Alt Title

Bandung Zero Bulying: Bisakah?

Bandung Zero Bulying: Bisakah?




Bandung zero bullying ini akan bisa terwujud jika semua lini masyarakat sadar akan dampaknya

Kemudian, berpikir untuk mencari solusi yang tepat untuk mengakhiri maraknya kasus bullying ini


_________________________


Penulis Heni Syarifah

Kontributor Media Kuntum Cahaya 


KUNTUMCAHAYA.com, ANALISIS - Beberapa tahun belakangan ini, mengalami banyak perubahan yang sangat beragam ditengah kehidupan bermasyarakat. Setelah masa pandemi terlewati, selanjutnya kita menghadapi dampak yang sangat terasa perubahannya. Perubahan pada generasi yang sangat menyita banyak perhatian publik.


Sampai saat ini hal tersebut seolah masih menjadi PR untuk segera diselesaikan. Bagaimana tidak, kita menghadapi dimana kasus bullying di tengah masyarakat terutama dunia pendidikan yang tidak ada habisnya. Terus menerus muncul kasusnya sehingga menarik perhatian masyarakat dan pemerintahan setempat.


Kasus bullying yang ada, khususnya di kota Bandung menimbulkan kekhawatiran orang tua dan masyarakat. Karena bisa jadi, sekolah yang harusnya menjadi tempat teraman kedua setelah rumah malah menjadi tempat potensi terjadinya bullying.


Seperti kasus bullying terhadap seorang siswa salah satu SMP di kota Bandung. Sebanyak lima orang anak berhadapan dengan Hukum (ABH) oleh Satreskrim Polrestabes Bandung dalam kasus bullying atau perundungan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Bandung. Sedangkan dua orang lainnya masih dalam pemeriksaan.(sumber : pikiran rakyat.com).


Ada juga kasus yang lain, seorang pelajar SMP mengalami kekerasan verbal dan fisik. Dalam video yang beredar, 6 pelaku memukul dan menendang korban berulang kali hingga korban berteriak minta ampun dan merintih kesakitan. (sumber: Tribun Jabar id). Kasus serupa dipastikan akan terus terulang jika memang tidak ada tindakan yang serius dari ruang lingkup keluarga, masyarakat hingga yang utama dari pemerintahan. 


Dari kasus bullying inilah yang mendorong pemerintah kota Bandung berkomitmen untuk menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi anak-anak melalui deklarasi zero bulying. Hal ini dilakukan dengan cara memperkuat perlindungan dan edukasi bagi anak-anak agar tidak menjadi korban maupun pelaku kekerasan. 


Selain itu, wali kota Bandung juga memandang bahwa bentuk perundungan tidak hanya terjadi secara langsung, tapi juga melalui dunia digital. Sehingga perkembangan teknologi perlu mengimbangi dengan literasi yang baik agar tdiak disalah gunakan untuk bullying. (jabarprov.co.id, 24-02-2025)


Yang menjadi pertanyaan besar. Apakah program zero bullying ini merupakan tidakan yang bisa memberikan solusi yang tepat untuk masyarakat dalam meangani kasus bullying? Jika ditinjau dari maraknya kasus ini, ternyata pelaku dan korbannya kebanyakan masih dibawah umur atau masih kategori remaja yang umumnya masih dalam pantauan keluarga dan orangtua.


Penyebab umum terjadinya pembulian adalah sebagai berikut:


1. Pengaruh gadget yang memberikan efek perubahan perilaku pada remaja juga bisa menjadi penyebab yang utama yang berhasil menghilangkan rasa kemanusiaan, rasa menghargai, dan empati. Diakibatkan juga dari banyaknya konten unfaedah sampai tayangan kekerasan yang sangat mudah diakses.


Banyaknya orang tua yang memberikan gadget pada anaknya tanpa disertai pengetahuan agar bijak mengunakannya. Dalam Islam, keluarga adalah jembatan menuju kebaikan dunia dan akhirat. Peran orang tua, dalam keluarga Islami akan selalu berhati-hati dalam memberikan tayangan kepada anak. Karena, dampak yang ditimbulkan dari penggunaan gadget yang berlebihan bisa fatal


2. Pengawasan orang tua yang hilang. Banyaknya orangtua yang lepas pengawasannya saat putra putrinya beranjak pada usia remaja. Hubungan yang kurang harmonis dan komunikasi yang tidak sehat menjadikan hubungan antara orangtua dan anak seperti memiliki jarak. Sehingga orangtua tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan anaknya, begitupun sebaliknya. Islam mengajarkan kepada kita pentingnya melaksanakan peran sebagai orangtua dan peran sebagai anak. Sehingga terciptalah keharmonisan dalam rumah tangga.


