SKB Kesehatan Jiwa Anak Solutifkah?
Surat PembacaDari sini terlihat bahwa krisis kesehatan jiwa anak makin meningkat
bukan diakibatkan masalah personal saja, tetapi merupakan masalah sistemik
_________________________
KUNTUMCAHAYA.com, SURATPEMBACA - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arif Fauzi bersama dengan pimpinan Kementerian/lembaga (K/L) lainnya resmi menandatangani Surat Keputusan Bersama (SKB) tentang Kesehatan Jiwa Anak.
Survei Nasional Pegalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) yang telah dilakukan oleh Menteri PPPA pada tahun 2024 lalu yang salah satu poin utama dilakukannya survei tersebut adalah menyoroti masalah kesehatan jiwa anak yang menunjukkan 7,28 persen anak megalami masalah kesehatan jiwa. Sebanyak 62,19 persen di antaranya mengalami kekerasan, baik secara fisik, emosional, maupun seksual dalam 12 bulan terakhir. (PPPA.com, 06-03-26)
Sistem Sekuler Akibatkan Krisis Kejiwaan Anak
Selain itu, SKB Kesehatan Jiwa Anak diterbitkan pemerintah juga sebagai respons atas meningkatnya kasus dan tendensi pengakhiran hidup anak. Faktor utama pemicu berasal dari konflik keluarga, perundungan, masalah psikologis, dan tekanan akademik. Dari sisi kesehatan, Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan konflik keluarga menjadi salah satu faktor utama yang memicu masalah kesehatan jiwa pada anak.
Berdasarkan data healing119.id dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), terdapat empat faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup, yaitu konflik keluarga (24–46 persen), masalah psikologis (8–26 persen), perundungan (14–18 persen), serta tekanan akademik (7–16 persen). (Antara.com, 05-03-2026)
Dari sini terlihat bahwa krisis kesehatan jiwa anak makin meningkat bukan diakibatkan masalah personal saja, tetapi merupakan masalah sistemik. Sistem kehidupan sekuler-liberal yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat saat ini menjadi penyebab terjadinya krisis kejiwaan pada anak. Sistem yang memisahkan agama dari kehidupan menggerus nilai-nilai spiritual di tengah masyarakat.
Ditambah lagi dengan adanya hegemoni media kapitalisme global yang menawarkan ide-ide yang menjadikan standar kehidupan adalah materi. Paradigma yang dibangun adalah kebebasan. Selama aktivitas itu sesuatu yang disukai tidak menjadi masalah. Tidak ada standar halal/haram. Gaya hidup yang dipertontonkan juga menjadi faktor terjadinya kasus kejiwaan pada anak. Gaya hidup yang hedon sehingga menyebabkan anak mampu melakukan apa saja asal bisa mewujudkan gaya hedonnya.
Selain itu, pendidikan di keluarga, di sekolah, dan di lingkungan masyarakat tidak berpijak kepada akidah dan syariat. Nilai kesuksesan dinilai dari kesuksesan yang bersifat materi. Orang tua yang beranggapan asal terpenuhi materi si anak maka anak akan bahagia. Alhasil, kedua orang tua tidak memiliki kualitas waktu buat bersama anak.
Rumah yang harusnya menjadi madrasah utama bagi anak akhirnya kehilangan fungsi utamanya. Sekolah juga menerapkan hal yang sama. Seharusnya sekolah menjadi tempat anak menimba ilmu, tetapi menjadi tempat yang rawan terjadinya bullying dan tekanan akademisi yang hanya fokus pada pencapaian nilai yang bagus.
Solusi Islam
Persoalan kesehatan jiwa pada anak tidak cukup hanya dengan solusi administratif yang dicanangkan pemerintah saat ini. Seharusnya seluruh masyarakat menjadikan sistem sekuler liberal kapitalistik menjadi musuh bersama. Karena akar permasalahan makin meningkatnya jumlah krisis kejiwaan pada anak adalah diterapkannya sistem ini. Perjuangan yang harus dilakukan adalah perjuangan untuk mengganti sistem tersebut menjadi sistem Islam. Islam satu-satunya solusi yang akan menyelesaikan krisis kejiwaan pada anak.
Dalam sistem Islam, negara akan bertanggung jawab sebagai raain (pengurus) atas urusan rakyat dan menjadi junnah (perisai) dalam melindungi anak dan keluarga dari kerusakan nilai sekuler liberal kapitalistik tersebut. Negara tidak akan membiarkan media untuk menyebarkan apa saja yang tidak sesuai dengan syariat. Tidak boleh menyebarkan ide-ide yang berasal dari sistem sekuler liberal kapitalistik tersebut.
Sebagaimana hadis Rasulullah saw.:
"Imam adalah raa'in (pengurus) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya". Dan "Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud)
Kedua hadis tersebut menjelaskan bahwa sosok pemimpin adalah pengurus yang bertanggung jawab atas rakyatnya. Hal ini hanya bisa terwujud dengan menerapkan sistem Islam secara kafah dalam seluruh lini kehidupan sehingga seluruh sistem baik sistem politik, kesehatan, pendidikan dan ekonomi juga akan berstandarkan kepada syariat Islam. Wallahualam bissawab. [GSM/MKC]
Ria Nurvika Ginting, SH,MH


