Alt Title

Saatnya Gen Z Bawa Perubahan

Saatnya Gen Z Bawa Perubahan



Pemuda adalah tonggak perubahan

Dari merekalah lahir para kesatria sejati

_________________________


Penulis Rahmatul Aini S.Sos

Kontributor Media Kuntum Cahaya dan Aktivis Dakwah


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI- Kerusuhan yang terjadi di beberapa bulan lalu sempat memicu amarah publik, dan yang lebih luar biasa lagi adalah kesadaran Gen Z yang bergerak secepat kilat menanggapi isu yang mencuat. 


Indonesia memiliki bonus demografi yang didominasi usia produktif, tentu menjadi momen emas dan peluang besar bagi negara untuk bisa lebih baik lagi ke depan.


Negara ini butuh anak-anak muda yang siap mengemban amanah kepemimpinan berikutnya, di saat yang tua sudah tak lagi mampu mengemban amanah dan pasti akan tergantikan dengan generasi muda.


Kondisi Gen Z hari ini menggambarkan pentingnya anak muda bergerak menyongsong perubahan, daya analisa, kritis, kesadaran terkait kondisi negara yang carut marut, vokal menyuarakan aspirasi rakyat, bergerak cepat dan menjadi penyambung lisan masyarakat, semua itu didominasi Gen Z. 


Kekuatan teknologi juga sangat mendukung, Gen Z juga melek teknologi mereka bisa memviralkan sesuatu yang luar biasa, dan bisa mengangkat isu ke ranah media lewat jari jemari mereka. Bahkan, polemik Agustus kemarin membuka mata dunia bahwa Indonesia tidak baik-baik saja, lewat media sosial semua mata tertuju pada kondisi Indonesia. Bahkan, media internasional pun tak tertinggal meliput kondisi negeri ini. 


Ada sekitar 959 total tersangka aksi dengan rincian 664 dewasa dan 295 anak, tegas Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komjen Syahardiantono. Saat ini kasusnya sedang dalam penanganan Bareskrim dan 15 kepolisian daerah. (tempo.co, 24 September 2025) 


Tak hanya itu, di beberapa negara juga terjadi aksi demonstrasi, menuntut keadilan untuk para korban yang ditangkap dengan sewenang-wenang, menyiksa para aktivis hanya karena menyuarakan aspirasi dan daya kritis, bahkan ada yang meninggal dunia. 


Adanya indikasi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh penguasa hari ini membuktikan bahwa kebebasan berpendapat hanya didapatkan oleh segelintir orang saja, yakni bagi mereka yang sejalan dengan kepentingan penguasa. Sementara bagi yang kritis menyuarakan keresahan rakyat justru dijegal dan dipaksa untuk bungkam. 


Kesadaran politik Gen Z justru dikriminalisasi atas nama anarkisme, banyaknya korban yang berjatuhan serta penangkapan menjadi deretan bukti bobroknya wajah asli demokrasi.


Kehilangan Arah Perubahan 


Di saat gelombang kritis dan kepekaan Gen Z kita patut memberikan apresiasi bagi generasi muda yang mau terus berkontribusi demi menjadikan negeri ini lebih balik. Namun, ada yang menjadi kekhawatiran di tengah gempuran arus menuntut keadilan yang tidak menemukan titik temu. Sejatinya setiap gerakan perjuangan harusnya memberikan dampak bagi perubahan.

 

Generasi muda belum juga sadar arah perubahan hakiki yang sejati. Banyak dari mereka yang justru berbuat tak sesuai norma dan agama. Membakar gedung DPR dan menjarah rumah penguasa, yang hal ini justru menjadi sisi negatif. Sekecewa apapun tentang kebijakan harusnya disikapi dengan situasi yang aman, tanpa merusak fasilitas umum dan merugikan pihak. 


Adanya responsif yang terjadi menjadi jawaban atas kaburnya arah perjuangan. Ideologi yang diemban yakni memisahkan agama dengan kehidupan sudah begitu mendarah daging bagi kaum muslimin termasuk anak muda. 


Ternyata inilah yang mengakibatkan arah perubahan justru masih semu. Bayangkan saja, dari 17+8 tuntutan ada beberapa yang sudah terealisasikan, selebihnya ditutupi oleh berita gosip, kriminal, kasus-kasus yang lain. 


Sayangnya, sampai detik ini kita pun masih belum mendapatkan jawaban dari tuntutan masyarakat untuk segera terealisasikan lewat kebijakan. 


Seberapa banyak lagi korban yang harus kita saksikan dan tumbal-tumbal yang lain yang mampu menggerakkan dan membuka mata hati kita, agar percaya bahwa kerusakan itu terjadi adalah sebab mengadopsi sistem sekuler kapitalisme. 


Harus sesakit dan sekecewa apalagi kita dengan sistem dan kebijakan yang ada, kemudian mau bergerak berpindah pada hukum Allah yang sempurna dan paripurna. Setiap detik dan setiap saat kita menyaksikan kejamnya kebijakan penguasa dan kita pun merasakan itu. Padahal semua aspek kehidupan rakyat sama sekali tak ada andil serius dari penguasa. Lihat saja pendidikan, kesehatan, bahkan pekerjaan diberikan kepada pihak swasta. 


Generasi Masa Islam 


Pemuda adalah tonggak perubahan dari merekalah lahir para kesatria sejati, kepekaan terhadap problem umat, daya analisa yang tinggi, serta idealisme yang kuat mampu membuat arah perjuangan pada level perubahan sejati. Yakni, menuju Islam kafah dalam naungan negara khilafah. 


Islam mewajibkan aktivitas amar makruf nahi mungkar, yakni mendakwahi umat di tengah kemerosotan sebab jauh dari aturan Islam, termasuk mengoreksi para penguasa yang bertindak dzalim kepada rakyat melalui kebijakan yang disahkan oleh tangan-tangan mereka. Bukan dengan membungkam suara umat dan berbuat anarkis. 


Negara khilafah senantiasa membentuk para pemuda dengan basis pendidikan akidah Islam, sehingga mewujudkan kesadaran politik dan mampu mengarahkan pada perubahan yang sejati serta memperjuangan rida Illahi. Tidak hanya sekedar luapan emosi semata dan berbuat anarkis tanpa hasil yang nyata. 


Sejenak kita menoleh pada masa sahabat terdahulu, mereka menjadi pemuda yang taat, shaleh, menjadi agen perubahan untuk kemaslahatan umat. Seperti Ali Bin Abi Thalib, yang rela berkorban dan bersedia menggantikan posisi Rasulullah saw. di atas ranjang demi kelangsungan dakwah nabi Muhammad saw.. Selain itu, masih banyak dari sahabat yang lain diusia yang relatif muda, mereka gagah berani dalam medan jihad demi tegaknya kalimatullah. 


Namun, berbeda dengan generasi sekarang yang hidup dalam kemewahan dan kesenangan, susah diajak bergerak dan berpikir politis. Bahkan, aturan kehidupan yang hari ini di adopsi mengaburkan arah perubahan sejati. Solusi ganti pemimpin, dan memberlakukan kebijakan yang pro rakyat menanggap itu adalah solusi, padahal selama sistem demokrasi kapitalis menjadi aturan kehidupan, kesejahteraan jauh panggang dari api. Wallahualam bissawab. [EA/MKC]