Alt Title

Akhir Ramadan Konflik Global dan Kemenangan Hakiki bagi Umat Islam

Akhir Ramadan Konflik Global dan Kemenangan Hakiki bagi Umat Islam



Sejatinya, momen Ramadan dan Idulfitri ini menjadi langkah pertama

untuk menyatukan kekuatan umat 

_________


Penulis Ummu Aiman

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Setiap Idulfitri seluruh kaum muslim merayakan hari kemenangan. Namun, seperti tahun sebelumnya umat Islam masih menjalani ibadah puasa di tengah gejolak politik global yang makin memanas. 


Kondisi tersebut bukannya menampakkan tanda-tanda akan berakhir. Sebaliknya, perang antara Iran dengan gabungan AS dan Zion*s justru makin masif. 


Keadaan ini berdampak pada banyak hal. Selain akan meluas ke kawasan Timur Tengah lainnya, ekonomi global pun pasti mengalami tekanan. Terlebih lagi dampak dari penutupan Selat Hormuz yang menjadi perlintasan 20% minyak dunia. (Kontan.co.id, 02-03-2026)


Hal ini berimbas kepada bahan energi dan logistik yang melonjak naik sehingga membuat seluruh dunia ketar-ketir. Tak ayal, fakta tersebut menyebabkan roda ekonomi dan keuangan sebagian besar negara menjadi terancam.


Demi mengatasi kondisi yang lebih buruk, langkah nyata pun segera diambil. Salah satunya adalah Inggris yang sedang mengumpulkan para menteri luar negeri dari 40 negara untuk membahas opsi-opsi guna membuka kembali Selat Hormuz. Pasalnya, selat tersebut merupakan jalur pelayaran vital yang terhambat oleh keserakahan Amerika Serikat dan sekutunya. Keserakahan itu juga yang memicu perang Amerika Serikat dan Isra*l melawan Iran.


Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa KTT virtual pada  Kamis yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper. Cooper menjelaskan pihaknya akan menilai semua langkah diplomatik dan politik yang layak untuk memulihkan jalur global tersebut.(SerambiNews.Com, 02-04-2026) 


Ramadan Tanpa Adanya Perisai Umat


Kondisi di atas menjadi sebuah permasalahan besar saat ini. Imbasnya pun sangat dirasakan oleh umat Islam seluruh dunia. Hal itu bisa dilihat dari momen Ramadan yang tidak memiliki perisai umat sehingga menyebabkan kaum muslim makin terpuruk. Pasalnya, umat Islam belum juga mengalami perubahan.


Mereka belum mampu meraih kebangkitan dan kemenangan sejati yang menjadi tujuan ibadah puasa. Hal itu terjadi karena umat Islam saat ini terpecah-belah oleh sekat-sekat buatan penjajah yang membuat sebagian besar pemimpinnya tunduk pada negara kafir penjajah. Dalam beberapa kasus, kaum muslim berada pada posisi yang saling berseberangan dengan negeri-negeri muslim yang lain dalam konflik geopolitik.


Hal ini menegaskan bahwa umat belum mempunyai kesatuan arah politik yang mandiri. Konflik yang terjadi di G4za P4lestina dan Iran menjadi bukti tentang ketidakberdayaan umat dan ketundukan para penguasa muslim di hadapan penjajah. Alih-alih berusaha untuk menolong, justru para pemimpin muslim khususnya para pemimpin arab malah sibuk mengamankan kepentingan nasional-nya karena terikat perjanjian dengan pihak musuh. 


Kenyataan ini makin membuka mata kita bahwa umat Islam yang jumlahnya sangat besar, yaitu hampir sekitar dua miliar ternyata tidak bisa menolong saudara muslim di G4za dengan melenyapkan Zion*s Yahudi. Selain itu, para pemimpin negeri-negeri muslim juga diam dengan membiarkan Iran berjuang sendiri menghadapi Amerika dan sekutunya. 


Umat Islam adalah umat yang terbaik sebagaimana Allah Swt. sebutkan dalam QS. Ali-Imran ayat 110 yang artinya:


"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar dan beriman kepada Allah."


