Negeri Muslim Bersatu Hegemoni Global Runtuh
OpiniOleh karena itu, sudah saatnya para pemimpin dunia Islam membuang ego sektoral
dan menyatukan kekuatan militer demi membebaskan tanah P4lestina secara total
_________________________
Penulis Melta Vatmala Sari
Kontributor Media Kuntum Cahaya
KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - AS dan Isra*l merupakan negara adidaya yang tidak pernah terkalahkan, karena mereka memiliki senjata yang kuat, dan senjata nuklir yang besar.
Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menggaungkan klaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat (AS) dan Isra*l. Putra dari Ayatullah Ali Khamenei itu menegaskan, bahwa ketahanan Iran di tengah tekanan internasional telah menjadikan Teheran sebagai sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di dunia.
Berdasarkan pernyataan Mojtaba strategi “perlawanan” yang diusung Iran berhasil mematahkan dominasi Barat dan sekutunya, sekaligus memperkuat posisi tawar Iran di panggung global. (mediaindonesia.com)
AS-Isra*l tak mudah mengalahkan Iran (hanya 1 negeri muslim). Iran salah satu negara yang dipimpin oleh umat Islam. Oleh sebab itu, negara muslim, yaitu Iran meskipun masih memakai politik kapitalis, tetapi mereka masih memiliki perasaan Islam masih terjerat dengan kaum muslimin. Hingga mereka tidak pernah terkalahkan sebab mereka bersatu juga memiliki senjata yang lebih kuat dari AS dan sekutunya. AS tak bisa memaksa negara sekutunya untuk ikut terlibat langsung perang dengan Iran. Beberapa penguasa muslim bersekutu dengan AS.
Pemicu perang AS-Isra*l melawan Iran, konfrontasi militer langsung pecah pada Sabtu (28-2-2026) saat Amerika Serikat dan Isra*l menggempur berbagai target vital di Iran lewat serangan udara bersama. Insiden ini dipicu oleh buntunya negosiasi diplomatik, dinamika politik domestik Iran, dan akar konflik sejarah yang telah berlangsung lama. Operasi militer yang menargetkan infrastruktur nuklir, pangkalan rudal balistik, dan pusat kendali Iran ini memiliki sandi yang berbeda dari kedua negara.
Strategi Imperialisme AS
Washington menyebutnya Operation Epic Fury, sementara Isra*l menamainya Operation Roaring Lion. Akar konflik ini sendiri ditarik jauh ke belakang hingga tahun 1953, saat CIA terlibat dalam penggulingan PM Mohammad Mossadeq pasca-nasionalisasi industri minyak Iran.
Kudeta tersebut berhasil mengembalikan kekuasaan Mohammad Reza Pahlavi yang dikenal berpihak pada Barat, meskipun ia kurang mendapat dukungan dari masyarakat domestik. Keterlibatan Amerika Serikat dalam mendukung Shah kemudian memicu ketidakpuasan yang berujung pada Revolusi Iran 1979. Peristiwa itu mengubah sistem pemerintahan Iran menjadi republik Islam yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini, sekaligus menandai sikap penentangan terbuka terhadap pengaruh AS di kawasan Timur Tengah.
Puncak konflik terjadi dalam peristiwa Krisis Penyanderaan Kedutaan Besar AS di Teheran, yang menyebabkan terputusnya hubungan diplomatik antara kedua negara serta diikuti dengan penerapan berbagai sanksi ekonomi.
Konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi titik balik yang menunjukkan bahwa supremasi global tidaklah absolut. Meski AS telah mendominasi peta politik, ekonomi, dan militer dunia selama berdekade-dekade, Iran menunjukkan bahwa keteguhan pada nilai-nilai Islam dan kedaulatan nasional dapat menjadi kekuatan untuk melawan dan memberikan perlawanan signifikan terhadap hegemoni tersebut.
Meskipun Amerika Serikat didukung oleh anggaran militer yang masif, teknologi mutakhir, serta jaringan aliansi global, Iran mampu bertahan melalui kekuatan kolektif rakyatnya yang berlandaskan akidah dan konsep kesyahidan. Sejarah memberikan pelajaran bahwa kekuatan bom dan tekanan sanksi tidak cukup untuk menundukkan bangsa yang berjuang atas dasar keyakinan. Semangat jihad dan prinsip perlawanan terhadap ketidakadilan menjadi tameng utama bagi rakyat Iran dalam menghadapi himpitan ekonomi maupun ancaman militer.
