Alt Title

Iran Hancurkan Ilusi Negara Adidaya

Iran Hancurkan Ilusi Negara Adidaya



Serangan lran yang memporak-porandakan pangkalan militer Amerika Serikat

di negara-negara Teluk membuktikan bahwa sematan negara adidaya bagi AS hancur sudah

________________________


Penulis Sari Yuliyanti

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pemerhati Isu Pendidikan dan Kebudayaan


KUNTUMCAHAYA.com, OPlNl - Selama ini dunia dicekoki dengan narasi bahwa Amerika Serikat adalah negara yang tidak terkalahkan. Namun kini, realitas berkata lain.


Satu negeri muslim seperti Iran ternyata mampu menunjukkan kepada dunia bahwa Amerika Serikat itu lemah. Iran mampu bertahan dari tekanan militer, ekonomi, dan politik yang masif selama serangan yang terjadi sekitar 40 hari. Terhitung serangan bermula sejak 28 Februari 2026 hingga gencatan senjata diumumkan tanggal 8 April 2026. (kompas.id, 14-04-2026)


Sejak perang dimulai, Iran tampak dengan sengit melancarkan serangan balasan besar-besaran menggunakan rudal dan drone yang menyasar pangkalan militer Amerika Serikat di berbagai negara Teluk. Bahkan Iran dilaporkan mengabaikan ajuan Amerika Serikat untuk melakukan gencatan senjata selama 48 jam di tengah konflik tersebut.


Menariknya, Iran saat itu justru memberikan respons terhadap ajuan gencatan senjata itu dalam bentuk meningkatkan serangan dengan intesitas tinggi sampai mengganggu pasar global dan sektor penerbangan. (jatim.antaranews.com, 4-04-2026)


Dunia melihat bahwa perlawanan dari negeri Iran yang kecil itu menunjukkan hegemoni besar yang sangat memungkinkan untuk dilawan. Satu negeri Muslim saja mampu untuk membuat kekuatan besar negara adidaya dan sekutunya berhitung panjang. 


Dari fakta-fakta yang kita temui dalam perang Iran ini, lahirlah beberapa analisa penting. Diantaranya adalah bahwa kekuatan Amerika Serikat dan Israel faktanya sangat tidak absolut. Bahkan dengan kekuatan militer dan ekonomi yang besar, kelemahan mereka tampak ke permukaan dalam menghadapi negara kecil yang mempunyai ketahanan politik dan keberanian strategis seperti Iran. 


Fakta ini menunjukkan bahwa AS tampak kerepotan memukul mundur Iran adalah biaya perang sangat besar harus dikeluarkan AS yang tadinya hanya sekitar 18 miliar USD ditambah menjadi sekitar 200 miliar USD. Hal ini menunjukkan perang melawan Iran bukan operasi ringan. Di tengah konflik, Iran bisa menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur minyak dunia. Tentunya ini berdampak besar terhadap perekonomian global dan menjadi tekanan balik ke AS juga sekutu-sekutunya. 


Dalam berbagai perundingan, jelas Iran tidak tunduk pada Amerika Serikat dengan memberikan syarat pada perjanjian gencatan senjata pada 8 April 2026 lalu diantaranya mensyaratkan penghormatan terhadap kedaulatan Iran, AS harus memberikan kompensasi atas serangan dan adanya jaminan tidak ada agresi ulang yang dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa Iran datang sebagai aktor yang memiliki leverage strategis. 


Mirisnya, di tengah kondisi ini, dunia dibuat geram terhadap penguasa negeri muslim yang justru tetap berada dalam orbit kepentingan Barat. Semestinya mereka memperkuat solidaritas terhadap Iran sebagai sesama negeri muslim, tapi yang ada malah cenderung mengambil posisi aman bahkan mendukung tekanan terhadap Iran. 


Perpecahan ini menjadi titik lemah yang paling krusial. Ketika Iran berupaya maksimal menghadapi tekanan global, negeri Muslim lain tidak bergerak dalam satu barisan. 