Predikat khairu ummah bukanlah sekadar gelar, tetapi ia amanah yang besar dan menuntut umat Islam untuk menjadi pelopor kebaikan dan penjaga arah kehidupan manusia dengan tuntunan Islam. Apalagi umat Islam mempunyai sumber daya manusia yang besar dan sumber daya alam yang sangat melimpah. 


Posisi dan predikat di atas berpotensi sebagai ideologi yang akan mampu menjawab tantangan kehidupan global. Jika kita melihat sejarah umat Islam ketika hukum Allah Swt. dipakai sebagai sistem kehidupan maka akan didapatkan fakta yang tak terbantahkan, bahwa umat Islam mampu memimpin peradaban. Namun, kondisinya saat ini justru sangat terpuruk karena kita meninggalkan syariat Islam. 


Buah Ibadah Ramadan untuk Mewujudkan Kebangkitan Hakiki


Sudah sekian lama kita menjalani ibadah Ramadan. Namun, kehilangan makna ketakwaan yang mampu mendorong ke arah kebangkitan. Ibadah yang kita jalani masih sebatas penguatan ruhiah dan meraih predikat takwa dalam tataran individu saja. Padahal Nabi saw. memberikan contoh bahwa bulan Ramadan adalah bulan perjuangan untuk mewujudkan posisi umat Islam sebagai umat yang terbaik di tengah kehidupan, bahkan banyak peristiwa kemenangan kaum muslim justru ada di bulan tersebut. 


Sebagaimana yang terjadi di Perang Tabuk, Perang Badar, dan Fathu Makkah. Semua itu terjadi di Bulan Ramadan dan umat ketika itu berada di bawah kepemimpinan seorang khalifah yang menerapkan aturan Islam di tengah kehidupan bermasyarakat yang merupakan buah dari ketakwaan.


Dakwah dan Arah Perjuangan Umat 


Oleh karena itu, merupakan kebutuhan mendesak bagi kaum muslim dalam mewujudkan kesadaran bahwa aturan Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah individu. Akan tetapi, Islam mengatur seluruh urusan kehidupan termasuk dalam hal politik yang mengarahkan umat Islam agar menjadi pemimpin peradaban dunia. 


Kesadaran politik ini harus dibangun di tengah umat agar menjadi tujuan hidup dan mendorong mereka untuk melakukan perubahan yang mendasar. Perubahan ini adalah perubahan sistem kehidupan dari kepemimpinan yang kufur yang menyebabkan umat terpuruk menjadi sistem kepemimpinan Islam/Khil4fah yang mampu menyatukan umat dan menjadi perisai yang siap melindungi umat.


Sungguh, ketiadaan khalifah membuat umat Islam dalam kondisi tertindas karena umat berada atas peradaban kufur seperti yang kita lihat hari ini. Penjajahan terus menyelimuti negeri kaum muslimin seperti yang terjadi di P4lestina, Iran, dan negeri muslim yang lain.


Perjuangan dalam menyadarkan umat dengan ideologi Islam dapat dilakukan membangun kesadaran akan pentingnya persatuan di bawah kepemimpinan seorang khalifah. Hal itu membutuhkan keseriusan, kesungguhan, dan kerja yang tersistem. Hal ini tidak bisa dilakukan secara individu.


Namun, hal itu mengharuskan adanya sebuah kelompok atau partai yang ikhlas berjuang untuk kemuliaan kaum muslim. Bukan partai semu yang justru menjauhkan umat dari kebangkitan yang sesungguhnya. Namun, sangat disayangkan saat ini umat Islam masih menaruh harapan besar perubahan itu hanya pada sosok pemimpin personal, bukan pada perubahan sistem aturan kehidupan. Oleh karena itu, keberadaan kelompok dakwah ideologis yang akan menyampaikan dakwah Islam kafah sangat penting. Kelompok dakwah ini akan melakukan perang pemikiran dan menyingkap strategi busuk  musuh-musuh Islam.


Seharusnya momen Ramadan dan Idulfitri ini menjadi langkah pertama untuk menyatukan kekuatan umat dengan mewujudkan takwa yang menjadi kekuatan individu. Setelah itu kekuatan tersebut akan menjadi perisai umat dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan begitu, umat Islam akan bisa meraih kemenangan yang sebenarnya dan bukan kemenangan semu yang tidak berdampak dalam kehidupan nyata. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]