Alt Title

BBM Langka, Rakyat Siaga: Ironi Negeri Kaya Energi

BBM Langka, Rakyat Siaga: Ironi Negeri Kaya Energi




Sangat ironis melihat negeri-negeri muslim yang kaya raya

justru menjadi penonton bahkan korban dalam pertarungan kekuatan global

_________________________


Penulis Endah Dwianti 

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Pengusaha


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Dunia kembali mencekam. Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS), Isra*l, dan Iran kini bukan sekadar berita di layar televisi, melainkan ancaman nyata di depan tangki bensin kita.


Sejak awal Maret 2026, fenomena panic buying BBM mulai menjalar ke berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Meski pemerintah melalui Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, telah meminta masyarakat untuk tetap tenang dan menjamin stok BBM nasional aman, antrean panjang di SPBU tetap tak terhindarkan. (Detik.com, 08-03-2026)


Ketakutan warga Medan (Kompas.id, 05-03-2026) hingga imbauan BPKN agar masyarakat tidak menimbun BBM (Antara, 05-03-2026) mencerminkan satu hal: ketergantungan kita terhadap pasokan energi global sangatlah rapuh. Di tengah lonjakan harga minyak dunia akibat perang (CNN Indonesia, 05-03-2026), narasi "stok aman" seolah menjadi penawar sementara bagi luka struktural yang jauh lebih dalam, yakni hilangnya kedaulatan energi.


BBM: Urat Nadi yang Terbelenggu Kapitalisme


Kita harus jujur, BBM bukan sekadar komoditas dagang biasa. Ia adalah komoditas strategis yang menjadi urat nadi kehidupan. Kelangkaannya sedikit saja akan memicu efek domino: kenaikan harga pangan, gejolak sosial, hingga instabilitas politik. Pertanyaannya, mengapa negeri-negeri muslim yang secara geografis duduk di atas cadangan minyak melimpah justru menjadi pihak yang paling cemas saat konflik pecah?


Jawabannya terletak pada cengkeraman kapitalisme global. Dalam sistem ini, sumber daya alam bukan dikelola untuk kemaslahatan rakyat, melainkan dijadikan ladang bancakan korporasi transnasional. Negara-negara kuat menggunakan ketergantungan energi sebagai alat penjajahan ekonomi baru (neo-imperialisme). Akibatnya, kekayaan alam negeri kita dikeruk demi keuntungan segelintir elite, sementara rakyat harus mengantre berjam-jam hanya untuk memastikan mereka bisa bekerja esok hari.


Kedaulatan Energi dalam Pandangan Islam


Di sinilah urgensi melihat kembali bagaimana Islam memandang pengelolaan energi. Dalam Islam, kedaulatan energi bukan sekadar persoalan teknis cadangan minyak, melainkan persoalan akidah dan syariat. Islam menetapkan bahwa sumber daya alam yang jumlahnya melimpah, seperti minyak, gas, dan tambang adalah kepemilikan umum (al-milkiyah al-amah).


Rasulullah saw. bersabda: "Kaum muslim berserikat dalam tiga perkara: padang rumput, air, dan api (energi)." (HR. Abu Dawud)


Konstruksi hukum ini secara otomatis menggugurkan hak individu, korporasi swasta, apalagi pihak asing untuk menguasai dan mengeksploitasi sumber daya strategis tersebut. Dalam bingkai Khil4fah Islamiah, negara bertindak sebagai pengelola (manager) yang wajib mendistribusikan hasil kekayaan alam tersebut kembali kepada rakyat dalam bentuk harga yang murah atau bahkan gratis, serta dalam bentuk layanan publik yang prima.


Politik Pengelolaan Energi Khil4fah


Kebijakan politik Islam dalam mengelola energi berdiri di atas tiga pilar utama:


Status kepemilikan yang jelas: Negara dilarang keras menyerahkan tambang minyak kepada pihak swasta/asing. Privatisasi adalah keharaman sistemik dalam Islam karena merampas hak rakyat.


Pengelolaan mandiri: Negara wajib membangun infrastruktur pengolahan energi secara mandiri, mulai dari hulu hingga hilir, agar tidak didikte oleh fluktuasi pasar global atau tekanan politik negara imperialis.


Distribusi berbasis keadilan: Energi digunakan untuk menggerakkan industri dalam negeri dan menyejahterakan rakyat, bukan diekspor mentah-mentah demi mengejar devisa sementara rakyat sendiri kesulitan.


Mengakhiri Penjajahan, Menjemput Kesejahteraan


Sangat ironis melihat negeri-negeri muslim yang kaya raya justru menjadi penonton bahkan korban dalam pertarungan kekuatan global. Konflik AS-Israel vs Iran seharusnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk sadar bahwa selama kita masih mengadopsi sistem ekonomi kapitalisme, kita akan selalu berada dalam posisi yang terancam.


Panic buying yang kita saksikan hari ini adalah alarm keras. Kesejahteraan tidak akan pernah terwujud selama kekayaan alam kita masih diperas oleh sistem yang tamak. Menghentikan penjajahan kapitalisme global bukan hanya sekadar tuntutan ekonomi, tetapi kewajiban iman.


Sudah saatnya kita kembali pada syariat Islam dalam mengelola bumi ini. Hanya dengan tegaknya aturan Allah Swt., kekayaan alam yang melimpah ini benar-benar akan menjadi berkah bagi seluruh alam, bukan sekadar komoditas yang memicu kecemasan setiap kali perang pecah di belahan dunia lain. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]