Padahal fakta menunjukkan bahwa negeri-negeri Muslim jika semua bersatu memiliki kombinasi kekuatan yang luar biasa menakjubkan. Diantaranya menguasai jalur perdagangan strategis, sumber energi global, serta populasi besar yang tersebar di berbagai kawasan penting dunia. Dari Timur Tengah hingga Asia Tenggara, dari Afrika Utara hingga Asia Tengah, terbentang wilayah strategis yang jika disatukan akan membentuk kekuatan yang sangat sulit ditandingi. 


Jika satu negara Iran saja mampu menahan tekanan global, bagaimana jika puluhan negeri Muslim bersatu dalam satu kekuatan politik dan militer yang terintegrasi?


Ini adalah kesimpulan strategis yang harus menjadi kesadaran bagi umat Islam. Persatuan tidak semestinya menjadi wacana ideal saja, namun harus menjadi kebutuhan mendesak untuk keluar dari dominasi global. Ketika persatuan umat digantikan oleh kepentingan sempit dan ketergantungan pada kekuatan Barat, maka potensi besar umat Islam menjadi lemah dan terpecah belah.


Kewajiban Umat Islam untuk Bersatu  


Dari perang Iran-AS/lsra*l ini, kita melihat ada gagasan yang perlu digaungkan kembali di tengah tengah kaum muslim, yaitu kebutuhan kita terhadap satu institusi politik yang menyatukan negeri-negeri muslim. Gagasan terhadap kebutuhan Khil4fah ‘Ala Minhajin Nubuwwah penting untuk dibicarakan lebih mendalam karena Khil4fah adalah konsep kepemimpinan tunggal yang dapat menyatukan potensi umat, menghilangkan sekat nasionalisme sempit, dan menghadirkan kekuatan politik yang kuat dan berwibawa. Di samping itu, Khil4fah dapat mengakhiri penderitaan yang dialami oleh sebagian negeri-negeri muslim yang selama ini berada dalam konflik berkepanjangan.


Dalam ajaran Islam, persatuan umat memiliki landasan normatif yang tegas. Al-Qur’an menegaskan bahwa umat ini adalah satu kesatuan. Allah Swt. Berfirman dalam QS. Al-Anbiya ayat 92, 

اِنَّ هٰذِهٖٓ اُمَّتُكُمْ اُمَّةً وَّاحِدَةًۖ وَّاَنَا۠ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوْنِ 

Artinya: “Sesungguhnya ini (agama tauhid) adalah agamamu, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu. Maka, sembahlah Aku”


Dalam QS. Ali Imran ayat 103, 

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ

Artinya: “Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai…”


Sementara hadist riwayat Muslim melarang adanya dua khalifah dalam satu waktu, larangan ini mengisyaratkan bahwa kepemimpinan umat tidak boleh terpecah. Wajib dibawah komando satu kepemimpinan tunggal. 


«إِذَا بُويِعَ لِخَلِيفَتَيْنِ فَاقْتُلُوا اْلآخِرَ مِنْهُمَا»

Artinya: “Jika dibaiat dua orang khalifah maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya” (HR Muslim)


Dalam sejarah perjalanan kaum muslim, prinsip ini terwujud dalam institusi Khil4fah yang menyatukan berbagai wilayah dan bangsa di bawah satu kepemimpinan. 


Saat ini, mitos bahwa Amerika Serikat adalah negara super power tak terkalahkan sudah hancur. Dan kini saatnya beralih pada satu kesadaran bahwa dari konflik Iran ini kita belajar tentang satu hal yaitu umat Islam harus bersatu tidak ada perpecahan. Bersatu untuk menjadi sebuah kekuatan global tak terkalahkan dengan tegaknya Khil4fah ‘Alaa Minhajin Nubuwwah. Wallahualam bissawab. [Luth/MKC]