan bahwa kasih sayang dan kelembutan seharusnya menjadi landasan utama ukhuwah islamiyah, sementara sikap tegas tanpa kompromi harus ditujukan kepada kaum kafir penjajah yang memerangi agama. Ukhuwah inilah yang seharusnya menjadi pengikat kuat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk bergerak secara kolektif membebaskan penderitaan saudara sesama muslim di G4za. Kita harus membuang jauh-jauh sekat nasionalisme yang selama ini melemahkan kekuatan kita.


​Lebih dari sekadar bantuan kemanusiaan atau doa, Allah memerintahkan kaum mukmin untuk melakukan pembelaan fisik yang nyata melalui jihad. Allah Swt. berfirman:


"Wahai orang-orang yang beriman! Perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka merasakan kekerasan darimu..." (QS. At-Taubah: 123)


​Namun, sejarah dan syariat mengajarkan bahwa kewajiban jihad untuk membebaskan tanah yang terjajah hanya akan mencapai kesempurnaan jika umat ini bersatu di bawah satu komando kepemimpinan yang sah. Jihad yang tercerai-berai tidak akan cukup untuk meruntuhkan tembok hegemoni global yang dibangun AS dan Israel. Dibutuhkan sebuah institusi politik global, yaitu Khilafah ala minhajinnubuwah.


​Hanya Khil4fah-lah yang mampu menyatukan potensi militer seluruh negeri muslim, dari Turki, Indonesia, hingga Maroko untuk bergerak serentak membebaskan Al-Aqsa.


Khil4fah akan menghapuskan segala bentuk aliansi yang menghinakan dengan negara penjajah dan menolak segala perjanjian yang mengakui eksistensi entitas Zion*s di atas tanah milik umat Islam.


​Idulfitri di tengah reruntuhan G4za adalah pengingat keras bahwa kemenangan sejati belum benar-benar kita raih selama tanah suci para nabi masih terjajah. Kemenangan hakiki hanya akan datang saat umat Islam kembali pada syariat-Nya secara kafah, memutus rantai ketergantungan pada solusi Barat yang menyesatkan, dan menegakkan kembali perisai umat yang akan melindungi setiap tetes darah kaum muslim. Hanya dengan itulah, gema takbir di hari raya akan benar-benar menjadi tanda kemenangan yang nyata bagi seluruh alam. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]