Alt Title

Fenomena Bunuh Diri: Cermin Gagalnya Sistem Sekuler

Fenomena Bunuh Diri: Cermin Gagalnya Sistem Sekuler



Fenomena tersebut menggambarkan bahwa kepribadian yang rapuh pada remaja menjadi faktor pendorong melakukan bunuh diri

Hal ini menjadi bukti lemahnya akidah anak


__________________________


Mukhlisatun Husniyah 

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, OPINI - Kehidupan ini penuh dengan ujian. Setiap orang akan menghadapi ujiannya dengan berbagai cara sesuai kemampuannya. Adakalanya, bagi orang yang merasa cemas dan tidak mampu melalui ujian akan mengalami depresi dan gangguan kesehatan mental.


Akibatnya, sebagian orang lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya. Selain banyaknya persoalan, seperti tekanan dan tuntutan ekonomi, lemahnya iman juga menjadi penyebab seseorang mengambil jalan pintas tersebut. Tidak hanya kalangan orang dewasa, bahkan anak pelajar mudah melakukan bunuh diri.


Belum lama ini, dua siswa SMP di Kecamatan Barangin, Kota Sawahlunto, Sumatra Barat, ditemukan bunuh diri di sekolah. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara oleh kepolisian, tidak ada dugaan tindakan bullying. Satu siswa ditemukan tergantung di ruang kelas pada siang hari, sedangkan siswa bernama Arif ditemukan tergantung di ruang OSIS, pada malam hari. (Kompas.id, 30-10-2025)


Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merasa prihatin atas terjadinya dua kasus dugaan bunuh diri yang melibatkan pelajar. Dua peristiwa tragis ini seharusnya menjadi peringatan keras bagi pihak keluarga dan institusi pendidikan agar lebih memperhatikan kesehatan mental anak dan remaja. (mediaindonesia.com, 31-10-2025)


Pada dasarnya, kasus bunuh diri marak karena berbagai faktor internal, seperti gangguan kesehatan mental, harga diri yang rendah, perasaan putus asa, perasaan kesepian, impulsif (bertindak tanpa berpikir panjang), dan pengalaman traumatis. Selain itu, juga disebabkan faktor eksternal seperti masalah keluarga, tekanan akademik, bullying, masalah dengan teman, pengaruh media sosial yang memberikan standar tidak realistis, penyalahgunaan zat adiktif, dan faktor sosial ekonomi.


Bunuh diri terjadi ketika seseorang merasa sangat tertekan oleh masalah yang dirasa tidak mampu diatasi seorang diri. Adapun beberapa upaya pemerintah dalam menangani kasus bunuh diri pada pelajar tersebut dengan meningkatkan akses layanan kesehatan mental, penerapan sistem deteksi dini di lingkungan sekolah, program edukasi dan kampanye kesadaran, serta intervensi pasca-trauma.


Namun, dalam beberapa upaya ini pemerintah tak ada rencana terhadap peningkatan akidah pada pelajar. Di mana akidah merupakan hal yang sangat penting untuk seseorang dapat membuat pilihan yang tepat dalam kehidupannya. Meningkatnya angka bunuh diri di kalangan pelajar perlu dicermati lebih dalam.


Fenomena tersebut menggambarkan bahwa kepribadian yang rapuh pada remaja menjadi faktor pendorong melakukan bunuh diri. Hal ini menjadi bukti lemahnya akidah anak. Pendidikan berbasis sekuler yang telah merusak standar pencapaian akhir pada prestasi fisik dan mengabaikan nilai agama. Agama hanya diajarkan secara teori, tetapi tidak memberikan pengaruh yang kuat pada anak.


Paradigma batas usia anak juga berpengaruh. Pendidikan dalam kapitalisme menganggap anak dikatakan dewasa ketika berusia 18 tahun. Alhasil, anak yang sudah balig tidak dibina untuk menyempurnakan akalnya sehingga mudah mengalami gangguan kesehatan mental. Gangguan mental adalah buah berbagai persoalan yang terjadi, mulai dari kesulitan ekonomi, konflik orang tua termasuk perceraian, hingga tuntutan gaya hidup, dan sebagainya. 


Berbagai faktor tersebut termasuk faktor non-klinis yang memengaruhi gangguan mental. Ditambah lagi dengan paparan media sosial terkait bunuh diri dan komunitas sharing bunuh diri yang makin banyak ditemukan. Oleh karena itu, akidah Islam menjadikan satu-satunya dasar pendidikan dalam keluarga, sekolah dan seluruh jenjang pendidikan sehingga anak memiliki kekuatan untuk bertahan dalam menghadapi berbagai ujian.


Adapun sistem pendidikan Islam bertujuan untuk membentuk pola pikir dan pola sikap Islam agar di dalam diri siswa terbentuk kepribadian Islam. Selain itu, anak yang sudah balig harus diarahkan untuk mematangkan kepribadian Islamnya.


Sayangnya, dalam sistem sekuler, pendidikan dipisahkan dari ilmu dan iman. Karena itu, lahirlah generasi yang tidak berasaskan Islam dalam menjalani kehidupan sehari-harinya. Wajar, banyak di antara mereka yang tidak memiliki tujuan dan arah dalam hidupnya, mudah putus asa, serta terganggu mentalnya.


Dalam pandangan Islam, bunuh diri termasuk dosa besar. Haram untuk dilakukannya sebagaimana firman Allah Swt.: "Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yang demikian itu amat mudah bagi Allah."  (TQS. An-Nisa: 29-30)


Selain itu, banyak hadis Nabi Muhammad saw. yang melarang keras bunuh diri dan menjelaskan konsekuensi beratnya di akhirat salah satunya, yaitu: Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa bunuh diri dengan (senjata) besi, maka besi itu akan selalu ada di tangannya, ia menusuk perutnya dengan besi itu di neraka Jahannam, ia kekal di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa bunuh diri dengan minum racun, maka racun itu akan selalu ada di tangannya, ia meminumnya di neraka Jahannam, ia kekal di dalamnya selama-lamanya. Barangsiapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka ia akan selalu menjatuhkan dirinya di neraka Jahannam, ia kekal di dalamnya selama-lamanya." (HR. Muslim)


Begitu mengerikan ancaman dan balasan terhadap seseorang yang bunuh diri. Oleh karena itu, dibutuhkannya penerapan sistem Islam di mana pendidikan yang menguatkan akidah terlebih dahulu agar mencegah seseorang tidak mudah menyerah dan memilih bunuh diri saja.


Dengan demikian, melalui penerapan sistem Islam menjadi pencegah terjadinya gangguan mental, sekaligus memberikan solusi tuntas. Karena Islam mewujudkan kesejahteraan secara menyeluruh, seperti jaminan kebutuhan pokok, keluarga harmonis, juga arah hidup yang benar sesuai tujuan penciptaan. 


Dalam hal pendidikan merangkum kurikulum yang memadukan penguatan kepribadian islami (karakter) dengan penguasaan kompetensi ilmu sehingga pelajar mampu menyikapi berbagai persoalan kehidupan sesuai aturan Allah Swt..


Dengan penerapan syariat Islam secara kafah, negara akan menjadi pelindung ilmu, penjaga adab dan penegak peradaban yang memuliakan manusia. Kemudian akan lahir generasi ulama dan mujahid. Generasi pemimpin dunia yang menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Wallahualam bissawab.[Dara/MKC]