Sebenarnya serangan AS ke Iran dipicu oleh ketidakpuasan AS untuk menguasai negara Islam agar mau bergabung dalam persekutuan nya, mereka ingin berkuasa di dunia ini dengan menerapkan sistem sekularisme-kapitalis juga ingin menguasai hasil kekayaan alam negara kaum muslim untuk membuat persenjataan mereka dalam mengalahkan umat Islam. Mereka tahu bahwa ummat Islam tidak takut dengan namanya mati dalam melawan kebenaran karena sudah dijanjikan Allah surga bagi yang berjihad di jalan Allah.
Strategi Islam Melawan Musuh
Intinya peperangan AS-Isra*l ke Iran itu hanya sekedar fiktif belaka untuk bisa bersatu melawan ummat muslim di P4lestina. Tujuannya ingin membuat senjata bersama untuk Isra*l merebut tanah Syam. Iran sebagai salah satu negara kaum muslimin pelopor minyak terbanyak di dunia diketahui AS memiliki senjata nuklir.
Perang ini menjadi bukti nyata bahwa saat umat Islam bersatu melawan ketidakadilan, kekuatan mereka menjadi tak terbendung oleh batas wilayah. Musuh Amerika sebenarnya bukanlah Iran semata, melainkan semangat perlawanan Islam itu sendiri.
Hal inilah yang membuat kekuatan hegemonik merasa terancam, mereka menyadari bahwa meski fisik bisa diserang, sebuah gagasan tetap abadi. Hegemoni global bisa runtuh ketika berhadapan dengan bangsa yang memiliki akidah, kemandirian, dan keberanian mati syahid.
Islam bukan hanya agama ritual, tetapi sistem hidup yang menyediakan cetak biru perlawanan terhadap penindasan. Ketika umat kembali berpegang pada Islam secara total, maka dominasi adidaya hanyalah kertas yang bisa disobek.
Khil4fah juga memobilisasi tentara pilihan untuk mengusir penjajah kaum muslim dengan cara menyatukan umat. Allah Swt. berfirman “Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana saja kamu jumpai, dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu.” (QS. Al-Baqarah: 191)
Tindakan tegas dijatuhkan oleh Rasulullah saw. kepada Bani Nadhir, Bani Qainuqa’, dan Bani Quraizhah karena mereka terbukti merusak perjanjian serta berkhianat dengan cara membantu musuh memerangi Islam.
Namun, di balik ketegangan yang terlihat, semua itu hanyalah permainan peran. Ada indikasi kuat bahwa Iran dan AS sebenarnya bekerja sama di balik layar, bahkan AS disebut-sebut sebagai penentu kebijakan militer Iran. Contoh nyatanya adalah laporan bahwa Iran tetap melapor kepada AS sebelum melancarkan aksi balasan terhadap Zion*s. Hal ini menunjukkan bahwa sanksi-sanksi yang selama ini digaungkan tak lebih dari sekadar "pemanis" dalam drama politik yang mereka jalankan bersama.
Sikap pasif Iran dan negara-negara mayoritas muslim lainnya terhadap penjajahan Zion*s tidak bisa dilepaskan dari jerat nasionalisme. Paham yang memecah belah umat berdasarkan garis batas geografis ini pada dasarnya bukan berasal dari Islam. Sebagai seorang muslim, standar tertinggi dalam bertindak seharusnya bukan kepentingan nasional yang sempit, melainkan hukum syarak.
Dalam pandangan Islam, menolong sesama muslim bukan sekadar pilihan politik, melainkan kewajiban syar'i yang diperintahkan langsung oleh Allah Swt. dalam Al-Qur'an. Oleh karena itu, sudah saatnya para pemimpin dunia Islam membuang ego sektoral dan menyatukan kekuatan militer demi membebaskan tanah P4lestina secara total, serta memutuskan segala bentuk hubungan dengan entitas Zion*s.
Urgensi Syam dan Larangan Bermuamalah dengan Musuh
Perlu dipahami bahwa P4lestina bukan sekadar wilayah berdaulat, melainkan bagian integral dari Negeri Syam (mencakup Suriah, Yordania, Lebanon, dan P4lestina) yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Membiarkan wilayah ini dikuasai penjajah sama saja dengan membiarkan bagian tubuh umat Islam terus terluka.
Lebih jauh lagi, syariat Islam secara tegas mengatur interaksi dengan negara kategori kafir harbi fi'lan yakni pihak yang secara nyata sedang memerangi kaum muslim, seperti Isra*l, Amerika Serikat, dan sekutunya. Berdasarkan prinsip ini, segala bentuk hubungan adalah haram, baik itu diplomasi maupun perdagangan.
"Perdagangan dengan negara penjajah hanya akan memperkuat posisi mereka untuk terus menindas kaum muslim. Melakukan transaksi dengan mereka sama saja dengan memberikan bantuan untuk kemaksiatan dan permusuhan." Adaptasi pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani.
Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]