3. Pergaulan yang tidak memiliki batas. Seperti kita ketahui bahwa dalam hal apapun manusia harus berpegang pada suatu aturan agar mencegah terjadinya kerusakan. Begitupun dalam pergaulan. Jika tidak dibatasi, kerusakan dan kehancuran siap menunggu di depan mata.


Hilangnya moral dari generasi ini bisa jadi karena hilangnya aturan yang seharusnya menjadi rel dalam pergaulan. Akibatnya, mudah sekali mengambil jalan kekerasan untuk meluapkan emosi sesaat. Islam merupakan rambu-rambu yang ideal untuk pengaturan kehidupan manusia. Jika diterapkan, akan mencegah kerusakan generasi.


4. Normalisai hal-hal negatif. Banyaknya kasus bullying ini disebabkan ketidakseriusan dalam menanganinya. Akan menjadi semakin gawat jika kasus ini dianggap menjadi hal yang sudah biasa sehingga menjadi terbiasa dikalangan pendidikan maupun lingkungan masyarakat. Jika lingkungan masyarakat mengadopsi Islam sebagai aturan yang ideal, akan tercipta amar makruf nahi mungkar.


Akankah Terwujud Zero Bullying?


Tentunya, Bandung Zero Bullying ini akan bisa terwujud jika semua lini masyarakat sadar akan dampaknya. Kemudian, berfikir untuk mencari solusi yang tepat untuk mengakhiri maraknya kasus bullying ini.


Islam memiliki solusi atas problematika umat jika kita mau memandang agama Islam ini secara ideologis. Karena, bahwasannya segala yang diturunkan dari Sang Pencipta merupakan bentuk solusi dalam kehidupan umat. Pada dasarnya Islam selalu memiliki cara untuk mencegah terjadinya keburukan kekacauan di dunia ini. Islam mengatur bagaimana hendaknya seorang muslim bertuturkata.


Dalam potongan hadis yang artinya: Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam. (Riwayat Bukhari dan Muslim)


Menjelaskan bahwa seorang muslim jika dia menyatakan dirinya iman kepada Allah maka dia akan selalu berhati-hati dalam berbicara. Jika hal ini kita terapkan kepada anak-anak kita tentu, mereka akan terhindar dari perkataan yang tidak bermanfaat.


Dijelaskan juga dalam QS. Al-Hujurat ayat 10: Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah kedua saudara kalian, dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian mendapatkan rahmat.


Pada ayat ini, jelaslah bahwa Islam adalah agama yang mengatur dalam hubungan antar kaum muslimin agar menubuhkan rasa kasih sayang terhadap saudaranya. Ajakan senantiasa bertakwa kepada Allah merupakan misi umat Islam yang harus dicapai pada kehidupan ini.


Kembali pada Hukum Buatan Sang Pencipta


Begitu banyak ayat dan hadis yang mengatur kehidupan kita agar terhindar dari kerusakan yang menggerogoti moral generasi. Bayangkan, jika kita semua berlapang hati menerima dan melaksanakan hukum yang Allah turunkan kepada manusia. Pasti Allah akan melindugi umat dan generasi kita saat ini dari pengaruh yang sengaja diciptakan barat untuk semakin menjauhkan ajaran Islam dari umat Islam itu sendiri.


Rasulullah saw merupakan role model umat Islam dalam menjalankan kehidupannya. Seorang muslim pasti akan kagum ketika kembali membaca kisah tentang pelecehan atau pembulian seorang muslimah di Bani Qainuqa yang akhirnya Rasulullah menanggapi hal tersebut dengan serius dengan mengerahkan pasukannya memberi pelajaran kepada kaum yang menjadi tersangka dalam kejadian tersebut. Tent, banyak hikmah dari sejarah tersebut salah satunya agar tidak terjadi lagi hal demikian.


Menuntaskan masalah keumatan seperti ini merupakan tugas utama pemimpin. Pemerintah dalam melaksanakan kepemimpinannya wajib untuk mengembalikan permasalahan umat pada solusi tuntas yaitu pada hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadis. 


Hendaklah para pemimpin di negeri ini memposisikan dirinya sebagai umat yang bertakwa kepada Allah SWT. Sehingga tidak ada keraguan untuk mengadopsi hukum yang diturunkan Allah untuk mengatur kehidupan manusia. Wallahualam bissawab. [Dara/MKC]